Melepas Ketergantungan Bahasa Bangsa Indonesia

Harian Analisa: Jumat, 05 September 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Bangsa Indonesia kaya akan pulau. Selain itu pula, bangsa Indonesia kaya akan budaya dan tradisi yang berbeda-beda. Budaya dan tradisi itu tumbuh dan berkembang dari masing-masing pulau yang ada di Indonesia. Bukan hanya dalam lintas pulau budaya dan tradisi itu tumbuh dan berkembang. Namun dalam satu pulau ras dan etnis menumbuhkan budaya dan tradisi yang berbeda pula. Bahkan beragam bahsa di Indonesia bisa kita jumpai dari Sabang hingga Merauke. Sehingga tidak mengherankan jika banyak bangsa asing yang berdatangan ke Indonesia untuk menikmati keindahan alam yang kaya raya ini.

Uniknya, meskipun bangsa Indonesia ini berasal dari ras, etnis, bangsa, budaya, dan tradisi yang berbeda bisa dipersatukan melalui Bhinneka Tunggal Ika. Hal yang sangat menarik kita kaji bersama meskipun berasal dari berbagai perbedaan namun tetap satu jua. Itulah yang menjadi landasan negeri ini bersatu padu dalam tumpuan yang sama yaitu merdeka dari penjajahan bangsa asing.

Namun meskipun demikian kuatnya persatuan bangsa Indonesia. Itu semua juga tidak lepas dari sistem interaksi sosialnya yang begitu kuat. Perpaduan antara interaksi dan bahasa menjadi landasan yang sangat penting dalam membangun keutuhan bangsa. Interaksi dan bahasa membangun komunikasi hingga satu sama lainnya baik lintas ras, bangsa, budaya, dan pulau bisa saling berbagi dalam hal pengetahuan dan pengalamannya.

Eksistensi Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia secara nasional ada yang mengatakan berasal dari bahasa melayu asli. Namun kenyataannya pada saat ini bahasa melayu merupakan bahasa negara Malaysia secara utuh dan resmi. Jika dipandang dari asalnya memang bangsa Indonesia ini memiliki banyak bahasa yang diadopsi dari berbagai pulau di nusantara ini, bukan hanya bahasa melayu tulen.

Jika memang memakai bahasa melayu tulen, maka bangsa Indonesia ketika berbicara akan mirip dengan Upin dan Ipin film dari Malaysia yang isu pengarangnya asli dari Indonesia. Kata ‘saya’ bukanlah seperti itu. Akan tetapi saya harus tetap berupa bahasa melayu ‘saye’.

Sangat mengherankan sekali jika bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu. Karena melihat pada perkembangan sejarah bangsa Indonesia yang mendominasi adalah masyarakat yang berasal dari pulau Jawa. Kekonsistenan bahasa bangsa Indonesia kini seakan larut dalam pergolakan politik sehingga kurang diperhatikan asal usulnya dan kepemilikannya. Mungkin perlu kita sadari bahwa bangsa yang bermotto Bhinneka Tunggal Ika ini bahasanya tidak akan lepas dari beberapa serapan dari berbagai ras, etnis, suku, budaya, dan tradisi masyarakat itu sendiri. Saat ini tidak pantas rasanya dengan memungkiri bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa melayu, apalagi ketika Malaysia sudah lepas dari NKRI.

Selain itu pula tentu terdapat bahasa serapan dari bangsa asing yan menjajah negeri ini pada masa silam. Keberagaman penjajah dari beberapa negara asing juga menjadi salah satu laju perjalanan bahasa bangsa Indonesia. Tidak dapat dimungkiri kalau masyarakat Indonesia bisa berbahasa asing seperti bahasa Portugis, Inggris, Belanda , dan Jepang. Karena mereka secara tidak sadar telah memahami bahasa bangsa-bangsa asing tersebut. Dan juga tidak dapat disangkal bahasa yang mereka kuasai dari bangsa asing menjadi warisan kepada generasi berikutnya. Dari sini untuk membangun bahasa bangsa Indonesia yang utuh dan unik perlu diprakarsai dan dipelopori agar bahasa bangsa Indonesia tidak lagi bergantung pada bahasa bangsa asing.

Jawa vs Madura

Dua suku ini yang mungkin menurut hemat penulis merupakan suku yang paling unik dalam hal tata bahasa dibanding dengan bahasa-bahasa suku lainnya. Bahasa suku Jawa dan Madura di sisi lain sangat bertentangan dan di sisi lain pula sangat akrab dan berdekatan. Penulis kira bahasa Indonesia banyak menyerap dari dua suku bangsa ini, selain juga menyerap bahasa melayu sebelum Malaysia lepas dari NKRI.

Kekontrasan antara bahasa suku Jawa dan suku Madura sangat kentara ketika berbicara yang menjadi kekhasan bahasa suku mereka masing-masing. Jika bahasa suku Jawa logatnya medhok, yaitu mendisis sangat keras. Sedangkan bahasa suku Madura terlihat ketika berbicara seakan ditarik-tarik. Selain itu pula, kekontrasan antara bahasa suku Jawa dan Madura terlihat ketika mengucapkan suatu huruf dalam satu kata. Pengucapan kata ‘wadir’ oleh orang Jawa beda dengan pengucapan orang Madura yang menjadi kata ‘bedir’. Madura identik dengan tidak bisa menggunakan huruf ‘w’ meskipun sebenarnya mereka bisa. Masih banyak perbedaan bahasa yang unik antara suku Jawa dan Madura.

Perlu juga kita mengkaji asal-usul bahasa suku Jawa dan Madura. Bahasa suku Jawa identik dengan bahasa Jepang. Yang mana kita lihat saja dari sisi penjajahan bahwa penjajah yang memiliki pengaruh yang sangat kuat adalah Jepang. Karena dengan kekerasannya itulah pengaruh bangsa Jepang sangat kuat. Bahasa Jawa jika dilihat dari unsur katanya banyak mengadopsi dari bahasa Jepang yang didominasi oleh huruf “O”. Misalkan dalam bahasa Jepang; Tokyo, Toshiba, Hiroshima, Naruto, dan Hirohito. Begitu juga dalam bahasa Jawa misalkan kata; Jawa dibaca Jowo, Surabaya dibaca Suroboyo, Wonocolo, dan Wonosobo.

Itulah uniknya bahasa bangsa Indonesia yang menjadi bahasa nasional dan bahasa persatuan. Sangat disayangkan sekali, secara tidak langsung NKRI ini tidak memiliki independensi dalam penggunaan bahasa resmi. Meskipun telah menyerap dari berbagai bahasa lokal, secara historis bahasa lokal tersebut masih bercorak bahasa bangsa asing (Jepang) dan masih berdalih dengan berasal dari bahasa melayu asli (Malaysia). Jika dari sisi bahasa bangsa Indonesia ini masih ada ketergantungan dengan bahasa negara lain, maka secara pasti bangsa Indonesia ini tidak mudah lepas dari jajahannya. Karena bahasa itu memiliki otoritas yang sangat mendominasi dalam kehidupan berbudaya dan berbangsa.

Namun, meski bahasa bangsa Indonesia ini masih ada ketergantungan pada bahasa negara asing, maka dengan komitmen untuk terus merdeka berdasar pada UUD ’45 dan Bhinneka Tunggal Ika kita harus terus memupuk dan menunjukkan identitas bahwa kita adalah bangsa Indonesia yang telah bersatu dari jajahan bangsa asing.

* Penulis adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Bisa dibaca dan dinikmati lebih lanjut di: http://analisadaily.com/news/read/melepas-ketergantungan-bahasa-bangsa-indonesia/61030/2014/09/05

atau juga bisa dibaca dalam PDF berikut ini: Harian Analisa Jumat, Melepas Ketergantungan bahasa Indonesia oleh Junaidi Khab . Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: