Skripsi, Hujan, Nasi, dan Tulisan yang Pasi

Oleh: JUNAIDI KHAB

Aku (Junaidi Khab) di Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur ketika Hunting Foto pada Acara Workshop Fotografi dan Kepenulisan oleh Kompas Kampus

Aku (Junaidi Khab) di Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur ketika Hunting Foto pada Acara Workshop Fotografi dan Kepenulisan oleh Kompas Kampus

SURABAYA – Di hari yang serba mendung ini, aku tidak begitu banyak punya pekerjaan selain memang hanya membaca buku dan menulis. Atau sekadar bersantai ria dengan huruf-huruf yang berserakan di dalam otakku. Lalu huruf-huruf itu kususun menjadi sebuah kata, kalimat, dan paragraf, maka jadilah tulisan yang berupa esai, catatan, resensi, opini, atau cerpen. Kesempatan kali ini aku tidak begitu terlalu keras memeras otak untuk menemukan ide baru dalam menulis. Aku ingin meringankan pikiran terlebih dahulu untuk memasuki dunia aksara dan kata dalam tiap lembaran skripsi Strata Satu-ku yang tidak cepat selesai ini. Sungguh sangat membosankan ketika dihadapkan dengan transcribing wawancara yang begitu panjang.

Namun tidak masalah bagiku. Hasil wawancaraku itu memang sangat panjang, sepanjang mimpiku untuk menelusuri secara menyeluruh tentang pulau yang kujadikan tempat lahir tempo dulu. Oh, bukan kujadikan tempat aku lahir, tapi Tuhan menempatkanku di sana sejak aku lahir. Renungan ini mungkin bisa memberikan gambaran kehidupan sehari-hariku ketika berada di Surabaya saat mengerjakan tugas akhir kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya. Kadang memang kegundahan selalu menyertai hari-hariku, namun segera kutepis dengan membaca buku atau menulis beberapa artikel atau esai ringan yang bisa menjadi teman harian. Aku tak pernah luput dari dunia aksara ini, kapanpun dan dimanapun aku selalu berusaha menemukan banyak ide dan gagasan cemerlang.

Hari ini benar-benar tidak ada yang dapat kuperbuat kecuali membuat sebuah catatan atas kegundahanku. Mau melanjutkan menyalin hasil wawancara tentang bahasa Madura hati masih berat sekali. Terasa capek dan malas sekali. Ini penyakit yang selalu menusuk otak dan hati nuraniku. Aku berusaha membuang jauh-jauh dengan menuliskannya membentuk catatan mini ini. Skema atau ancang-ancang untuk melanjutkan skripsi yang tinggal bab III ini sebenarnya sudah ada, hanya transcribing hasil wawancara yang menjadi kendala utama yang melahirkan sifat malas dalam diriku.

Akhirnya sambil menikmati rintik-rintik hujang bersama Najiburrahman (Sampang) dan Sofyan (Sumenep), nasi satu talam habis dilahap bersama, hanya tersisa butir-butir nasi kecil, plastik, kreksek, dan sisa sambal yang super enak dan lezat yang membuat aku ketagihan untuk membeli lauk di warung yang satu itu. Nikmat rasanya, hujan-hujan yang mendinginkan kota Surabaya terasa lebih menyejukkan dan mendamaikan hati. Sedikit keringat yang mengucur hari ini, suasana menjadi sejuk sejak beberapa hari ini Surabaya dilanda hujan dan mendung yang berkepanjangan. Jika dihitung, mendung lebih mendominasi akhir-akhir ini. Mungkin memang sudah waktunya tiba musim penghujan, sehingga awan-awan itu berarak menaungi kota Surabaya.

Aku berandai, jika Surabaya dingin seperti kota Batu, Trawas, Tretes, Pacet, Claket, atau daerah dingin lainnya, betapa gemuknya tubuhkua, dan betapa sehat serta segarnya badanku. Aku mengaharapkan hal demikian, hingga harapanku ini kujadikan sebuah cerita pendek yang menarik. Di Surabaya sampai hujan es dan berubah menjadi kota salju. Harapan yang mustahil, namun akan menjadi nyata jika Tuhan telah berkehendak.

Nah, di tengah kegundahanku untuk melanjutkan skripsi bab III ini, selalu ada saja yang mengganggu. Mulai mau nonton film kartun (Despicable Me), hollywood, bollywood, atau mendengarkan lagu India yang dikutip dari film Rab Ne Bana Di Jodi yang dibintangi oleh Sharukh Khan. Aku menemukan kisah yang menyatakan bahwa sangat sulit sekali jika suatu pernikahan yang menentukan jodoh adalah orang tua. Kehidupan rumah tangga butuh bertahun-tahun lamanya untuk menyatu. Ini aku temukan dalam film Rab Ne Bana Di Jodi, dan banyak novel yang menolak kawin paksa yang dilakukan oleh para orang tua.

Entahlah, kadang orang tua menikahkan anaknya hanya memenuhi kepentingan dirinya sendiri tanpa melihat tensi dan potensi yang akan tumbuh dari jiwa anaknya jika dinikahkan dengan pilihan orang tuanya. Kadang hanya karena ‘nasi’ orang tua menikahkan putrinya dengan seorang pria. Bukan hanya ‘nasi’ kadang pula karena ‘bendera’ di bahu. Mereka tidak memikirakan yang mampu menjadi potensi anak-anaknya untuk maju dan lebih bahagia. Yang dilihat oleh para orang tua mereka hanya sebatas mengejar ‘kekuasaan’, ‘pangkat’, dan kesucian di mata masyarakat, tidak lebih dari itu.

Sudahlah, kadang aku ingin melawan itu. Aku akan siap menerima hinaan dan hujatan, meski diancam masuk neraka. Dalam pikiranku, yang berhak menentukan benar dan salah serta masuk surga atau neraka hanyalah Tuhan. dan Tuhan selalu toleran bagi umat manusia, serta selalu memberikan kebebasan bagi umat manusia setelah Tuhan menaruh otak, hati, dan perasaan dalam jiwa manusia sebagai senjata untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang haram dan mana yang halal. Terus manusia mau menjadi Tuhan yang mau mengatur kehidupan orang lain? Mulai jodoh, rejeki, dan masa depan hidup ditentukan dengan jodoh yang baik menurut pandangan orang tua saja tanpa melihat derita batin dan jiwa anak-anaknya?

Logikanya bagini: “Kita hanya mengarahkan anak-anak pada jalan yang baik dan memberitahukan tentang suatu jalan yang buruk, lalu kita awasi”. Atau begini: “Kebahagiaan orang tua tidak bisa diukur dengan kebahagiaan anak-anaknya. Jika orang tua bahagia dengan suami/ istri di atas kasur. Anak-anaknya jangan sampai diajari untuk bahagia seperti dirinya, agar mereka tidak terjerumus ke dunia yang bukan dunianya”. Begitulah, standart orang tua tidak boleh disamakan dengan standart anak-anaknya. Dan zaman orang tidak boleh dipaksakan dengan zaman anak-anaknya, karena setiap zaman akan menjawab persoalannya sendiri-sendiri.

Surabaya, 11 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: