Beramal Jariyah di Setiap Tempat

Oleh: JUNAIDI KHAB*

Junaidi Khab di Depan Poster Bekantan Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur

Junaidi Khab di Depan Poster Bekantan Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur

Surabaya – Hari ini, Jumat, 12 Desember 2014 aku mengikuti khutbah Jumat dan salat Jumat berjama’ah di Masjid al-Taqwa Jemurwonosari Gg. Lebar. Aku duduk di bagian sisi selatan masjid dengan memegangi sajadah. Aku berusaha menyimak setiap khutbah yang disampaikan oleh khatib di mimbar. Aku kadang tidak konsentrasi menyimaknya berhubung mata melihat orang-orang yang berjalan dan terlambat masuk masjid.

Tapi, secara umum aku memahami dari keseluruhan isi khutbah pada saat itu. Maksud khutbah tersebut yaitu agar kita beramal jariyah, yakni amal yang pahalanya tidak pernah putus. Seperti membangun masjid, membangun sekolah, membuat sumur untuk umum, dan mengajar sebanyak mungkin agar ilmu yang kita miliki bisa bermanfaat bagi umat manusia. Sehingga dengan amal perbuatan tersebut, kita memiliki aset yang bisa menghasilkan pahala meski kita telah tiada.

Ada satu hal yang sangat aku ingat dari khutbah tersebut, yaitu tentang kebebasan masjid masyarakat umum. Sebelumnya, ideku juga demikian. Supaya setiap masjid pintu gerbangnya tidak dikunci. Masjid merupakan tempat yang bisa dijadikan untuk sekadar beristirahat, salat, belajar, atau bahkan untuk sekadar buang hajat kecil atau besar. Intinya, ide khutbah tersebut menegaskan bahwa masjid harus terbuka dua puluh empat (24) jam untuk masyarakat.

Di sinilah fungsi takmir untuk mengelola dan menjaga masjid. Satu alasan masjid harus dibuka 24 jam untuk masyarakat umum, karena dana yang digunakan membangun masjid merupakan sumbangan sosial dan sadaqah masyarakat yang mengharapkan memiliki sadaqah jariyah dari sumbangannya tersebut. Sangat tidak elok jika masjid yang dibangun atas sumbangan dana sosial tidak dibuka 24 jam bagi masyarakat.

Jika masjid hanya digunakan untuk salat, lalu masjid-masjid akan kehilangan jati dirinya sebagai jalan amal jariyah bagi mereka yang berinfaq. Padahal infaq itu merupakan sumbangan sosial yang diberikan kepada masjid agar dikelola dengan baik dan digunakan untuk kepentingan bersama. Masjid bukan hanya miliki perorangan, tapi masjid adalah miliki masyarakat umum dan dananya juga berasal dari sumbangan sosial. Begitulah kiranya masjid difungsikan sebagaimana mestinya, yaitu untuk kepentingan orang banyak.

Secara tidak langsung, khutbah tersebut ingin mengingatkan bahwa agar masjid-masjid mewah dengan takmirnya di kota terbuka 24 jam untuk masyarakat umum. Masjid merupakan tempat teduh yang dibangun atas dana sumbangan sosial, sehingga salat keliru jika hanya dibuka tidak sampai 24 jam. Hal ini sangat memalukan. Amal jariyah di masjid yang berasal dari sumbangan masyarakat tidak berfungsi secara maksimal, jika masjid sering tutup, alias digembok.

Jangan Menginjak Sandal (Alas Kaki) Orang Lain

Selain itu, khutbah tersebut mengingatkanku pada kenangan masa silam. Sang khatib mewanti-wanti agar masjid dibuka 24 jam. Lalu aku melihat tumpukan sandal yang diinjak oleh orang yang bukan pemiliknya. Dulu, waktu aku masih sekolah, di langgar/ musolla tempat aku mengaji dan belajar pernah diingatkan oleh ustadku sekaligus sepupuku, Thohir Mu’thi. Dia   berkata:

“Kamu jangan sekali-kali menginjak sandal orang lain. Tentu, jika kamu menginjak sandal orang lain secara sederhana telah mengotorinya, dan otomatis orang yang punya sandal jengkel atau marah karena sandalnya kotor”.

Peringatan tersebut tidak pernah terlupakan saat aku melihat sandal dimanapun agar tidak menginjak sandal orang lain. Peringatan semacam ini perlu diketahui oleh masyarakat umum agar tidak menginjak sandal orang lain. Tentu orang yang punya sandal resik jika sandalnya yang bersih tiba-tiba kotor karena diinjak oleh orang lain. Kebiasaan menginjak sandal biasanya banyak dilakukan oleh orang-orang kota yang mayoritas apatis dan tidak peduli dengan orang lain.

Mungkin orang yang mudah menginjak sandal orang lain tidak pernah memikirkan orang lain, yang dipikirkan hanya dirinya sendiri. Sehingga tanpa berdosa sandal-sandal yang berjejer diinjak atau ditumpangi sandalnya sendiri. Cara demikian jangan sampai menjadi kebiasaan yang terus mendarah daging. Kita juga harus menghormati orang lain walau hanya sekadar tidak menginjak sandalnya. Sebenarnya hal ini sangat sepele, namun terus terang jika sandalku kotor ada yang menginjak, hati kecilku berkata “Siapa sih kok sembarangan berjalan?”. Kalimat itu muncul dalam lubuk hatiku, namun aku berusaha sabar dengan kenyataan tersebut. Namun kebiasaan menginjak sandal orang lain jangan sampai menjadi kebiasaan. Kita harus belajar tidak mengotori kepunyaan orang lain dengan ulah atau cara kita.

Dalam menjalani hidup ini, kita harus hati-hati jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain jika kita tidak ingin diganggu juga oleh orang lain. Masih seputar sandal. Pernah pada hari sebelum hari Jumat, 12 Desember 2014 aku mengikuti acara tasyakuran yang diadakan oleh Marlaf Sucipto di serambi depan masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Tepatnya pada tanggal 10 Desember 2014 setelah salat esa’.

Ini masih terkait kejadian orang yang tidak peduli dengan kepemilikan orang lain (sandal) di halaman. Setelah usai membaca do’a, teman-temanku makan. Kemudian setelah selesai makan, mereka cuci tangan dan minum. Ketika aku melihat-lihat, ternyata ada satu orang teman yang cuci tangan tepat di atas sandal, jika tidak salah bermerk sekelas Carvil. Aku sangat jengkel meski sandal itu bukan milikku. Aku hanya berpikir, bahwa orang itu tidak bisa menghargai perasaan orang lain. Cuci tangan sembarang tepat di atas sandal. Duh, sangat menjengkelkan kelakuan demikian. Apa dia tidak punya otak? Tentu dia punya, tapi tidak difungsikan sebagaimana mestinya untuk berpikir dan membedakan hal-hal yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan.

Maka dari itu, kita jangan sekali-kali menginjak sandal orang lain. Begitu pula jangan sampai menyentuh atau menodai sandal (kepemilikan) orang lain. Sebagai suatu etika bahwa kita masih mempunyai hati dan otak untuk saling menghargai, mengerti, dan tidak sembarangan dengan milik orang lain. Aku sendiri jika sandal diinjak orang, perasaan sangat jengkel, namun kusimpan saja dan kuluapkan dalam bentuk kesabaran.

Surabaya, 12 Desember 2014

2 Responses to Beramal Jariyah di Setiap Tempat

  1. Pingback: Hakikat Menjadi seorang Penulis | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: