Genetika Kesuburan Pasangan Suami-Istri

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Aku kali ini akan menulis catatan tentang problem kesuburan dan keberuntungan suami istri yang berpontensi tak mendapat keturunan karena faktor gen. Awalnya catatan ini berangkat dari ide tengah malam yang aku posting di akun facebook (FB), sekitar pukul 1 dini hari tertanggal 13 Oktober 2014. Aku tersadar tentang perihal suatu keluarga yang sulit mendapat keturunan. Ternyata, setelah diselidiki ada faktor gen yang memengaruhi kelambatan memiliki keturunan. Kemudian ide itu muncul dan diperkuat oleh salah satu buku yang kubaca. Lalu aku menerawang, teman-teman dan tetanggaku yang sejak lama menikah tapi tak mendapat keturunan. Di sinilah foktor gen berpengaruh selain memang ada kehendak Tuhan Yang Mahakuasa. Berikut janji status FB-ku yang sudah kuposting:

“Nantikan catatan saya tentang persoalan GENETIKA yang menjadi tanda-tanda sebuah rumah tangga sulit untuk memperoleh keturunan. Kadang orang memilih jodoh yang subur yang bisa memberikan keturunan dalam sebuah keluarga. Anda tahu? Perempuan macam apa yang berpotensi memberikan keturunan (subur) dengan banyak anak? Tunggulah catatanku selanjutnya. Terimakasih”.

Aku meyakini faktor gen juga berpengaruh terhadap proses pembenihan dalam rahim seorang istri. Aku ini memang bukan ahli dalam bidang kandungan. Namun, setidaknya aku memahami faktor-faktor dari banyak buku yang kubaca dan pengalaman yang kulihat di lingkungan sekitar. Dari sekelumit pandanganku, seorang istri dalam satu keluarga akan sulit untuk mendapat keturunan, jika: Pertama, sang istri (si wanita) merupakan anak tunggal dari dari pasangan suami-istri. Kedua orang tuanya baru memiliki keturunan setelah sekian tahun menikah. Kedua, sang suami (si laki-laki) juga merupakan anak tunggal dari pasangan suami-istri. Orang tuanya juga baru memiliki keturunan setelah menjalani hidup dalam pernikahan setelah sekian tahun. Betapa melelahkan. Inilah kehendak Tuhan yang tak perlu kita sesali. Proses untuk memiliki keturunan cukup sulit atau lama, bahkan bisa jadi tidak memiliki keturunan sama sekali. Keberadaan demikian jangan sampai menganggap nista bagi anak tunggal di antara kita.

Ketiga, salah suami atau istri yang merupakan anak tunggal. Hal ini juga berpotensi demikian pula. Tetapi, hal tersebut masih berimbang karena salah satunya bukan anak tunggal meski satu di antara mereka anak tunggal. Suami-istri yang demikian berpotensi memiliki keturunan dengan cepat, juga berpotensi proses memiliki keturunan cukup lama. Namun, jika kita memang merasa anak tunggal dan khawatir sulit mendapat keturunan, usahakan agar menikah tidak dengan sama-sama anak tunggal. Jika sudah terlanjur, perbanyak doalah agar cepat memiliki keturunan jika memang ingin segera memiliki momongan sebagai generasi masa depan.

Mungkin ini bukan merupakan satu catatan atau ide sepele. Perlu menjadi pertimbangan dan tak usah dirisaukan. Ide atau pandangan ini diperkuat oleh Nugroho Widjajanto (2014: 168) dalam sebuah karyanya, dia menulis dalam bentuk percakapan:

….“Hingga sekarang aku belum memiliki keturunan, Guru!”.
Ki Pamungkas tidak segera menjawab pertanyaan itu, ia hanya mengawasi muridnya dalam-dalam. Ada beberapa hal yang sesungguhnya sulit diutarakan kepada muridnya. Setelah mendorong kepala dan gula merah yang disantapnya dengan air kelapa, ia pun berkata, “Bukan aku ingin mengecewakanmu, Giri. Kau tampak sulit memperoleh keturunan karena memang demikian yang diturunkan dari keluargamu. Bukankah kau anak tunggal dari Ki Sumerat?”.
“Benar, Guru!”.
“Berapa usia ayahmu?”.
“Sekitar enam puluh tahun, Guru!”.
“Dan, usia mertuamu?”.
“Sekitar lima puluh tahun”.
“Arum juga anak tunggal bukan?”.
“Begitulah Giri, agaknya kau pun kesulitan memperoleh keturunan seperti ayahmu dan juga mertuamu. Namun, kau jangan kecewa, semua merupakan anugerah dari Gusti Allah. Hanya Gusti Allah yang mampu menciptakan apa saja. Kita sebagai hamba-Nya hanya mampu tunduk dan taat kepada Gusti Allah. Oleh karena itu, Giri, kita harus bersyukur atas segala sesuatu yang Tuhan ciptakan untuk kita”….

Begitu kiranya ide atau pandanganku tentang suami istri yang sulit mendapatkan keturunan. Bahkan dalam tulisannya, Nugroho Widjajanto juga mengungkap bahwa meski sudah diberi jamu untuk kesuburan, tak pernah berhasil. Ya, dari faktor genetika itu yang menjadi persoalan. Pernah dengar cerita nabi Ibrahim? Tentu sudah mendengar semua. Dia seorang nabi yang sulit mendapat keturunan dari istrinya – Siti Sarah. Kemudian dia menikahi salah satu budaknya, baru memiliki keturunan bernama nabi Ismail yang kita kenal dengan proses penyembelihannya pada Hari Raya Idul Adha sebagai hari bersejarah bagi umat Islam. Demikian sekelumit uraian catatan untuk edisi genetika yang aku yakini sebagai penyebab seseorang sulit untuk mendapat momongan hidup. Jika ada pendapat dan argumentasi lain, silakan berikan tanggapan anda.

Surabaya, 13 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: