Kalangka

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Sumenep – Kita patut kiranya mengetahui tentang Kalangka. Karena tempatnya yang terpencil, tidak semua orang tahu dan menjangkaunya. Maka dari itu, saya akan memaparkan tentang kampung Kalangka. Yang mana, kampung ini merupakan kampung kelahiranku. Dari kampung ini aku besar dan belajar banyak tentang hidup yang tak lunak.

Kalangka merupakan suatu kampung yang terdapat di daerah ujung utara desa Banjar Barat, kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep, Madura. Untuk mengunjungi tempat ini, kita harus ke pulau Madura yang terkenal dengan budaya Kerapan Sapi. Tepatnya ujung timur dari pulau Madura. Yaitu di kabupaten Sumenep.

Dari kota, menuju ke Timur. Lebih mudah jika kita melalui pasar Bangkal. Pasar Bangkal ini bisa kita kunjungi, jika dari alun-alun kota Sumenep di depan masjid Jami’ menuju ke utara terus, tanpa belok kanan atau kiri. Setelah sampai di tugu di atasnya ada patung ayam jago, tepat jalan simpang tiga, kita tetap lurus. Setelah itu, baru akan tampak pasar Bangkal di hadapan kita. Jika bingung, bisa ditanyakan pada orang-orang di sana letak pasar Bangkal.

Kita mulai dari pasar Bangkal. Dari pasar Bangkal kita menuju ke arah timur. Setelah lepas dari kecamatan kota, kita masuk ke kecamatan Gapura. Nah, ini sudah hampir sampai di desa Banjar Barat. Kita lihat plakat atau tembok yang bertulisan tentang nama-nama desa. Seperti dari barat ada desa Parsanga, desa Paberasan, desa Beraji (Braji), desa Baban, desa Todinding (Batudinding), lalu masuk desa Banjar Barat (lihat peta Pulau Madura). Ingat baca plakat jalan atau tembok-tembok yang ada petunjuk jalannya.

Di jalan utama dari kota ini, tepatnya di desa Banjar Barat hanya ada dua jalan yang beraspal menuju utara. Dari barat, jalan aspal pertama yang ke utara menuju ke dusun Tembing atau kampung Tembing, kemudian agak ke timur sedikit jalan beraspal yang menuju ke kampung Kalangka. Di sana belok kiri jika kita berangkat dari kota Sumenep. Jalan terus ke utara. Jangan sekali-kali belok kanan atau kiri. Hingga sampai pada jalan turunan yang agak curam dan di sebelah kanannya ada tumpukan kuburan orang meninggal. Dari sana, lurus sedikit ke bawah, lalu ada jalan bercabang dua, ambil yang kiri. Nah, kita sampai di kampung Kalangka tempat aku dilahirkan tempo dulu.

Di kampung Kalangka ini, penduduknya mayoritas petani dengan pekerjaan sampingan dan serabutan. Termasuk pula ayahku. Dalam Kartu Tanda Penduduk, rata-rata masyarakat kampung Kalangka berprofesi sebagai petani. Ayahku memang petani. Namun juga punya sedikit kebun kelapa yang bisa menjadi tambang penghasilan bulanan. Selain itu, ayahku juga seorang pemanjat ulung pohon siwalan (Madura: naek) yang menghasilkan air nira (Madura: la’ang) yang diolah menjadi gula merah (Madura: kule tarebung). Hanya ada sebagian yang menggeluti profesi ini. Selain memang sulit, juga membutuhkan tenaga ekstra untuk sampai ke puncak pohon siwalan.

Jika dihitung dengan jari, hanya ada beberapa orang yang menggeluti profesi naek ini. Di kampung Kalangka hanya ada sekitar depalan (8) orang termasuk ayahku juga yang menggeluti dunia naek. Profesi naek ini tidak cukup dibahas dalam catatan ini. Hanya sebagai acuan usaha masyarakat kampung Kalangka untuk menyambung hidupnya. Sebenarnya bukan hanya kampung Kalangka, di Sumenep masih banyak masyarakat yang menggeluti profesi naek ini.

Sejarah Kalangka

Bicara tentang kampung Kalangka, saya teringat pada cerita sepupu dari anak saudari ayah, Thohir Mu’thi. Dia pernah bercerita padaku tentang asal-usul nama kampung Kalangka. Ketika aku teringat nama Kalangka, juga teringat dengan asal-usulnya. Selain itu juga teringat dengan sepupu dari anak saudari ibu, Taufiq Umar.

Terlebih dahulu tentang Taufiq Umar. Waktu dulu, aku mengikuti Markaz Bahasa Arab di Pesantren Al-in’am, kampung Pajagungan, desa Banjar Timur, kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep. Pada saat itu, segala nama versi Madura diusahakan menjadi nama mirip bahasa Arab. Diarab-arabkan. Seperti halnya juga nama kampungku sendiri, Kalangka. Ketika nama Taufiq Umar atau namaku (Junaidi) disebut harus dengan nama kampungku. Akhirnya nama kampungku juga diarabkan menjadi al-Kalangkaiy. Begitu katanya. Lucu sekali. Aku kadang dipanggil Junaidi al-Kalangkaiy, juga Taufiq Umar al-Kalangkaiy. Maksudnya berasal dari Kalangka.

Setelah saya kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya (waktu saya pertama kali masuk kuliah, masih IAIN Sunan Ampel Surabaya), ternyata ada juga teman perempuan yang memakai nama asal Madura yang dibahasaarabkan. Nur Azizah (Zizi, Zizah) dari pulau Gili Genting. Dalam akun facebook-nya dia menggunakan nama aku Zhie al-Gility. Ternyata tak jauh berbeda dengan pikiranku tempo dulu. Tapi aku belum bertanya secara jelas maksud al-Giliti tersebut. Namun, yang jelas keyakinanku mengatakan seperti itu. Nama daerah asal Madura yang dibahasaarabkan.

Sementara itu, kita kembali pada sejarah asal-usul Kalangka versi sepupuku, karena saya tidak menemukannya selain dari padanya. Waktu itu, dia bercerita tentang asal-usul tiap daerah di sekita desa Banjar Barat dan daerah-daerah lain yang mudah ditemukan sejarah atau asal-usul daerah tersebut.

Kalangka menurutnya sebuah jargon untuk maju berperang menghadapi serdadu Belanda tempo dulu oleh salah satu tokoh terkemuka di kampung itu. Tentunya sebelum memiliki nama kampung Kalangka. Karena memang meyakini persenjataan yang tidak memadai untuk melawan serdadu Belanda, maka seorang tokoh tersebut berucap dalam versi bahasa Madura: Menang tak menang, pakkun alangka. Kita bisa menerjemhkannya begini: “Menang tak menang, harus melangkah”. Akhirnya sang pejuang itu gugur. Sehingga untuk mengenangnya, kampung tersebut diberi nama Kalangka.

Itu awal mula nama kampung Kalangka versi Thohir Mu’thi sebagai tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama yang terpercaya di daerahnya. Sebelumnya, saya mengira nama kampung Kalangka berasal karena keberhasilan masyarakat setempat dalam memanen buah nangka. Dulu waktu saya kecil, di kampung saya (Kalangka) banyak sekali pohon nangka hingga buahnya bergelantungan. Karena sama-sama memiliki akhiaran KA, maka anggapan saya dulu nama kampung itu karena masyarakatnya memiliki pohon nangka yang banyak dengan buah yang bergelantungan lebat.

Untuk saat ini, pohon nangka sudah jarang ditemui di kampung Kalangka. Meskipun ada, hasil buahnya tidak sebagus waktu saya masih kecil sekitar tahun 1994 hingga 1999. Apalagi sekarang, sulit menemukan buah nangka yang bagus dengan rasa yang nikmat. Mungkin karena pengaruh zaman, pohon nangka tak mampu memberikan banyak buah yang bagus untuk masyarakat Kalangka.

Surabaya, 09 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: