Menyelami Iman dan Islam Lebih Dalam

Tribun Jogja: Minggu Kliwon, 02 November 2014

Buku Saku Iman & Islam Mengerti Dasar-Dasar Agama yang Mencerahkan Pikiran dan Menyejukkan Hati (Junaidi Khab)

Buku Saku Iman & Islam Mengerti Dasar-Dasar Agama yang Mencerahkan Pikiran dan Menyejukkan Hati (Junaidi Khab)

Judul               : Buku Saku Iman & Islam Mengerti Dasar-Dasar Agama yang Mencerahkan Pikiran dan Menyejukkan Hati

Penulis             : Imam al-Birgawi

Penerbit           : zaman

Cetakan           : I, 2014

Tebal               : 181 Halaman

ISBN               : 978-602-1687-09-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Di era modern pada saat ini, kita patut untuk mengenal esensi iman dan Islam. Islam merupakan agama terbesar dan sangat pesat perkembangannya di Indonesia. Namun hal tersebut kadang hanya tinggal nama agama saja, eksistensi dan substansi beragama masih belum secara utuh diamalkan. Sedangkan iman, secara sederhana dalam (agama) Islam adalah memercayai eksistensi Tuhan. Di sini, iman dan Islam ada hubungan dan sangkut-paut yang tak dapat dipisahkan.

Dengan memercayai eksistensi Tuhan, untuk melakukan berbagai hal selalu disesuaikan dengan keimanan, yaitu mereka yang beriman malu untuk melakukan kejahatan meski tak dilihat orang, karena meski tak ada orang, ada Tuhan yang selalu mengawasi (hlm. 9). Inilah salah satu bentuk keimanan selain percaya pada lima hal lainnya.

Maka dari itu, kehadiaran buku ini ingin mengajak para pembaca untuk mengenal, mengerti, dan menyelami eksistensi iman dan Islam yang selama ini selalu menjadi santapan liar jiwa masyarakat Indonesia, dan secara umum masyarakat dunia.

Menurut Romo Mangun Wijaya (dalam Th. Bambang Murtianto, 2014:18) mengatakan bahwa khusus bagi bangsa Indonesia – yang konon kabarnya paling agamis sekaligus juara dalam korupsi dan kekerasan – ada catatan. Karena selama ini yang ditekankan itu agama. Romo Mangun sendiri orang agamawan, tapi yang terpenting katanya adalah iman. Iman itu inklusif, sedang agama harus dan selayaknya eksklusif. GBHN sudah mengatakan, bahwa manusia Indonesia seutuhnya ialah manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa. Tidak disebut “manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia yang beragama”. Untunglah, ini barangkali satu-satunya yang baik dari Orde Baru.

Hal sangat urgen yang perlu diingat oleh bangsa Indonesia, yaitu tentang keimanan. Sebenarnya kita kurang menyadari antara beriman dan beragama. Namun, secara utuh untuk menjadi bangsa Indonesia adalah harus beriman, bukan beragama. Secara implisit disebutkan bahwa kita harus beriman agar mengakui kebenaran satu Tuhan dan melakukan perintahnya yang selalu mengarah pada kebaikan. Jika kita hanya menjadi orang yang beragama, di Indonesia banyak yang beragama, namun tak beriman. Hal tersebut terbukti banyaknya kejahatan yang berupa, korupsi, pembunuhan, kekerasan seksual, dan penipuan.

Sangat mengenaskan memang jika masyarakat Indonesia hanya beragama tanpa dikuti dengan keimanan yang kuat. Kemungkaran dan berbagai kejahatan akan mudah dilakukan oleh orang-orang yang tak beriman. Karena apa? Orang yang tak beriman hidupnya bebas tanpa batas dan merasa tidak ada yang mengawasi (Tuhan). Maka dari itu, Romo Mangun mengingatkan bangsa Indonesia ini agar menyadari untuk menjadi manusia yang benar-benar beriman, bukan manusia yang beragama.

Begitu pula dengan Imam al-Birgawi dalam buku ini, agar kita bisa membentengi iman dan Islam agar tidak runtuh. Di sini ada beberapa pilar yang mampu menyangga berdirinya iman. Dengan begitu, iman setidaknya akan memiliki penyanggah yang kuat agar tidak mudah goyah oleh lilitan hidup dan hawa nafsu yang terus membelenggu. Di antara pilar-pilar penyangga iman tersebut yaitu: shalat, puasa, dan zakat (hlm. 125).

Buku molek ini sangat cocok dijadikan sebagai bahan renungan dan penghayatan di era modern pada saat ini dengan kemunculan banyak aliran seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Di dalamnya ada cahaya nasihat yang akan mencerahkan pikiran yang beku tentang pemahaman iman dan Islam. Begitupula ada beberapa kilauan petuah yang akan menyejukkan hati yang buram akibat iman yang selalu mengalami perubahan naik-turun dalam tiap perputaran waktu. Selain itu, untuk menguatkan iman dan memantapkan Islam yang tanpa kekerasan, buku ini menghadirkan kisah dari perilaku teladan nabi Muhammad Saw. yang menjadi sorotan utama, hingga menimbulkan rasa cinta dan rindu kepadanya. Dengan kehadiran buku ini, kita akan mengerti eksistensi antara iman dan Islam untuk diimplimentasikan dalam kehidupan sehari-hari.

* Peresensi adalah Pengurus Demisioner Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya.

Bisa dinikmati/ dibaca/ diakses lebih lanjut untuk direnungi di: Tribun Jogja, Minggu Kliwon, 02 November 2014 oleh Junaidi Khab . Semoga memberikan banyak manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: