Indonesia sebagai Tambang Emas Hijau

Lampung Post: Ahad, 02 November 2014

Kisah Para Preanger Planters (Junaidi Khab)

Kisah Para Preanger Planters (Junaidi Khab)

Judul               : Kisah Para Preanger Planters

Penulis             : Her Suganda

Penerbit           : KOMPAS

Cetakan           : I, 2014

Tebal               : 180 + xii hlm.; 14 cm x 21 cm

ISBN               : 978-979-709-826-1

Peresensi         : Junaidi Khab*

Masyarakat Hindia Belanda (Indonesia) pada awal mula dikenal sebagai penduduk agraris. Tanah-tanahnya diolah menjadi pematangan dan sawah untuk dibuat sebagai lahan pertanian. Hasil buminya melimpah ruah dari hasil pertanian tersebut. Hal itu karena tanah di nusantara ini memang tergolong subur. Sehingga tak heran jika banyak pendatang baru dari luar negeri untuk mencoba mengadu nasib di Indonesia. Mulai dari Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, hingga Jepang pernah menginjakkan kakinya di Indonesia.

Namun, dari sekian banyak bangsa yang paling lama bercokol di Indonesia hanya Belanda, 3,5 abad lamanya. Selama itu pula, kekayaan Indonesia dikuras dan diproduksi untuk Belanda sendiri yang dimulai dengan cara berkebun sebagai aduan nasib setelah di negeri asalnya terbilang kurang beruntung. Her Suganda melalui karyanya ini akan mencoba untuk membuka mata wawasan kita dan mencongkel kembali sejarah bercokolnya bangsa Belanda dan kesuksesannya di Indonesia.

Dengan menggunakan analisis sejarah perjalanan bangsa Belanda yang menginjakkan kaki di Priangan Jawa Barat, Her Suganda menyodorkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia dari sisi yang berbeda, yaitu dari kacamata orang Belanda. Awal mula bercokolnya bangsa Eropa tersebut bermula ketika mereka tertarik dengan kesuburan tanah Hindia Belanda. Sehingga di Priangan mereka membongkar hutan untuk dijadikan perkebunan teh. Maka dari itu, setelah hasil perkebunan teh banyak memberikan penghasilan, kemudian Priangan atau Hindia Belanda dikenal sebagai penghasil “Emas Hijau” dunia.

Selain Priangan Jawa Barat sebagai pusat mencari penghasilan para kaum pendatang dari Eropa, Priangan pula menjadi tempat penduduk pribumi diperbudakkan. Priangan memang menjadi objek kaum Eropa yang mau mengadu nasibnya di Indonesia. Bahkan penyebaran agama Kristen tempo dulu dimulai dari Priangan. Sebagaimana ditulis oleh Den End (dalam Darwin Darmawan, 2014:36) menyatakan bahwa komunitas misionaris saja memilih daerah Priangan sebagai medan misi.

Perintis Perkebunan

Ada beberapa tokoh bangsa Eropa yang sukses dalam berkebun di Priangan, sehingga mendapat julukan Preanger Planters. Misalkan Guillaume Louis Jacques (Willem) Van der Hucth (pelopor pertama) yang membawa istri dan anak-anaknya serta keluarga Pieter Holle, adik iparnya yang juga membawa serta istri dan anak-anaknya bisa dikata sebagai pelopor perkebunan sukses di Priangan (hlm.15). Ketika Van der Hucth kembali ke Belanda dan meninggal, kemudian dilanjutkan oleh Rudoph Albert Kerkhoven yang kemudian membuka perkebunan di Arjasari.

Selain itu, ada Karel Albert Rudolf (RU) Bosscha yang dimitoskan sebagai raja teh di Priangan (hlm. 53-72). Sebagai penguasa perkebunan teh di Priangan yang sukses, banyak jasa yang telah ditorehkan oleh Bosscha. Di antaranya Technische Hogeschool, saat ini dikenal sebagai Isntitu Teknologi Bandung (ITB), Societeit Comcordia, saat ini dikenal sebagai Gedung Merdeka Bandung atau tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika, dan beberapa sumbangsih lainnya yang menguntungkan bangsa Indonesia hingga saat ini.

Tokoh lain dari Belanda yaitu Karel Frederik (KF) Holle. Dia juga satu di antara pengusaha perkebunan sukses di Priangan pada saat itu. Ada banyak bibit yang didatangkan dari luar negeri hingga saat ini masih banyak dibudidayakan oleh penduduk pribumi. Misalkan kacang merah, kedelai, dan bawang (hlm. 84).

Kegigihan Van der Hutch berhasil melahirkan pengusaha-pengusaha perkebunan teh di Priangan yang berasal dari satu keluarga besar The Hunderian. Mereka itu adalah keluarga-keluarga Kerkhoven, Holle, dan Bosscha, yang semuanya bertali-temali karena ikatan darah.

Mereka adalah keluarga-keluarga kaya-raya yang muncul setelah pemerintah keolonial Belanda menerapkan kebijakan liberalisasi ekonomi. Diberlakukannya Undang-Undang Agraria pada 1870, yang mengubah Priangan menjadi daerah tambang “Emas Hijau”, melahirkan keluarga-keluarga konglomerat pengusaha perkebunan teh yang kemudian dikenal sebagai Preanger Planters. Tak dapat dipungkiri, kaum elit pengusaha perkebunan memiliki andil besar pada pesatnya perkembangan kota Bandung, sampai kota itu dijuluki “Parijs van Java”. Namun sayangnya, kehadiran mereka justru berpengaruh buruk pada kehidupan penduduk pribumi.

Junaidi Khab Berpose Usai Workshop Fotografi dan Kepenuliasn oleh KOMPAS KAMPUS di Taman Safari Indonesia II, Prigen-Pasuruan Jawa Timur

Junaidi Khab Berpose Usai Workshop Fotografi dan Kepenuliasn oleh KOMPAS KAMPUS di Taman Safari Indonesia II, Prigen-Pasuruan Jawa Timur

Mulai saat itulah, banyak bangsa Eropa yang menanamkan modalnya di pribumi. Mereka mendapat banyak untung dengan adanya Undang-undang Agraria (Agrarisch wet Staatblad) yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda. Undang-undang tersebut hanya menguntungkan pihak Eropa (Belanda) dan merugikan penduduk pribumi dan Cina Makau yang bekerja untuk Belanda. Dengan begitu sudah tampak bahwa Belanda lambat-laun mulai menunjukkan keinginan untuk menguasai kekayaan pribumi. Sehingga pada saat itu, pemberontakan oleh Tionghoa Makau yang dirugikan mewarnai kegagalan pemerintahan kolonial Belanda utamanya di bidang perkebunan.

Kehadiran buku ini perlu menjadi refleksi kebangsaan bagi kita semua. Her Suganda melalui karyanya ini akan mengupas tuntas tentang penduduk Priangan (secara khusus) yang makin merosot perekonomiannya setelah berkembangnya perusahaan-perusahaan besar di daerah tersebut. Selain itu, juga dibahas tentang soal interaksi yang tidak sepadan dan hubungan pelik antara kaum pendatang kulit putih dan penduduk pribumi, termasuk dalam hubungan “per-nyai-an” antara laki-laki kulit putih dan perempuan pribumi. Persoalan menjadi lebih rumit ketika dari hubungan itu lahir anak “Indo” behidung mancung, berkulit putih, dan bermata biru, tetapi bernasib sama dengan ibunya, alias tidak memiliki masa depan yang jelas.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Tinggal di Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca dan dinikmati lebih lanjut dalam bentuk file PDF di: Lampung Post, Ahad, 02 November 2014. Semoga karya tersebut bisa memberikan inspirasi, ilmu, dan wawasan yang luas bagi kita semua. Amin.

Advertisements

3 Responses to Indonesia sebagai Tambang Emas Hijau

  1. Resha Arieshandy says:

    mas bro, saya boleh minta kontaknya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: