Kembali Memaknai Ritual Haji

Wasathon: Rabu, 05 November 2014

Cover Berhaji Tanpa Akhir Memaknai Ritual Ibadah Haji (Junaidi Khab)

Cover Berhaji Tanpa Akhir Memaknai Ritual Ibadah Haji (Junaidi Khab)

Judul               : Berhaji Tanpa Akhir Memaknai Ritual Ibadah Haji

Penulis             : Ainul Lutfi

Penerbit           : Pustaka Pelajar

Cetakan           : I, Agustus 2014

Tebal               : 172 halaman

ISBN               : 978-602-229-368-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

Pada era modern saat ini berhaji seakan-akan menjadi sebuah tradisi yang hidup di Indonesia. Namun, tradisi ini berlaku untuk kalangan elit yang banyak duit. Hal tersebut terbukti bahwa setiap tahun Indonesia termasuk negara terbanyak memberangkatkan jamaah haji. Sebenarnya, agenda besar tahunan ini merupakan suatu ibadah umat Islam yang harus benar-benar dihayati bukan hanya semata-mata mencari simpati agar diri kita diakui telah pernah pergi berhaji.

Detik-detik kedatangan para jamaah haji tahun 2014 ini sudah terasa, perlu kiranya bagi para jamaah haji untuk memahami makna ibadah yang telah dilaksanakan di Makkah. Namun, secara hakiki kita tidak banyak mengetahui substansi ritual pelaksanaan ibadah haji yang banyak menghabiskan biaya itu. Di sini, penting kiranya merenung kembali tentang substansi pelaksanaan ibadah haji setelah tiba di tanah air untuk dijadikan pedoman dalam hidup bersosial tanpa membanggakan titel haji.

Buku ini hadir dalam rangka untuk menemani para jamaah haji yang telah pulang ke tanah air untuk menemukan makna sosial dan spiritual dari ritual-ritual haji yang telah dilakukan di Makkah. Dengan kehadiran buku ini, kesadaran berhaji sebagai kewajiban spiritual ibadah dan keharusan hidup bersosial akan terasa. Berhaji bukan semata-mata untuk liburan belaka, namun untuk menemukan suatu makna hidup yang tak pernah kita rasakan sebelumnya.

Kita sudah banyak menyaksikan orang-orang yang berhasil melaksanakan ibadah haji. Tapi hidupnya suram dan muram, dan lebih-lebih mereka terlibat berbagai kasus asusila yang merugikan banyak orang. Lihat para koruptor di Indonesia, mereka mayoritas telah melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Bukan hanya satu kali, bahkan ada yang berkali-kali. Ada pula yang menjadi maling atau preman ungguk di tingkat desa yang berkopiah putih.

Hal semacam ini sudah tentu jelas kurang pemaknaan tentang substansi dari setiap ritual ibadah haji yang kemudian disadari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran semacam ini perlu menjadi sebuah suplemen bagi para jamaah haji yang telah berhasil melaksanakan ibadah haji agar keberangkatannya ke tanah suci tidak sia-sia belaka dengan menghabiskan uang yang tidak sedikit jumlahnya.

Berhaji Tanpa Akhir

Salah satunya misalkan pada saat akan melaksanakan ibadah haji, para jamaah haji harus melakukan miqat, yaitu berniat untuk melaksanakan ibadah haji baik yang berupa zamani atau makani. Hakikatnya, miqat di sini memiliki makna yang cukup universal dalam tatanan kehidupan. Jika kita artikan bahwa dari titik ini upaya hidup disiplin sebagai titik awal dari sebuah pengabdia akan dirasakannya. Karena berhaji harus dilakukan dengan runtutu dan tertib untuk mengabdi (hlm. 37).

Miqat itu sebenarnya adalah tata aturan juga, dengan begitu, disiplin kita bisa diukur. Dengan demikian prestasi kita dapat dinilai dengan benar, sehingga ada ‘pahala’ yang bisa disematkan pada ibadah kita. Miqat hakikatnya mengajarkan kita untuk disiplin, dan sebagai titik awal dari sebuah pengabdian baik kepada Tuhan atau kepada sesama manusia di jalan kebenaran.

Dari miqat ini kita bisa mengambil pelajaran, lebih-lebih bagi pejabat negara yang telah berhasil melaksanakan ibadaha haji. Para pejabat setidaknya bisa mengimplementasikan makna tersembunyi dari miqat itu sendiri, yaitu agar disiplin dalam mengurus pemerintahan dan siap mengabdi kepada Tuhan dengan cara tidak memakan uang rakyat melalui tindak pidana korupsi.

Selain itu, ritual haji bagi rakyat biasa juga harus mampu mengubah jalan hidupnya agar lebih baik dari sebelumnya. Hal penting yang perlu diingat bahwa di balik ritual haji ada nilai-nilai sosial yang harus diamalkan, mulai dari hidup disiplin untuk mengabdi kepada Tuhan dengan menjalankan segala perintah dan larangannya yang segalanya demi kepentingan diri kita dan seluruh umut manusia di muka bumi.

Jika kita mampu menggali lebih dalam semua makna yang tersembunyi dalam ritual-ritual haji, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka hakikatnya kita juga melaksanakan ibadah haji di luar bulan haji. Dengan begitu, kita selalu melaksanakan ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari. Selama kita mampu mengamalkan makna yang terkandung dari sekian banyak ritual haji dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari substansi melakukan miqat, ihram, thawaf, hingga pada pelemparan jumrah sejatinya kita telah berhaji tanpa akhir sepanjang hidup.

Langkah yang sangat tepat buku ini hadir di tengah-tengah kita. Buku ini hadir bukan hanya membahas tentang ritual-ritual haji secara formal saja, tidak hanya berkutat pada bidang fiqih haji, tetapi buku ini mencoba untuk memahami ritual haji secara lebih ‘informal’ yang lebih menukik pada kedalaman ‘makna batin’ dari ritual-ritual haji. Semoga buku ini menjadi salah satu penunjuk jalan untuk menggapai haji mabrur dan penuh dengan berkah. Amin.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Tinggal di Surabaya.

E-Mail            : john_gapura@yahoo.com

Bisa dibaca dan diakses lebih lanjut di: http://wasathon.com/resensi-/view/2014/11/05/-resensi-buku-kembali-memaknai-ritual-haji. Semoga beramnfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: