Indonesia Harus Belajar pada Tiongkok

Harian Analisa: Rabu, 15 Oktober 2014

Cover Filosofi-Filosofi Warisan Tiongkok Kuno (Junaidi Khab)

Cover Filosofi-Filosofi Warisan Tiongkok Kuno (Junaidi Khab)

Judul               : Filosofi-Filosofi Tiongkok Kuno Aktualisasi Pemikiran Tiongkok terhadap Dunia Modern

Penulis             : Emsan

Penerbit           : Laksana (DIVA Press)

Cetakan           : I, September 2014

Tebal               : 276 halaman

ISBN               : 978-602-255-646-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Mungkin kita tidak begitu banyak mengenal negeri Tiongkok. Hal tersebut disebabkan karena tak banyak buah bibir yang membicarakannya. Hal yang kita tidak sadari di era modern saat ini, sebenarnya bagian dari Tiongkok menjadi teman sehari-hari. Ada banyak produk yang kita gunakan berasal dari Tiongkok. Misalkan penggunaan teknologi bermerk Lenovo, seperti laptop dan gadget lainnya.

Contoh terbaru, salah satu raksasa teknologi Amerika yang bergerak di bidang teknologi, Motorola, baru saja diakuisisi oleh perusahaan asal Tiongkok, Lenovo. Sebelumnya, Lenovo telah mengakuisisi bekas perusahaan komputer ternama, IBM. Fakta ini menjadi bukti shahih betapa perusahaan Tiongkok tidak lagi sebagai pemain pinggiran. Tetapi, pelopor negeri tersebut dan menggambarkan kemampuan serta ambisinya di pasar dunia (hlm. 15).

Melihat fenomena yang terjadi dalam diri Tiongkok yang mulai menggeliat di belahan dunia, kita patut bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang menyebabkan Tiongkok bisa bangun dari tidur sehingga bisa menguasai pasar dunia?

Pertanyaan semacam itu akan dijawab oleh karya Emsan ini. Buku yang berjudul Filosofi-Filosofi Warisan Tiongkok Kuno Aktualisasi Pemikiran Peradaban Tiongkok terhadap Dunia Modern ini akan berusaha memaparkan rahasia Tiongkok terbangun dari tidurnya hingga menguasai bisnis dan pasar dunia. Ada banyak bukti tentang kebangkitan Tiongkok dari tidurnya di dalam buku ini yang disajikan melalui telaah kajian yang mendalam.

Salah satu penyebab Tiongkok bisa bangkit dari tidurnya karena mereka selalu berpegang teguh pada filosofi-filosofi kunonya. Ada banyak filososi yang menjadi pegangannya. Namun, dari sekian banyak filosofi yang diwariskan oleh para filsuf dan nenek moyangnya, hanya beberapa saja yang muncul dan sangat begitu dihormati serta diamalkan. Filsuf utama yang harus disebut adalah Konfusius, yang hidup antara tahun 552 dan 479 sebelum Masehi dengan aliran pemikirannya Konfusionisme. Di Indonesia aliran itu dikenal sebagai agama Konghuchu (hlm. 63).

Konfusionisme mengajarkan untuk hidup realistis dan selalu memandang masa depan penuh optimis. Bukan hanya itu, dalam ajaran Konfusius, orang tua dalam sistem keluarga Tionghoa berkewajiban mengajari anggota keluarganya tentang mekanisme negara agar mereka bisa menerima otoritas negara. Kultur politik Tiongkok menekankan interdependensi antara pemerintah dan keluarga. Keluarga berperan untuk mengarungi kekacauan dalam institusi-institusi publik. Orang tua selalu menekankan keteraturan sosial dan kesejahteraan setiap anggota keluarga.

Selain Konfusionisme, ada pula filosofi dan pemikiran para filsuf Tiongkok yang sering dijadikan pegangan hidupnya. Misalkan, Taoisme, Legalisme, dan Mohisme. Aliran-aliran pemikiran tersebut menjadi sendir bagi perkembangan dan kemajuan negeri Tiongkok hingga mereka mampu bersaing dalam bisnis dan pasar global secara menyeluruh.

Hal ini yang patut ditiru oleh bangsa Indonesia. Ada banyak filosofi dan pemikiran meretas dari pendahulu bangsa Indonesia, namun bangsa Indonesia tidak percaya diri untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga jangan heran jika Indonesia hanya menjadi konsumen terhadap produk-produk luar negeri.

Secara umum, filosofi-filosfi warisan Tiongkok kuno itu bertolak dari semacam humanisme. Etika dan spiritualitas menyatu secara utuh dan padu. Lebih mengajarkan pada sikap optimistis dan demokratis. Agama dipandang tidak terlalu penting dibanding kebijakan berfalsafah. Penghormatan terhadap kemanusiaan dan individu tampak dalam falsafah hukum dan politik (hlm. 70-72).

Sebagai bangsa Indonesia, kita harus mampu menjadi bangsa yang mandiri dan maju. Bukan hanya menjadi bangsa konsumen terbesar di dunia. Rasa cinta tanah air dengan mengingat kembali nasihat atau pemikiran para bapak bangsa, lalu mengamalkannya, besar kemungkinan bangsa Indonesia akan menemukan kemajuan. Kemajuan Tiongkok untuk saat ini harus menjadi bahan pelajaran. Mereka berkembang dan maju karena selalu berpegang teguh pada jati dirinya dan tak melupakan filosofi-filosofi warisan leluhurnya yang direaktualisasi untuk terus maju di era modern saat ini.

Di dalam buku ini, diulas secara lugas dan terperinci rahasia kemajuan yang dicapai oleh negeri Tiongkok hingga saat ini yang sepatutnya menjadi cambuk bagi bangsa Indonesia. Ternyata, Tiongkok maju tidak terlepas dari akar sejarah pereadaban mereka yang telah dibangun selama ribuan tahun. Filosofi-filosofi kebudayaan kuno mereka, seperti Konfusionisme berpengaruh besar terjadap perjalanan bangsa Tionghoa. Filosofi warisan kuno itu ibarat harta karun yang dapat digali kapan pun demi kemanfaatan di hari ini dan masa depan.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku dan Sebagai Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Nomor KTP    : 3529190507900002

E-Mail             : john_gapura@yahoo.com

URL                : junaidikhab.wordpress.com

FB/Twitter      : Junaidi Khab (john_khab@yahoo.com)

Tulisan tersebut bisa dibaca lebih lengkap dan langsung di:http://analisadaily.com/news/read/indonesia-harus-belajarpada-tiongkok/72752/2014/10/15 . Atau juga bisa dibaca dalam bentuk PDF yang lebih sempurna di: Harian Analisa, Rabu, 15 Oktober 2014 Indonesia Harus Belajar pada Tiongkok oleh Junaidi Khab . Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi, manfaat, dan tambahan wawasan yang luas bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: