Membunuh Budaya Korup dari Pesantren

Duta Masyarakat: Kamis, 28 Agustus 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab (Saat Kunjungan ke Bupati Bojonegoro - Kang Yoto/Suyoto/Jumat-03-10-2014)

Junaidi Khab
(Saat Kunjungan ke Bupati Bojonegoro – Kang Yoto/Suyoto/Jumat-03-10-2014)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan – yang katanya bermisi keislaman – itu jangan membiarkan para santrinya bermental layaknya maling. Jika kita bahasakan lebih sederhana lagi yaitu – maling samar-samar – yang sering kita jumpai dalam lingkungan pesantren. Dan tak menutup kemungkinan maling samar-sama ini juga terjadi di berbagai tempat. Namun, setidaknya pesantren dengan fondasi keislamannya tidak membiarkan para santrinya bermental maling.

Maling samar-samar ini dalam bahasa fiqhiyahnya disebut dengan istilah ghasab. Yaitu pencurian yang dilakukan dengan terang-terangan dan seakan-akan sang pencuri adalah pemilik barangnya sendiri. Jika kita mengartikan ghasab secara harfiah adalah mengambil sesuatau secara paksa dengan terang-terangan. Perilaku pencurian semacam ini sering terdengar bahkan fenomenal dalam lingkungan pesantren. Tentunya sedikit banyak ini mencoreng reputasi pesantren dengan almamaternya yang islami.

Bukti dalam kasus ghasab. Saat pagi sudah senyap oleh lantunan-lantunan dzikir di waktu subuh, datang seorang teman duduk di sampingku. Lalu aku bertanya perihal ghasab pada temanku yang alumnius pesantren tersebut. Dia mengatakan bahwa ghasab itu seakan sudah lumrah di pesantren. Lalu aku tegur dia karena sering memakai barang milik orang lain yang tanpa izinnya. Dia malah membantah, bahwa baginya hal semacam itu sudah menjadi kebiasaannya sejak berada di pesantren hingga sekarang. Aku hanya terdiam dan pikiran melayang pada suatu pesantren. Sungguh memalukan, didikan pesantren ternyata memiliki mental maling. Kasus semacam ini jangan sampai beranak pinak di pesantren.

Memang ada yang membenarkan bahwa sesuatu yang diyakini pemiliknya rela, itu tidak masalah digunakan. Namun dalam hal kepemilikan, seseorang tidak bisa menganggap sesuatu itu direlakan hanya oleh keyakinannya dan seenaknya saja. Kenyataannya banyak yang mengeluh tentang barang yang dipakai tanpa izin dari pemiliknya. Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa jika di pondok mencuri jarum, maka kelak di masyarakat bisa jadi mencuri jaran (kuda).

Ketegasan Pembina

Allah Swt. di dalam al-Quran berfirman: “Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksa dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. Tetapi barang siapa yang bertbobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. al-Maidah:38-39).

Ayat tersebut dengan jelas menegaskan bahwa pencuri harus diberi hukuman, yaitu potong tangan. Namun ayat tersebut ada yang mengartikan secara majasi saja sebagaiamana kita tahu bahwa al-Quran merupakan bahasa sastra yang sangat tinggi. Di dalam ayat tersebut ada makna tersirat yang perlu digali. Dalam hal ini arti potong tangan secara majasi bisa dikata dengan – memotong penyebab – seseorang itu bisa mencuri. Kita harus bisa menemukan penyebabnya, lalu kita dengan mudah memotong penyebab tersebut sehingga dia tidak mencuri lagi. Jika kita menerapkan potong tangan secara harfiah dalam ayat tersebut, akan banyak terjadi kontradiksi dan perlawanan dari umat manusia bahwa Islam itu ajarannya kejam.

Begitu pula dalam kasus ghasab yang banyak terjadi di lingkungan pesantren harus ada suatu usaha untuk menumbangkannya. Ghasab ini merupakan kasus akut yang berdampingan dengan kasus homo seksual (sodom) di lingkungan pesantren. Pembina tidak cukup dengan menghukum pelaku ghasab secara fisik atau psikis saja. Namun pembina dan jajaran pesantren harus mampu untuk memotong penyebab para santri melakukan ghasab. Dari usaha semacam ini perlu sebuah ketegasan dari pembina untuk mengubur kebiasaan santri tersebut dari pesantren agar tidak meng-ghasab barang yang bukan miliknya.

Sungguh tidak etis jika pesantren dibiarkan santri-santrinya membiasakan budaya ghasab ini. Padahal lingkungan pesantren dikenal sebagai penegak hukum dengan dalil-dalil al-Quran dan al-Hadis. Atau jangan-jangan dalil itu mereka gunakan hanya untuk dijadikan tameng bagi dirinya ketika terkena suatu kasus. Sehingga ia lolos dari jeratan hukum yang sedang berlaku. Perlu diingat bahwa dalil-dalil dalam al-Quran, al-Hadis, dan kitab-kitab klasik lainnya bukan untuk membentengi kesalahan-kesalahan, tetapi dalil-dalil itu dikemas untuk kemaslahatan dan kebaikan umat manusia.

Kebiasaan bejat – meng-ghasab – barang di pesantren harus dimusnahkan sejak dini guna mencetak kader dan santri-santri yang memiliki kecerdasan dan kesalehan, baik cerdas dan saleh dalam hal keilmuan maupun sosial. Tidak menutup kemungkinan, santri yang terbiasa dengan ghasab, bisa menjadi koruptor kelas kakap kelak ketika berhadapan dengan uang.

Kita telah lihat bahwa korupsi menjerat mereka yang kualitas pendidikannya tinggi dan rata-rata beragama Islam. Yang sangat mengenaskan birokrasi dengan fondasi keislaman yang menjadi sarang koruptor, mislakan kasus pengadaan al-Quran, dan pengelolaan dana haji. Selain menindak dan memberikan sanksi yang tegas bagi mereka yang melakukan ghasab, tindakan ini juga memberikan kenyamanan lingkungan pesantren. Hakikatnya pesantren juga telah mencoba pengkaderan antikorupsi dengan menumbangkan hal sepele semacam ghasab yang sudah mengakar kuat di pesantren.

* Penulis adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361      

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: