Firasat

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 23 NOVEMBER 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Firasat (Oleh JUNAIDI KHAB)Sudah tiga hari ibuku terbaring di atas kasur yang dibelikan oleh ayah beberapa minggu lalu sebelum keberangkatannya untuk kunjungan kerja dan studi banding ke Eropa sebagai delegasi negara. Aku tak dapat berbuat apa-apa melihat tubuh bundaku yang terkulai lusuh. Matanya layu bak daun yang hijau usai dipanggang. Rambutnya yang beberapa hari lalu direbonding sudah awut-awutan tak karuan. Tak ada aktivitas yang dapat kujadikan kegiatan sehari-hari kecuali hanya duduk termangu menemani sebongkah tubuh kering karena sudah jarang mencicipi air.

Dua perawat dan satu dokter spesialis sudah didatangkan ke rumah atas saran ayah yang dikirim via email kepadaku beberapa jam yang lalu. Bahkan ayah menyarankan agar menambah dua pembantu untuk mengurus rumah. Itu pun juga telah aku lakukan. Hari-hariku hanya penuh dengan tatapan kesedihan di atas kasur pesakitan.

Kadang sesekali ibuku dengan suara parau dan kering memanggilku untuk mengambil segelas air. Air pun kutaruh di dekat tempatnya berbaring. Namun, air hanya air yang tak pernah disentuh sama sekali. Kadang air dalam gelas itu sampai tiga hari belum juga diminum hingga berdebu dan penuh dengan jentik-jentik nyamuk. Baru setelah itu air dalam gelas diganti.

Oh, mengapa perasaanku menjadi seperti ini? Aku berduka di belakang kebahagiaanku. Beberapa hari sebelum ayah pergi, aku dijanjikan akan dibelikan sebuah mobil mewah. Aku bagai keruntuhan durian jatuh. Tapi, tiu tak menjadikanku bahagia. Ibuku harus terbaring secara tiba-tiba. Dokter bilang, penyakit ibuku katanya hanya karena kurang istirahat. Tapi kata dokter spesialis yang didatangkan, ibuku terkena serangan jantung.

Dalam keseharianku, tak luput bibirku berucap kalimat-kalimat tasbih dan puji-pujian agar ibuku segera diberi kesehatan dan kesembuhan. Dengan inisiatifku sendiri, aku mengundang seorang kiai dan para tetanggaku untuk berdoa bersama agar ibuku bisa sembuh. Bahkan, akhir-akhir ini aku sering memberikan beberapa rupiah uang yang diberikan oleh bapakku kepada anak-anak miskin dan fakir miskin. Ketika malam Jumat tiba, aku tak lupa mengantar menu makanan kepada para tetanggaku usai acara tahlilan yang kuagendakan semenjak keberangkatan ayahku.

***

Satu minggu sudah sejak keberangkatan ayahku, aku sering duduk termangu berteman sebuah kursi. Saat itu para perawat dan dokter spesialis sedang cuti. Aku hanya berharap baik-baik saja di kala tak ada yang dapat mengontrol kondisi ibuku.

Anak-anak tetangga di luar rumah pada ramai bermain kelereng di tanah lapang. Mereka pun disuruh pindah tempat oleh pak Karjo, pembantu yang mengurus kebun rumah. Suasana menjadi hening seketika. Padahal aku sebenarnya senang ada anak-anak ramai bermain di dekat halaman rumahku. Tapi, apalah daya, demi ibuku mereka harus diusir dari tempat bermainnya.

Aku mencoba menghibur diri dengan melihat foto-foto di dinding yang tampak ceria penuh kebahagiaan. Bekas-bekas senyum itu mengingatkan pada kenangan masa silam. Tak ada foto dengan ekspresi murung, sedih, gelisah, dan susah yang menempel di tembok berwarna putih itu. Jam dinding dengan latar ayahku dengan pangkat kenegaraannya terus berdetak bagai orang penting yang di kanan-kirinya dikawal oleh foto-foto indah nan menawan.

Ketika aku akan menatap foto ayah yang sedang dilantik oleh presiden satu tahun yang lalu, tiba-tiba terdengar gedebak-gedebuk dari tempat ibu terbaring. Aku pun gopoh-gopoh berlarian menuju kamar ibu. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya termangu melihat ibuku yang kejang-kejang di atas springbed. Cobaan apa yang harus aku terima? Batinku meronta-ronta sambil memanggil bi Ijah yang ada di dapur.

“Bi Ijah… Bi Ijah…!”.

“Ada apa non?”.

“Tolong ibuku!”.

Bi Ijah dengan nafas tersendat-sendat dan menggebu langsung menghampiri ibuku yang sudah tak kejang-kejang lagi. Tubuhnya terdiam. Tak ada gerak sedikit pun. Matanya hanya melotot-lotot seakan ingin mengatakan sesuatu yang dilihat atau dirasakannnya. Aku pun duduk di dekat ibu terbaring sembari mengelus dahinya yang penuh dengan keringat dingin. Ternyata ibuku tak bisa bergerak. Tangan dan kakinya bengkok tak dapat digerakkan. Strok, ya ibuku sekarang terserang penyakit strok.

Air mataku menganak sungai. Bi Ijah tampa sibuk dan mondar-mandir bingung. Sesekali duduk di dekatku lalu pindah mendekat ke tempat ibuku terbaring. Perasaanku sudah tak karuan. Aku teringat ayahku. Ada apa dengan ayahku? Aku terus bergumam dalam hati. Lambat-laun ibuku terlelap dengan tubuh kaku dan keringat mengucur dari keningnya. Perlahan aku hapus keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya.

Sejenak aku merebahkan tubuhku yang masih letih membereskan tempat tidur ibuku bersama Bi Ijah. Tiba-tiba blackberry yang kutaruh di atas meja memanggilku. Aku dapat pesan dari ayah. Sebentar lagi ayah akan naik pesawat pulang ke Indonesia. Aku pun menyalakan televisi. Aku yakin, ayah pasti diliput saat pesawat mendarat di bandara. Detik-detik kedatangan ayah terus kutunggu dengan menyaksikan liputan berita di televisi.

Tiga jam aku sudah menunggui televisi. Tiba-tiba hatiku bergetar setelah salah satu stasiun televisi menyiarkan bahwa kunjungan kerja dan studi banding dari Eropa akan segera tiba. Perasaanku lega. Aku akan segera bertemu ayahku usai dari kantornya nanti. Tapi, tayangan di televisi menjadikanku miris. Hatiku kembang-kempis. Perasaanku teriris-iris. Ayahku dan beberapa orang pejabat lainnya dihadang oleh komisi pemberantasan korupsi. Aku terhenyak. Aku semakin fokus menatap layar televisi dengan air mata mengucur. Kegundahan terus menggelayuti perasaanku. Ingin rasanya aku mencabik-cabik ayahku lalu aku melompat dari lantai seratus.

Aku berusaha menutupi peristiwa tayangan televisi tadi pada ibuku. Cukup aku saja yang menampung guncangan batin dan kepingan-kepingan perasaan yang hancur. Jangan ibuku, jangan pula keluargaku. Beberapa jam kemudian, penyidik komisi pemberantasan korupsi tiba dengan memasang tanda merah hitam. Rumahku disegel beserta isinya. Tanpa kuduga, ibu terisak di tempat perbaringannya. Aku tak dapat berbaut apa-apa. Seribu tanda tanya di wajah kelam ibuku tampak begitu jelas. Ibu sepertinya mengerti dan paham rumahnya disegel. Tapi, seakan dia tetap ingin menanyakannya padaku.

Dengan terpaksa aku bercerita tentang kejadian tayangan di televisi satu jam yang lalu. Ibuku pun tersendat dan air matanya mengucur, menetes satu per satu. Aku hanya terdiam sembari memeluk ibu. Aku harus segera mencari tempat untuk istirahat ibuku yang sedang sakit.

“Kita akan tinggal dimana?”. Nafas ibuku mengalun menjadi kata-kata.

“Sementara kita tinggal di rumah nenek bu”. Jelasku dengan penuh harap.

Suara yang remang-remang itu terdengar lirih dari bibir kering ibuku. Tak ada kata-kata lagi setelah aku memberikan jawaban singkat padanya. Aku pun dibantu oleh Bi Ijah yang masa gajian kerjanya tinggal tujuh hari lagi. Dengan apa adanya, aku pindah ke rumah nenek bersama ibuku yang tetap terbaring kaku di atas mobil ambulan.

Junaidi Khab Berjalan di Halaman Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur

Junaidi Khab Berjalan di Halaman Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur

Firasatku tentang keberangkatan ayah beberapa minggu yang lalu ternyata benar. Tiba-tiba ayah menjanjikan untuk membelikan mobil. Aku heran dan penuh tanda tanya saja dengan kesanggupan ayah untuk membelikan mobil itu. Berbagai kebutuhanku dan kebutuhan ibuku terpenuhi. Ibu sakit langsung menyuruh mendatangkan perawat dan dokter spesialis dan pembantu rumah tangga. Padahal waktu aku sakit sebelumnya, aku dirawat dengan meminta bantuan lembaga peduli orang miskin. Tapi sekarang berubah total. Ayahku punya banyak uang, entah berapa banyaknya.

Tak heran bila firasatku mengatakan, ayahku menjadi tikus berdasi di kantor-kantor yang menilap uang secara diam-diam. Kegaiban itu sudah buram-buram terlihat makin lama makin jelas. Keburaman itu tampak jelas saat firasatku terpancing oleh foto pelantikan ayah dan ibuku saat itu langsung kejang-kejang. Aku baru sadar, kejang-kejang ibuku tak lain bahasa tubuhnya atas peristiwa yang akan menimpa ayahku.

Bojonegoro, 28 Januari 2014

* Cerpenis Tinggal di Surabaya dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Untuk lebih lengkapnya versi koran atau PDF dari karya ini yang dimuat, silakan klik “RADAR SURABAYA, MINGGU, 23 NOVEMBER 2014 Oleh Junaidi Khab FIRASAT” untuk lebih jelasnya. Semoga karya ini memberikan sentuhan iman dan perasaan untuk dijadikan refleksi diri agar hidup lebih berkah dan bermanfaat bagi manusia. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: