Jumat yang Mencerahkan

Junaidi Khab di Depan Lapangan Giling Sumenep Madura

Junaidi Khab di Depan Lapangan Giling Sumenep Madura

Hari itu, Jumat 19 Desember 2014 aku bersiap-siap berangkat ke masjid al-Taqwa dekat asrama tempatku bermukim di Surabaya. Perasaanku tiba-tiba terdorong untuk berangkat ke masjid. Aku tidak lupa memoleskan parfum ke seluruh baju siang itu sekitar pukul 11:25. Aroma wangi parfum itu pun menjadi penetral kamarku. Aku mengikuti kebiasaan nabi Muhammad Saw. yang selalu memakai wangi-wangian, sehingga beliau tampak segar dan cerah dengan kebiasaan baik itu. Aku ingin seperti itu meski kadang hidup memang tidak seharum parfum yang kupakai. Sebenarnya, aku menggunakan parfum bukan hanya ketika mau salat jumat, namun ketika mau melaksanakan salat dan mau bepergian untuk berkumpul dengan orang. Tujuannya agar orang di sampingku nanti tidak terganggu dengan aroma yang kemungkinan berasal dariku. Mungkin itu tujuan umum penggunaan parfum.

Ketika sampai di masjid, aku merasa senang, karena masih kebagian tempat di bagian bawa (lantai bawah) dan masih banyak yang longgar, tidak harus berebut tempat seperti sebelumnya. Aku hanya heran, kok bisa aku ini duduk di dalam masjid dan tempat-tempat duduk banyak longgar? Ternyata setelah kusadari, aku datang ke masjid lebih awal dari sebelumnya. Jika datang ke masjid lambat atau akhir, tentu kebagian tempat paling pinggir, atau harus naik ke lantai dua untuk salat. Itu masih mending kebagian tempat di pinggir atau harus naik ke lantai dua, parahnya jika tidak kebagian sama sekali dan tidak membawa sajadah, harus kebingungan. Jika membawa sajadah masih ada yang bisa dijadikan alas untuk salat.

Dari refleksi diri itu, aku menyadari bahwa aku belakangan ini sering datang terlambat atau akhir untuk salat jumat. Maka dari itu, sebagai peringatan terhadap diri sendiri dan bagi orang lain, datanglah lebih awal agar mendapat tempat yang layak dan baik dan salat kita tenang dan nyaman. Sekadar saran saja, jika mau melaksanakan salat berjamaah di masjid, bawalah sajadah, selain sebagai antisipasi tidak kebagian tempat, juga bisa dijadikan alas untuk salat nanti, baik digunakan bersama orang lain atau digunakan sendiri. Namun, sebaiknya jika membawa sajadah, gunakanlah sajadah itu dengan orang lain dengan cara digelar secara horizontal (miring) memanjang. Jika sajadah yang kita bawa digunakan bersama orang lain, perasaan kita akan damai karena telah mau berbagi. Buktikan saja sendiri.

Namun, jika kita sombong, ah sajadah ini aku yang punya, aku yang bawa, mengapa harus dihampar secara horizontal dengan orang lain? Perasaan sombong ini biasanya sering menjalari hatiku saat salat jumat. Hingga kadang pikiran masih melamun dan hati berbicara tentang egois penggunaan sajadah sendiri, meski sajadah itu milikku sendiri. Sebenarnya ada rasa kurang enak jika kita memiliki perasaan dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Buktikan saja, jika kita mau berbagi hamparan sajadah saat salat bersama orang lain, hati kita akan tenang dan nyaman. Tapi ingat, jangan sampai riya’ atau merasa baik dengan berbagi hamparan sajadah dengan orang lain, karena hal itu tidak baik bagi perkembangan sikap, sifat, dan perangai kita.

Hari itu, aku bingung, mau berbagi sajadah atau tidak. Akhirnya, aku egois pada diri sendiri, sajadah kugunakan untukku saja, kuhampar sajadahku secara vertikal. Hatiku terus bicara tak karuan. Sebenarnya ingin berbagi hamparan dengan orang, tapi kok tiba-tiba kupakai sendirian sajadak itu? Ya, pikiran terus berusaha menepis sifatku ini. Meski secara kepemilikan aku tidak bersalah, namun ada keganjilan dengan perasaan dan pikiranku karena aku tidak berbagi hamparan sajadah dengan orang lain. Perasaan itu muncul karena orang di sebelah kananku membagikan hamparan sajadahnya kepada orang yang di sebelah kanannya. Sementara aku tidak berbagi hari itu. Biasanya aku berusaha berbagi dengan orang lain. Ini yang mesti menjadi komitmenku. Kita tidak akan rugi jika berbagi hamparan sajadah dengan orang lain. Perasaan kita akan lebih nyaman dan tenteram. Itu mungkin berkah bersedekah meski hanya sekadar hamparan sajadah bagi orang lain.

Mari kita bersedekah dengan apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan dan kenyamanan orang lain. Maka dari sedekah itulah akan muncul banyak faedah. Meski bersedekah hanya sekadar hamparan sajadah dan hal kecil lainnya. Seperti membuangkan sampah pada tempatnya, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan tempat umum, dan lainnya. dengan sedekah sekecil apapun, kita akan mendapat balasan, yang bisa kita rasakan mungkin ketenangan jiwa dan ketenteraman hati ketika usai bersedekah. Bahkan berbuat baik juga tergolong sedekah, alias bersedekah jasa pada orang lain. Di sana juga kepuasan tersendiri dan pahala tentunya sudah mengikutinya.

Surabaya, 19 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: