Cincin untuk Muna

Bangka Pos: Minggu, 24 Agustus 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Cincin untuk Muna (Junaidi Khab)

Cincin untuk Muna (Junaidi Khab)

Desir-desir angin malam berlalu di depan halaman rumahku. Belalang di rimbunan rumput liar sedang asik menyanyikan lagu di tengah kesunyian. Anak-anak dari jauh tampak dengan obornya menelusuri rerumputan liar itu untuk menangkap belalang yang bersuara nyaring nan merdu. Suara glodak dan bunyi-bunyi peralatan makan terdengar jelas dari bilik dapur. Suasana itu makin lebih mengasyikkan dan syahdu. Gelapnya malam ditemani senyuman bintang-bintang memberikan celah bagiku mengarungi dunia khayal yang teramat tinggi. Kebetulan waktu itu penanggalan masih muda belia sehingga rembulan tak menampakkan wajahnya.

Dengan damar di sebelahku aku bangkit mencari tempat yang lebih nyaman. Kulihat di pojok serambi ada sebuah ranjang bambu yang melengkung khusus untuk tiduran. Damar kutaruh dan aku mengambil ranjang itu. Ranjang kuletakkan di halaman rumah. Aku merebahkan diri dengan menaruh dua tangan di bawah kepala sebagai bantal sembari melihat gemerlapnya bintang-bintang. Sejenak terbangun meniup damar untuk menghemat minyak tanah yang digunakan. Secepat kilat aku kembali lagi ke ranjang.

Suasana malam yang hening membawaku pada masa depan. Di sana, di atas langit aku bersama Muna. Bersanding di pelaminan sebagai bahterah dalam kehidupan rumah tangga. Perasaan itu sudah lama kutanam. Kini harus kuberi pupuk agar tumbuh dengan subur dan berbuah. Muna dalam semaian itu akan menjadi benih kehidupanku. Dia akan kujadikan permaisuri dalam singgasanaku.

Suasana berubah mengagetkan. Khayalanku yang berada di langit nan biru itu tiba-tiba terjatuh ke bumi. Mengambang di udara. Hingga terkapar di tanah. Aku tersentak. Tiba-tiba ibuku berada di sampingku dengan damar di tangan kirinya.

“Joe, kenapa kamu menyendiri di bawah kolong langit?”.

“Gak, gak papa bu”.

“Ayo tidur, ini sudah larut malam”.

“Iya bu, pukul berapa sekarang?”.

“Ini sudah pukul 11:38 WIB Joe. Ayo cepat pindah nanti kamu sakit”.

Dengan tubuh sempoyongan aku berusaha bangkit dari ranjang bambu itu. Sementara ibuku dengan damar di tangan kirinya menuju rumah. Di kepalanya tampak terlihat tampah dari anyaman bambu dan di lengan kanannya mengapit sebuah keranjang berisi jagung yang baru selesai digiling. Aku berdiri menggulung dan memperbaiki sarung yang kupakai menutupi badan sejak tadi. Ranjang itu harus kutinggalkan sendiri bersama curhatan angin malam yang dingin disapa oleh bintang-bintang di langit. Pintu rumah kukunci rapat-rapat dan merebahkan diri di atas ranjang beralas tikar anyaman daun pohon siwalan penuh dengan kutu-kutu pemakan darah.

***

Sungguh malam yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Langit menghadirkan sedikit bintang dan merestui rembulan menampakkan auranya. Bayang-bayang kawat jemuran di halaman rumah terlihat begitu jelas. Pohon di sekeliling rumahku bertiduran di depan rumahku. Lampu damar yang biasa menyala kini tertidur lantaran sudah ngantuk setelah beberapa malam begadang di serambi rumahku. Aku duduk di atas ranjang bambu dengan menopangkan kedua tangan dan mangayunkan kedua kaki.

“Joe, bagaimana rencanamu melamar Muna?”.

Tiba-tiba ayah datang menyapaku dibuntuti ibuku di belakangnya dengan seranjang jagung yang harus dikeropeng. Jantungku berdebar bagaikan sudah berada di level sembilan derajat selsius. Sambil menuju ranjang dan menatap diriku karena tampak kaget dengan sapaannya. Lalu mereka duduk di sampingku. Terpaksa aku harus menjawab dan menjelaskannya.

“Iya yah, rencanaku minggu depan”.

“Tapi kamu yakin bahwa keluarga Muna akan menerimamu?”.

“Itulah yang kupikirkan selama ini”.

“Nanti siapa yang akan menjadi jomblangmu ke keluarganya?”.

“Aku masih bingung entah siapa. Mungkin ayah punya usulan?”.

Sejenak ayah terdiam. Melihat bayangannya di bawah sinar rembulan. Ia memikirkan orang yang tepat untuk mewakiliku melamar Muna. Karena jika hanya orang biasa kemungkinan kurang memberikan rasa serius pada keluarga Muna. Mereka menyadari antara keluar Joe dan Muna jauh berbeda dari sisi kasta dan derajat. Muna kalangan ningrat, keluarganya terhormat, wibawa, dan terpandang di mata masyarakat. Sedangkan dirinya hanya anak petani yang tak memiliki taring dan taji yang tajam.

“Mmm… Bagaimana jika kita minta bantuan Karto, sepupu ayah Muna saja?”.

“Iya, saya setuju yah”.

“Benar, kita minta bantuan Karto saja untuk melamar Muna untuk memasang cincinnya secara langsung oleh Joe”. Sahut ibuku menyetujui usulan ayah.

Aku hanya bisa pasrah pada keadaanku dan pada tuhan dengan angkatan tanganku di malam hari dan ketika menghadapnya. Segala usaha telah dan akan kulakukan untuk meminang Muna. Malam itu menghasilkan kesepakatan kekeluargaan. Meski di belakang itu banyak tetanggaku yang bilang aku dan keluargaku tak tahu diri mau meminang orang golongan darah biru. Namun gosip-gosip dan angin-angin gerah itu kusapu dengan cintaku yang melakat pada Muna.

***

Segala perbekalan berangkat ke rumah Muna untuk meminangnya sudah dipersiapkan malam itu. Tepatnya tanggal tujuh belas Rabi’ul Awwal. Iring-iringan bayangan Joe, keluarganya, dan Karto di bawah sinar rembulan berkejar-kejaran. Cincin lamarannya sudah disiapkan di saku almamaternya.

Tak ada angin tak ada suara kembang api sebagaimana ketika para tetangganya akan melamar seseorang. Karena mereka sinis dan tak yakin Joe akan diterima oleh keluarga Muna. Bagaikan langit dan bumi. Tak mungkin mereka bersatu dalam satu keluarga. Dengan suasan demikian mereka merasa nyaman dan tenang menyusuri jalan.

Halaman rumah Muna sudah tampak dari kejauhan. Salam pun dilontarkan di depan rumahnya. Sahutan salam dari dalam tampak suara laki-laki dewasa berwibawa yang menjadikan bulu-bulu kulit keriting kecuali Karto yang juga memang berwibawa di mata masyarakat. Ibuku masuk ke dapur membawa suguhan bagi keluarga Muna sebagai mana adat di daerahku. Aku dan ayah duduk di samping pak Karto.

Perbincangan ayah Muna dan pak Karto sudah hangat. Aku hanya menikmati dan menghafal segala apa yang diucapkan oleh ayah Muna. Karena segala ucapannya merupakan nasehat kehidupan. Namun di tengah-tengah perbincangannya dengan Karto ketika pak Karto menyatakan meminang Muna untuk diriku. Badanku memanas. Keringat bercucuran. Kepalaku menunduk malu. Begitu pula dengan ayahku.

Segera pak Karto pamitan pada ayah Muna dengan penuh rasa hormat. Ayahnya tidak setuju Muna dipinang oleh diriku. Dalam pejalan pulang kepalaku terasa mengembang panas. Hatiku terpukul dan terlapuk. Hatiku terus berkata-kata. Ini salahku. Air mataku berlinang. Mulutku bungkam meski ayah dan ibu terus risih dengan kata-katanya di bawah sinar rembulan. Malu rasanya aku dipandangi rembulan. Ia seakan ikut merasa kesedihanku.

Kini aku harus memakan serapah dari para tetanggaku. Setiba di rumah, aku sengaja langsung makan hingga kenyang lalu minum hingga puas. Agar kejadian yang baru saja kuhadapi hilang dalam tidur. Kantuk pun menyapa mataku. Aku langsung merebahkan diri tanpa melepas baju resmi yang kupakai tadi.

***

Keesokan malamnya aku mendengar tuturan tetanggaku. Setelah Muna mendengar jawaban ayahnya, ia langsung lari ke tempat tidurnya. Ia tengkurap dengan sebuah bantal. Air matanya menganak sungai di bantalnya. Ayahnya hanya melihat dari jarak jauh. Menghela nafas pertanda kesal dengan kelakuan Muna karena tidak setuju dengan kehendak ayahnya. Ia hanya terisak dalam kamarnya dan mengenang janjinya dan janjiku dahulu kala.

Sebelumnya aku dan Muna pernah mengikat janji ketika berjumpa di suatu universitas di Amerika. Kebetulan saat itu ada pertukaran mahasiswa. Di sana cintaku tumbuh dan berkembang sekitar delapan tahun hingga sekarang. Aku hanya tersipu di ranjang reotku. Entah apa yang dipikirkan oleh Muna di sana. Dari sela-sela lubang genting tembus sinar rembulan. Aku memiringkan kepala mengarah cahaya itu di balik celah genting rumahku. Di sana lagi aku merasa senang bersanding dengan Muna.

Sudah lama aku terlapuk hingga seakan lupa pada kejadian itu. Aktivitasku berjalan seirama dengan kemelut jiwaku. Cukup sulit melupakan. Namun aku menyadari itu akan membawaku pada bayangan gelap yang akan lebih menjauhkan diriku dengan Muna. Kejadian memilukan itu sudah habis termakan perjalanan hari dan malam.

***

Tiba bulan Rabiul Akhir hijriyah. Aku mendengar kabar Muna tiada di rumahnya. Ia minggat. Tak lama kemudian di kala bulan menunjukkan tanggal tujuh malam itu pak Rasto mendatangi keluargaku. Dengan penuh wibawa dan terhormat ayah Muna menemui ayahku. Perbincangan mereka memilukan sinar rembulan yang terlukis oleh bayangan pohon siwalan di depan rumahku.

Ibu duduk iftirasy bagaikan duduk hampir selesai solat di sebelah ayahku. Aku hanya merebah diri di dalam rumah mendengarkan perbincangan ayah dengan pak Rasto. Tak ada obrolan yang ekstrim di antara ayahku dan ayah Muna. Pak Rasto hanya memastikan keberadaan Muna ke rumahku. Namun ayahku menyangkal tak menyembunyikan Muna di rumahku. Tak sempat disuguhi secangkir kopi pak Rasto langsung pamitan pulang.

Bermacam omongan orang-orang tentang diriku. Setiap kata yang keluar dari mereka bahwa aku menjampi-jampi Muna. Padahal tidak. Aku hanya melepas daun telingaku mendengar omongan orang-orang dan tetanggaku. Aku merasa iba dengan keminggatan Muna. Hatiku jadi khawatir dan was-was. Malam itu diriku terus menyusuri terangnya sinar rembulan di balik celah kecil genting rumahku hingga terlarut dalam dunia mimpi mengarungi nasibku yang tak direstui oleh pak Rasto.

***

Keesokan malamnya tanggal delapan bulan itu pak Rasto mendatangi orang tuaku lagi. Entah apa yang akan ia katakan dan sumpahkan pada ayahku mengenai keminggatan Muna. Debar-debar jantungku makin mejadi-jadi. Perasaanku tak karuan terhadap sepak terjang pak Rasto nanti.

Dari bilik tirai rumah aku mengintip kedatangan pak Rasto yang sedang berada di serambi rumahku. Dari perbincangannya aku mendengar pak Rasto membicarakan tentang diriku. Tak jauh dari itu terdengar pak Rasto meminta cincin pada ayahku. Aku pun tergopoh-gopoh di dalam rumah mencari almamater yang kupakai bulan kemarin. Aku mencari cincin yang kutaruh di saku almamaterku ketika melamar Muna bulan lalu. Ternyata masih mengkilap setelah kubuka.

Tiba-tiba ayahku masuk ke dalam rumah. Aku pun pura-pura tak tahu. Cincin itu kusembunyikan ke belakang pinggangku. Melihat tingkahku, ayah menaruh curiga padaku namun ia tak menghiraukannya. Lalu ia menanyakan cincin yang akan diberikan pada Muna sebagai pengikat tali pernikahan yang sah bulan lalu. Aku pun langsung melepas tanganku di belakang pinggangku dan kuserahkan cincin dalam kotak berwarna merah itu padanya. Itu pertanda pak Sarto merestui pernikahanku dengan Muna. Kemelut jiwa pun terasa sirna di bawah sinar rembulan tanggal lima belas minggu yang akan datang. Di saat itu Muna akan dipersandingkan denganku di atas mempelai yangakan disaksikan oleh para tetangga dan sanak familiku. Mimpiku dan mimpinya di atas pelangi akan menjadi titik hujan di atas bahtera keluarga ningrat dan keluarga berkarat disaksikan oleh sinar rembulan.

Surabaya, 18 April 2013

 

* Cerpenis Tinggal di Surabaya dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

URL                            : junaidikhab.wordpress.com

Facebook/Twitter        : Junaidi Khab (john_khab@yahoo.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: