Riwayat Kepahlawanan Pangeran Diponegoro

KORAN MADURA: JUMAT 21 NOVEMBER 2014 No. 0490 | TAHUN III

Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 (Junaidi Khab)

Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 (Junaidi Khab)

Judul               : Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)

Penulis             : Peter Carey

Penerbit           : KOMPAS

Cetakan           : II, 2014

Tebal               : xxxviii + 434 hlm.; 15 cm x 23 cm

ISBN               : 978-979-709-799-8

Peresensi         : Junaidi Khab*

Sosok Pangeran Diponegoro yang religius-nasionalis mampu menjadi cerminan bagi bangsa Indonesia melalui perlawanannya dalam membela hak-hak rakyat pribumi. Pemerintah Republik Indonesia (RI) memberi pengakuan kepada Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan nasional pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973. Penganugerahan tersebut hampir bertepatan dengan ditetapkannya tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional RI.

Pada setiap tanggal 10 November digelar refleksi Hari Pahlawan sebagai bentuk dan upaya dalam menghargai jasa-jasa pahlawan dengan merenungi kegigihan para pejuang. Dengan begitu, nilai-nilai kepahlawanan pejuang tempo dulu bisa menginspirasi bagi generasi bangsa Indonesia. Selain Pangeran Diponegoro masih banyak pejuang-pejuang rakyat Indonesia yang agresif melawan para penjajah.

Namun, kehadiran buku ini merupakan suatu bentuk refleksi atas perjuangan dan peralwanan yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro dalam mempertahankan hak-hak rakyat pribumi dari campur tangan orang Belanda yang memeras secara sistematis. Buku ini hadir sebagai pengisah kehidupan abad VIII dan sekitarnya dimana Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda.

Sebelum Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Belanda (yang dikenal dengan Perang Jawa), ada beberapa periode yang terjadi dan dilakukan oleh Sang Pangeran. Misalkan sebelum dirinya melakukan perlawanan, Raden Ronggo lebih dulu memberontak pada tahun 1809-1810. Namun, akhirnya pemberontakan tersebut berhasil diredam oleh Belanda (hlm. 109).

Meski hidup Raden Ronggo berakhir dengan tragis, namun pemberontakannya tercatat sebagai peristiwa besar dalam sejarah keraton-keraton Jawa Tengah bagian selatan. Sebelum 1810, meskipun gertakan suara Daendels cukup keras, pendulum keseimbangan kekuasaan tidak sampai bergerak secara menentukan ke pihak pemerintahan Eropa.

Di sini, Pengaran Diponegoro mengagumi sikap Raden Ronggo yang perkasa dan berani untuk memberontak terhadap kaum penjajah (Belanda). Salah satu inspirasi Perang Jawa yang didalanginya, berangkat dari pemberontakan Raden Ronggo yang cukup memoles hati dengan bercak darah kepahlawanan bagi tanah air dan penduduk pribumi. Pangeran Diponegoro untuk memulai perlawan yang dikenal dengan Perang Jawa itu serta merta langsung bergerak. Namun melalui berbagai ramalan dan strategi.

Salah satu periode pra-perlawanan Pangeran Diponegoro yaitu melalui ramalan Joyoboyo dan letusan gunung merapi 28-30 Desember 1822 (hlm. 261). Sementara, dana, taktik dan persenjataan Perang Jawa mayoritas berasal dari sumber daya petani. Taktik tradional dalam Peran Jawa masih mampu mengimbangi tentara Belanda yang bersenjata lebih medern (hlm. 304). Bahkan kaum perempuan dalam Perang Jawa ini ikut mewarnai medan perang (hlm. 308).

Junaidi Khab Sedang Duduk di Depan Tiger Cave Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur

Junaidi Khab Sedang Duduk di Depan Tiger Cave Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur

Maskipun Perang Jawa sudah mewarnai sejarah perjalanan bangsa Indonesia melalui gerakan agresif Pangeran Diponegoro, tapi akhirnya Perang Jawa harus diakhiri seperti halnya pemberontakan Raden Ronggo sebelumnya yang berhasil ditaklukkan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap, lalu diasingkan. Dampak Perang Jawa ini dirasakan oleh sekitar 2.000.000 penduduk, sepertiga dari total penduduk Jawa. Untuk mencapai kemenangan yang pahit itu, Belanda telah kehilangan 8.000 serdadu Eropa dan 7.000 serdadu bantuan lokal.

Melalui kehadiran buku sejarah ilmiah ini, kita akan menemukan aspek perjuangan Pangeran Diponegoro yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda pada tahun 1825-1830 yang dikenal dengan Perang Jawa/Perang Diponegoro. Buku ini secara umum mengulas tentang asa kecil dan masa muda (1785-1808), awal keruntuhan tanah Jawa (1808-1812), tahun-tahun emas, tahun-tahun besi (1812-1825), perang dan pengasingan (1825-1830). Melalui karya ini, semoga perjuangan Pangeran Diponegoro menjadi refleksi bagi bangsa Indonesia untuk memperkokoh nasionalisme dan persatuan rakyat Indonesia agar tidak mudah dijajah oleh bangsa asing. Semoga!

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Asal Sumenep, Tinggal di Surabaya.

Karya ini bisa dibaca lebih sempurna lagi dalam bentuk file PDF di: KORAN MADURA, JUMAT 21 NOVEMBER 2014 No. 0490 TAHUN III Riwayat Kepahlawanan Pangeran Diponegoro oleh Junaidi Khab. Semoga melalui karya ini, kita bisa memiliki semangat kepahlawanan dan perjuangan yang kuat dalam menghadapi era yang makin hari makin maju. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: