Menyikapi Ide Mahasiswa Filsafat

Solo Pos: Selasa, 09 September 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Dari sekian banyak Perguruan Tinggi (PT) dan beberapa universitas di nusantara, tentu selalu ada problematika dan isu yang muncul ke permukaan. Hingga pada akhirnya menjadi polemik, di media sosial atau di masyarakat. Problematika dan isu hangat itu mayoritas muncul dari kalangan mahasiswa, baik persoalan yang dipicu oleh aktivitas atau ide kecilnya. Itulah ciri khas mahasiswa PT di Indonesia.

Baru-baru ini, di tengah ramainya pelaksanaan orientasi mahasiswa baru, Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabya menggunakan tema yang sedikit kontroversi dengan banyak kalangan. Tema tersebut yaitu “Tuhan Membusuk Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan” tertanggal 28-30 Agustus 2014. Memang tampak elegan, unik, dan menarik, sekaligus menantang otak dan kritikan untuk terus berhamburan. Namun, berbagai tuduhan dan kecaman terhadap tema tersebut bermunculan hilir-mudik.

Menanggapi tema tersebut, terdengar desir-desir pemurtadan oleh sebagian masyarakat. Hal ini memang cukup berada pada skala radius yang tajam dalam menyikapi tema tersebut. Ada pula yang menyebutnya tak jauh berbeda dengan cukong-cukong HTI, Wahabi, atau ISIS sebagai aliran kanan agama Islam. Begitu pula ada yang menanggapi sebagai bentuk kritik karena banyak manusia yang sudah tak lagi mengindahkan perintah Tuhan, juga sebagai hal yang biasa terjadi di Fakultas Ushuluddin dan Filasafat.

Namun, sebagaimana diungkap oleh Santri News Surabaya (30/08/2014) menyatakan bahwa tema tersebut sejatinya berangkat dari sebuah realitas keberagamaan masyarakat Indonesia yang belakangan kian memperihatinkan. Tidak sedikit orang atau kelompok yang mengatasnamakan Tuhan dengan mudah untuk membunuh orang atau kelompok lain. Demi (membela) Tuhan, mereka rela mempertaruhkan nyawanya. Perilaku ini lazim dilakoni oleh kelompok yang mengklaim paling shaleh. Kelompok yang mengklaim paling islami. Akibatnya, kelompok yang berbeda dengan mereka dengan mudah dituduh ‘kafir’ yang darahnya halal.

Sebenarnya dari pihak Dekanat ada instruksi sebelumnya agar tema tersebut tidak digunakan dengan alasan khawatir dikonsumsi oleh masyarakat awam. Hal tersebut disadari bahwa tema yang diangkat secara tersurat memang menghina Tuhan, entah Tuhan siapa. Tapi, secara tersirat ada makna yang perlu dicari dan direnungi secara saksama terkait perihal kehidupan beragama dalam lingkungan sosial. Begitu mungkin cara terbaik dalam menyikapi ide yang muncul dari mahasiswa-mahasiswa Filsafat. Kita menyadari, bukan mahasiswa Filsafat jika tidak kontroversi, utamanya terkait ketuhanan yang dikontekstualisasi dengan lingkungan sosial.

Sensasi Belaka

Jika tema kontroversi tersebut kita sikapi dengan serius dari perspektif sukyektif, itu hanya akan menyisakan konflik pemikiran, agama, dan ideologi secara berlarut-larut. Melihat kenyataan bahwa tema tersebut menjadi duri dalam persoalan Tuhan dan agama bagi masyarakat, kita sepatutnya memandangnya secara obeyktif. Selain kita bisa menghargai ide mahasiswa, juga sebagai upaya mendorong untuk terus berkreasi bagi mereka. Secara pasti, kita tidak mengetahui kemunculan ide kontroversi tersebut kecuali Tuhan dan mahasiswa-mahasiswa itu sendiri. Sehingga, tak perlulah kita menghujat mereka, biarkan mereka menyampaikan idenya dari sisi filsafat.

Memang sangat menggemaskan, di lahan parkir saja tertulis dua kalimat yang juga tak kalah radikal. Dilarang Parkir di Area Tuhan. Dilarang Parkir Kecuali Tuhan. Itu yang tertera di daerah yang tidak boleh seorangpun memarkir kendaraannya. Unik, lucu, dan menggelitik sekaligus memuakkan. Terkesan ada rasa angkuh dan sombong dari dua kalimat tersebut. Namun, begitulah kenyataannya bahwa Tuhan kadang meski diyakini ada, tidak dianggap ada saat seseorang akan melakukan korupsi atau tindak kejahatan lainnya. Sehingga banyak kasus mafia yang menimpa orang-orang yang beragama dan bertuhan.

Eksotisme tema tersebut tidak perlu menjadi sisi gelap dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, dan juga universitas-universitas di seluruh Indonesia. Kita cukup memahami dari kacamata mahasiswa yang masih berdarah muda. Mereka ingin selalu mencari hal-hal yang dianggap menarik untuk mendapat sensasi dan perhatian dari banyak kalangan. Masa muda, masa yang terus berapi-api sebagai upaya meningkatkan kaya pikir dan kreasi dalam menyikapi peristiwa yang banyak terjadi di lingkugan sosial, birokrasi, hingga pemerintahan. Setelah dewasa, gejala itu akan sirna dengan sendirinya, mereka akan sadar tentang kedewasaan dalam berpikir.

Begitu pula, kedewasaan dalam berpikir harus menjadi prioritas utama menanggapi ide konyol para mahasiswa filsafat. Kejernihan dalam memberikan komentar jangan sampai dengan mudah menuduh mereka sebagai kafir, murtad, atau lain sebagainya. Karena cara demikian bukan cara orang dewasa dalam berpikir dan memberi teladan yang baik. Selain itu pula, menjustifikasi suatu golongan atau seseorang dengan tuduhan yang tak layak hanya akan memicu persoalan baru yang lebih semrawut. Kita jangan asal meludah di sembrang tempat, karena tidak semua orang sama dengan nabi Muhammad Saw. yang memiliki kesabaran dan ketabahan jiwa sepenuhnya.

Selain itu, sebagai bentuk berpikir dewasa, forum diskusi Indonesia Belajar-IB Surabaya akan segera menggelar diskusi bersama pihak terkait pada Jumat, 5 September 2014. Forum tersebut akan dihadiri secara langsung oleh Ishak Maulana sebagai Manager Steering Committee (SC) Oscaar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Forum tersebut mengangkat tema “Bedah Tema Oscaar Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Tuhan Membusuk: Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan”. Hal tersebut dilakukan dalam upaya mendapat jawaban obeyektif dari pemilik sang ide. Begitulah cara berpikir yang dewasa.

* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel, Surabaya.

E-Mail             : john_gapura@yahoo.com

URL                : junaidikhab.wordpress.com

FB/Twitter      : Junaidi Khab (john_khab@yahoo.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: