Makna Kehidupan dalam Novel

Republika:Minggu, 07 September 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Novel menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah cerita tentang suatu kehidupan seseorang yang dibuat-buat dan akan tetapi ada sangkut-pautnya (bersinggungan) dengan kehidupan manusia. Selain novel juga ada jenis lain yang mirip, yaitu roman. Namun, antara novel dan roman di sini memiliki perebedaan yang sangat mencolok. Novel menceritakan suatu kehidupan yang dikarang (fiksi), sedangkan roman merupakan karya sastra yang ditulis memang ada dalam kehidupan manusia (pernah terjadi).

Salah satu contoh roman adalah “Mary, Perawan Suci Maryam” penerbit Pustaka Iman (Mizan Group) tahun 2007, yaitu salah satu cerita tentang kehidupan Maryam (ibunda Yesus) dan perjalanan Yesus sebagai penyelamat bagi kaumnya sehingga dia disalib oleh kaumnya sendiri demi menebus dosa-dosa kaumnya.

Selain itu pula, novel tidak kalah lebih menarik dibanding dengan roman yang memang menceritakan suatu kehidupan yang telah nyata terjadi. Meskipun novel merupakan karangan yang hanya fiktif belaka, akan tetapi isi dari novel itu memberikan sumbangsih yang perlu diacungi jempol bagi kehidupan kita sehari-hari. Itu jika kita memang membaca dan menghayati apa yang terkandung dalam cerita sebuah novel.

Sebesar apapun bentuk novel itu, baik yang berupa buku tulisan hingga sampai yang difilmkan, jika masyarakat kurang menyadari dan mengadopsi nilai yang baik dari isi ceritanya. Maka sia-sialah keberadaan novel di tengah-tengah kita. Setidaknya, kita terhadap novel jangan hanya membaca dan dibiarkan begitu saja setelah kita selesai membacanya. Akan tetapi, kita harus mampu mengaplikasikan moral yang terkandung dalam novel tersebut.

Cinta dan Kehidupan

Mayoritas isi dalam sebuah novel adalah tentang kehidupan seseorang dalam mengarungi bahtera kehidupan untuk mendapatkan pasangan (jodoh/kekasih) sebagai pendampinnya. Dari kisah-kisah itu kita sering menemukan suatu kisah seseorang yang kehidupannya tidak dimiliki sendiri. Dalam artian, mereka tidak memiliki hak untuk memilih pilihannya dalam menempuh kehidupan agar bahagia. Semua lepas dari kendali, terutama kaum perempuan yang tidak banyak memiliki kewenangan dalam menentukan jalan hidupanya. Dalam sebuah novel sering dikisahkan bahwa seorang perempuan berada dalam kekuasaan orang laki-laki (orang tua/ayah). Tidak mengherankan jika perempuan menemukan pasangan hidupnya kalah dengan tekat dan kemauan orang tuanya.

Hal demikian yang sebenarnya sangat naïf dan sangat menjadikan seorang perempuan nista dalam menentukan jalan hidupnya. Kawin paksa yang sering kita baca dan kita rasakan saat membuka lembaran-lembaran dari beberapa buku novel. Seperti novel Siti Nurbaya yang mengisahkan seorang perempuan harus menikah dengan seseorang yang bukan pilihannya sendiri (Datuk Maringgih).

Ada satu contoh lagi yang bisa menjadi pelajaran dan pegangan hidup bagi kita semua dalam menginternalisasikan nilai positif isi sebuah novel, yaitu novel yang berjudul “Syuga Sonyaruri Memerahkan Kesunyian Malam” karya Nurul Ibad. Secara sepintas novel ini mengisahkan sosok perempuan yang dinikahkan secara paksa oleh permintaan seorang Gus yang memiliki kekeramatan dan banyak memiliki pengikut setia.

Seorang yang dipaksakan untuk menikah dengan lelaki pilihan Gus itu sebenarnya bukan pilihannya. Akan tetapi, perempuan itu telah mempunyai calon suami yang kelak akan membahagiakan hidupnya. Namun, takdir berjalan dengan apa yang telah menjadi garisnya. Perempuan itu melaksanakan pernikahannya meskipun hanya karena terpaksa.

Dalam bahtera kehidupannya mereka sebagai pasangan suami istri tidak mengalami kebahagiaan yang sempurna meskipun telah dikarunia seorang anak. Suaminya selingkuh dan Sonyaruri ditinggal serta tidak diurus sejak masa kehamilannya. Itulah dampak dari pemaksaan, padahal kita sudah mengetahui bahwa segala hal yang dipaksakan akan memiliki dampak yang kurang baik bagi salah satu pihak atau bahkan semuanya akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.

Peran Novel

Selain memberikan hiburan dan menghilangkan rasa jenuh, sebenarnya novel memiliki peran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia meskipun tidak sama dengan buku-buku lainnya yang bersifat ilmiah. Hal itu akan dirasakan jika kita benar-benar mencermati dan mengambil kandungan dari novel yang kita baca. Kita mengatahui dari pelbagai buku novel yang mengisahkan sebuah perkawinan secara paksa oleh orang tua atau orang yang diseganinya akan berdampak negatif bagi Pasutri yang akan menjalani kehidupan rumah tangga tersebut.

Namun meskipun telah banyak buku-buku novel yang telah terbit dan dikonsumsi oleh masyarakat secara menyeluruh, kawin paksa tetap masih terjadi di kalangan masyarakat. Ini yang sangat mengganjal dalam benak kita. Jika kita masih mau berpikir panjang dan lebih rasional lagi terhadap kandungan dan isi pesan dari novel itu sangatlah memberikan sumbangsih bagi kehidupan kita agar lebih tenteram dan bahagia.

Kebahagiaan, kesengsaraan, pertengkaran, kesusahan, dan tanggung jawab hidup kelak dalam perjalanan hidup bukan kembali pada pelopornya, tetapi kembali pada yang menjalani kehidupan. Apakah dalam hal demikian tidak haram dan berdosa bagi Ortu atau seorang Gus menyiksa batin seseorang dengan kekeramatannya? Orang tua memang bertujuan membahagiakan anaknya dengan pilihannya pula. Jika anak itu merasa bahagia, maka orang tuanya pun akan ikut dalam kebahagiaan tersebut.

Kawin paksa yang kini menjadi kebiasaan orang tua atas pilihannya sendiri dan tidak memikirkan nasib anakya itu merupakan sikap keegoisan tersendiri. Jika kita mengaca pada dampak yang akan terjadi tentu kita akan lebih menyerahkan pilihan pada meraka yang akan menjalani kehidupan dalam berkeluarga.

Meskipun orang tua memiliki wewenang menurut ajaran Islam untuk memaksakan anaknya menikah dengan pilihannya itu masih tidak dibenarkan jika kelak si anak akan bertindak dengan hal-hal yang lebih dilarang oleh agama. Seperti perceraian antara Pasutri saat masih dalam usia muda, dan hingga banyak janda muda yang nganggur, untung saja jika tidak menjadi pekerja Seks Komersial (PSK).

Republika, 07 September 2014 Makna Kehidupan dalam Novel oleh Junaidi Khab

Republika, 07 September 2014 Makna Kehidupan dalam Novel oleh Junaidi Khab

Mari kita manfaatkan novel sebagai bentuk renungan dari kisah-kisahnya yang memang ada kaitannya dengan kehidupan ini. Novel jangan hanya dijadikan bahan bacaan dan hiburan saja, akan tetapi kita harus mampu mengambil manfaat dan hikmah di balik isi dan ceritanya. Dengan demikian sedikit banyak kehidupan rumah tangga masyarakat akan mengalami keharmonisan dan kebahagiaan sebagaimana mestinya. Di sini kita akan menemukan titik terang peran sastra lewat penulisan buku-buku novel.

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/14/09/07/nbj8e1-makna-kehidupan-dalam-novel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: