Kegalauan Lebay Saat Presentasi Sociolinguistics

Junaidi Khab di Jombang, Datang Terlambat Saat Pernikahan Teman (20 Oktober 2014)

Junaidi Khab di Jombang, Datang Terlambat Saat Pernikahan Teman (20 Oktober 2014)

Rasanya hilang begitu saja apa yang telah kulakukan beberapa tahun ini. Aku tak ada apa-apanya jika melihat kejeniusan teman-temanku. Seakan, buku-buku yang telah kubaca tak memberikan apa-apa walau hanya sedikit. Aku menyadari bahwa aku tak begitu pintar atau cerdas tentang banyak hal, utamanya masalah teori dan materi kuliah. Tapi, aku ingin sekali memahaminya satu persatu. Entahlah, aku tampaknya makin hari makin bodoh saja. Tak ada sesuatu yang istimewa rasanya ketika satu kesalahan terjadi padaku. Sepertinya satu kesalahan itu menghapus segala prestasi yang pernah aku lakukan atau kubagikan dengan teman-temanku. Pikiran pesimis menyelimuti perasaan dan hatiku untuk menatap masa depan. Tapi, aku harus banyak belajar dari kesalahan yang telah kuperbuat. Kekecewaan ini harus segera terobati, aku harus banyak belajar, belajar, dan belajar!

Ah, buku yang banyak telah kubaca, ternyata masih belum ada apa-apanya jika dibanding dengan realita kehidupan yang akan kujalani ini. Namun setidaknya aku telah mengamalkan apa yang menjadi firman Tuhan pertama kali itu. Ah, semoga saja usahaku mengikuti firman-Mu tidak sia-sia belaka. Ya, aku tetap yakin, mengikuti segala firman-Mu akan mengantarkan diriku pada tempat yang layak, baik di dunia maupun kelak ketika aku telah tiada. Tapi, setelah kupikir-pikir, aku harus memilih yang mana? Hidup formal atau hidup atas kehendak dan keinginanku dalam berpikir dan melakukan sesuatu yang menurutku baik bagiku dan orang orang lain? Pilihan yang dilematis dalam mengarungi jalan terjal kehidupan ini.

Sejak awal aku menganggap kuliah sebagai sarana formal saja. Sementara untuk tetap belajar bisa dimana saja. Hasrat untuk terus belajar, membaca, dan menulis seakan menyepelekan kuliah dalam hidupku. Jika dilihat secara mendalam lagi, kuliah hanya pengenalan teori-teori dan pengekangan berpikir oleh para dosen-dosen. Itu yang menyembul dalam benakku. Tapi di lain sisi, kuliah juga penting, itu alasanku mengikuti jam kuliah. Aku hanya khawatir, kuliahku akan terlantarkan karena aku lebih memilih kebebasan diri dalam belajar, berpikir, dan berekspresi untuk mengungkapkan apa yang kurasakan.

Hari ini, Jumat, 06 Juni 2014 aku sudah presentasi outline materi Sociolinguistics untuk Ujian Akhir Semester (UAS). Ternyata kajian esaiku tak sesuai dengan kajian sociolinguistics. Ya, setelah kubaca lagi, ternyata kajiannya hanya lebih mengarah pada kajian Languistics (bahasa). Aku harus memperbaikinya agar tak salah arah antara kajian sociolinguistics dan bahasa. Hal ini yang menciutkan semangat bacaku dan semangat belajar yang lebih cenderung pada bahan bacaan yang tidak mengacu pada materi kuliah. Aku suka membaca buku-buku dan bahan bacaan yang membuat diriku nyaman dan penuh dedikasi untuk menatap kehidupan ini agar lebih luas.

Jika aku ditanya tentang teori untuk suatu penelitian, menjawabnya sangat sulit. Aku tak begitu paham dengan teori-teori sebagaimana banyak yang digunakan dalam penelitian dan penulisan skripsi. Ah, aku jadi malu pada diriku sendiri juga pada orang-orang yang telah mempercayai keilmuanku. Aku harus memberikan jawaban apa pada mereka jika aku ditanya tentang kuliah? Sangat membingungkan. Tapi akan kujawab saja dengan jawaban yang universal, bahwa hidup ini bukan hanya itu-itu saja. Aha, tapi aku seakan menyepelekan mereka yang semangat belajar di bangku kuliah dan di tempat-tempat formal seperti sekolah-sekolah yang berbayar mahal itu.

Ya, aku kuliah juga harus belajar. Aku tak akan memandang tempat untuk belajar yang menganggap kuliah tak ada maknanya. Kuliah juga merupakan sarana untuk belajar. Namun, kadang-kadang pikiran jahat lebih mendominasi dengan memberikan makna pada kuliah hanya sebatas formalitas saja. Ya, begitu kiranya anggapanku yang selama ini meracuni pikiranku. Satu alasan yang menyudutkan kuliah sebagai formalitas saja bagiku, yaitu HANYA DEMI IJAZAH dan MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS).

Dengan IJAZAH dan jabatan sebagai PNS, banyak mahasiswa yang berharap dapat kerja dan upah yang datang begitu saja. Pikirnya, dengan IJZAH dan jabatan PNS tidak harus kerja kerasan untuk mendapatkan upah (uang). Ini sebenarnya yang menjadikan generasi bangsa masa depan bermalas-malasan untuk bekerja, sehingga banyak orang yang melakukan korupsi.Tapi, aku tak hanya mau yang itu-itu saja dari bangku kuliahku. Aku mau yang lebih dari itu semua.

Surabaya: Jumat, 06 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: