RUANG ISOLASI UNTUK SI GILA

KOMPAS: Ahad, 30 November 2014

Oleh: Han Gagas

RUANG ISOLASI UNTUK SI GILA (KOMPAS)

RUANG ISOLASI UNTUK SI GILA (KOMPAS)

BEGITU bangun Marno berada di ruang isolasi, ruang yang sesungguhnya hanya untuk orang-orang skizofrenia akut yang suka mengamuk dan pernah membunuh. Ruang sempit itu hanya bisa untuk duduk dan berdiri, tak bisa buat terlentang, lantainya dari semen kasar, tanpa instalasi air, dan WC. Artinya, di sini pula nanti Marno berak, kencing, dan makan.

Sempitnya ruang itu sangat menyiksa Marno, ditambah kegelapan dan udara yang lembab. Dindingnya terasa basah dan dingin seakan dibaliknya ada genangan air. Melalui cahaya yang melintas lewat lubang kecil seukuran tikus di bawah pintu, Marno memperkirakan waktu. Perutnya sudah lapar, tubuhnya gemetar, ia memperkirakan sudah seharian berada di ruang sempit gelap ini tanpa makan. Bau kencing menusuk hidungnya, sebelum sadar, pasti tadi dia ngompol.

Tak ada suara, tak ada yang terdengar kecuali hembusan angin yang masuk melalui lubang itu, desisnya seperti bunyi angin yang dihembuskan kipas angin. Saat sorot terang menyelinap melalui lubang itu, Marno mendengar langkah mendekat, cahaya mengerjap-ngerjap.

”Siapa di dalamnya?”

”Hanya orang idiot yang membunuh orang, kemarin dia menusuk mata si usil,” jawab temannya.

”Si usil yang suka bikin ribut itu?”

”Ya.”

”Apa lagi tentangnya?”

”Kabarnya dia keturunan komunis?”

”Apa orang komunis masih ada di negara kita?”

”Itu yang ada di arsip.”

”Aku tak percaya!”

”Aku juga.”

”Lalu apa yang kau percaya?”

”Tak ada.”

”Kasih rokok.”

Sinar yang berasal dari senter itu kembali mengerjap-ngerjap memasuki lubang seakan sebagai penanda, Marno memerhatikan apa yang bakal terjadi. Seorang petugas mengangsurkan sebungkus nasi, dan melemparkan sebatang rokok kretek dan korek api.

”Nikmatilah kawan. Kau tak akan mati di dalamnya. Belajarlah menahan diri. Lusa kau akan keluar, jangan banyak berulah!” Teriak seseorang.

Marno menangkap rokok itu, dan menyulutnya dengan korek, api mengerjap sebentar lalu mati. Kembali ia nyalakan korek, menerangi sebentar keempat dindingnya yang tinggi, ia sedot rokoknya dan memasukkan asapnya dalam-dalam hingga paru-paru, ia merasa tubuhnya mulai menghangat.

”Mendengar cerita suster kepala, aku lebih percaya, jika dia dianggap teroris atau kriminal.”

”Aku lebih percaya lagi, jika dia hanya orang idiot yang suka mengamuk.”

”Kenapa tak diborgol saja di bangsal, dan disendirikan dulu. Kata suster yang baru tampaknya dia sangat sensitif. Si usil itu menekannya, perlu juga bajingan itu masuk ICU, atau buta sekalian, biar tak bikin ulah!”

”Hahaha, apa matanya tak bisa sembuh?”

”Kabarnya sulit, bayangkan saja, sebuah garpu ditusukkan dari jarak dekat tepat ke bola matanya, ah sudahlah.”

”Ada gunanya juga si idiot ini.”

”Hahaha, iya bahkan kukira dia tak perlu masuk sini.”

”Tampaknya dokter salah diagnosa lagi.”

”Husss!”

Percakapan itu mulai menghilang seiring ketukan langkah mereka yang menjauh, gemanya seolah memenuhi semua ruangan, menjadi satu-satunya suara yang ada.

Makin malam, ruang isolasi seperti kulkas, dinding-dinding terasa menghembuskan udara dingin yang menusuk tulang. Marno menggigil, rahangnya beradu membuat kedua pasang giginya bergemeletuk karena gigil dingin yang tanpa ampun. Kalau seperti itu, ia akan menggeret korek apinya sekedar untuk menghangatkan jemarinya.

Sesekali karena ingin merasakan panas ia sen-
tuh bara api dari korek itu, kedinginan telah menumpulkan urat syaraf jarinya, kulitnya serasa menebal dan berkerut-kerut karena terlalu lama basah, bara itu tak membuat jarinya kepanasan, hanya terasa hangat. Satu demi satu ia geret korek itu, merasakan sensasi hangat dan memandang nyalanya yang membuat kegelapan terusir sebentar.

Tak sampai tengah malam isi korek api habis, menyisakan kepingan-kepingan hitam dari batangnya yang mengabu. Marno duduk meringkuk, tangannya bersidekap seolah ingin melindungi degup jantungnya yang lemah. Air mata merembes keluar dari sudut matanya. Rasa dingin dan sakit membuatnya menangis tanpa suara.

Saat petugas shift pagi mengantarkan makanan dan tak ada suara sedikitpun yang terdengar dari ruang isolasi, si petugas dengan kesal membuka engsel pintu.

”Kau pura-pura sakit, sudah mati heh!”

Marno mencoba bergerak, namun tubuhnya sangat lemah, hanya untuk sekedar menggerakkan tangan saja rasanya sangat sakit. Perih ngilu meradang di seluruh tubuhnya.

Dibantu tukang kebun, si petugas mulai mengambil selang, membuka
kran, dan menyemprotkan airnya ke tubuh Marno.

Marno mengerang kesakitan. Rasanya ia seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Perih nyeri merajam seluruh tulang! Gigilnya berlipat tanpa ampun. Rasa sakit tak tertanggungkan membuat tubuhnya gemetar hebat.

”Rasakan!”

Nyaris putus asa, Marno yang merasa dirajam oleh jarum-jarum air yang menusuk dingin, merasa tengah ditenggelamkan ke dalam lautan, napasnya megap-megap, dadanya sesak, Marno merasa tak bisa bernapas lagi.

”Tubuhmu bau!”

Si petugas tak peduli melihat Marno yang mengerang kesakitan, semprot-
annya makin kencang, tubuh itu meringkuk menyudut dengan tangan menutupi mulut. Airnya yang meluber meluap membawa abu korek, sisa makan, serta air kencing Marno mengalir ke got.

Si petugas tersenyum senang, air mukanya mengejek, puas. Seringai lebarnya bila dilihat lebih teliti tampak sangat mengerikan, barangkali iblis benar-benar merasuki jiwanya.

Melihat Marno yang terus diam tergeletak, tak berdaya, dan terlihat seperti sekarat, si tukang kebun bicara, ”Sudah cukup, kawan. Kalau mampus kita yang repot.” Namun ucapannya itu tak digubris, ”Sudah!” ia rebut selang itu, ”kalau mampus kita yang repot!” ulanginya dengan kesal.

Si petugas baru tersentak sadar, ia tendang punggung Marno, tubuh itu tetap diam tak bergerak. Dengan ujung sepatunya, ia gulingkan tubuh itu yang bergulir diam seperti gedebok pisang. Sedikit penasaran, ia tendang perutnya, Marno tetap tak bergerak.

”Aku panggil dokter. Kau bawa dia ke bangsal!”

Dengan susah payah, si tukang kebun mengangkat tubuh Marno dan menggeletakkannya di dipan beroda lalu mendorongnya menuju bangsal, melewati koridor yang panjang, bunyi engsel roda berderit-derit menggesek tegel lawas, menciptakan gema yang tak biasa, ternyata ruangan isolasi ini letaknya terpisah jauh dari bangunan utama rumah sakit jiwa, ada koridor penghubung yang panjang sejauh tujuh puluh meter dengan kanan-kirinya adalah taman tak terawat, pohon-pohon menjulang tinggi: beringin, akasia, lamtoro, dan mahoni, disertai belukar setinggi pinggul orang; seperti hutan kecil yang rimbun.

Awalnya, sebelum Marno dimasukkan ke ruang isolasi, rutinitas di bangsal khusus laki-laki berjalan seperti biasanya.

”Mari berdoa sebelum makan,” ajak suster.

”Idiot! Apa kau bisa berdoa, hahaha. Kabarnya kau keturunan komunis, apa yang kau bisikkan itu, Heh!” Kata seorang pasien dengan mata mendelik pada Marno, tangannya menuding, seolah hendak menusuk kedua mata Marno. Marno melihat dengan gusar, namun ia meredam kegusarannya, menundukkan kepala lagi.

Si usil itu duduk tepat di seberang meja Marno, ada dua pasien berjajar di sebelah kanannya, mereka semua menghentikan doa dan ikut menatap Marno, demikian pula dua pasien lain yang berjajar di samping kirinya, satu yang terdekat dengan si usil tampak menyeringai lebar, mukanya mengerut aneh, mengejek Marno, ”Muka jelek! Kau bisu ya?!”

”Selain bisu, tuli kali, hahaha.” sahut si usil.

”Diam!” seru suster dengan wajah cemberut, ”jangan merusak suasana,” lanjutnya.

Para pasien lain hanya nyengir, bau kencing menguar terhembus angin pasti dari kain seprai yang diompoli pasien. Dua pasien sebelah kanan si usil duduk dengan malas menatap makanan tanpa selera. Mereka, keempat lelaki itu, berambut awut-awutan dengan baju seragam yang kucel, sedang si usil tampak mencolok, baju seragamnya selalu rapi dan rambutnya kelimis mengilap karena diusap minyak rambut.

Marno mulai menyuapi mulutnya dengan sesendok nasi, masih dengan kepala yang menunduk, tampak tak ambil peduli, namun bila benar-benar diperhatikan matanya selalu awas jika terancam, barangkali itu sudah nalurinya, wataknya, yang terbentuk karena kerap terancam bahaya.

Si usil kembali memasang muka aneh, mengerut, mengejek Marno, ”Kau pembunuh, kau harusnya di penjara, bukan di sini!” pancingnya sekali lagi, ia belum puas jika yang diganggunya tak terpancing emosi.

Keempat pasien di sebelah si usil nyengir dan tertawa mengejek.

”Itu urusanku. Apa pedulimu!” Marno menyahut tegas.

”He Anak baru, jangan sok jagoan di sini!”

”Kau yang sok. Ini bukan penjara, kita semua orang gila.”

”Kau gila, kami semua yang waras, hahaha.” Hatinya senang, pancingannya berhasil.

”Kita semua gila, ayo kita makan, dan bila semua sudah kenyang kita bisa berkelahi bersama!” tantang Marno.

”Itu maumu, kalau kalah, kau harus menuruti kemauan kami, jadi kuda tunggangan kami, hahaha,” sahut si kelimis, mulutnya mengulum bibir, sinar matanya mengundang gairah namun bagi Marno itu menimbulkan rasa jijik yang luar biasa, ia tahu betul istilah itu, rasa jijiknya berubah jadi amarah.

”Anjing!” teriak Marno. Teriakan itu mengundang sejumlah perawat datang.

”Sudah… sudah, diam. Panggil satpam,” seru suster kepala. Namun seruan itu sudah terlambat, si usil meloncat di atas meja makan, mencengkram leher Marno.

”Cuihh,” Marno meludahi mukanya.

”Edan kamu!” tonjok si usil menghantam muka Marno membuat hidungnya berdarah.

Dengan cepat, Marno meraih garpu dan menusuk bola mata bajingan itu, raung kesakitan menyayat kencang, darah berleleran dari bulatan mata itu merembes mengalir dari ujung garpu yang terbenam. Kejadian itu berlangsung dengan cepat, dan tak bisa dipercaya oleh siapapun bahkan oleh Marno sendiri, dengan raut muka setengah tak percaya dia menarik garpu itu yang justru membuat bola mata itu tertarik keluar. Bajingan itu mengerang kesakitan lagi, tubuhnya meregang tak kuasa menahan nyeri sakit perih yang tanpa ampun.

Saat demikian dari arah belakang Marno disergap, dan dihantam kepalanya, ia diseret ke ruang isolasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: