Buku Dongeng dan Ancaman Kematian Tradisi Lisan

Riau Pos: Ahad, 17 Agustus 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Riau Pos, 17 Agustus 2014 Buku Dongeng dan Ancaman Kematian Tradisi Lisan oleh Junaidi Khab

Riau Pos, 17 Agustus 2014 Buku Dongeng dan Ancaman Kematian Tradisi Lisan oleh Junaidi Khab

Dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (fiktif) yang biasanya diminati oleh anak-anak. Namun, anak-anak bisa terhibur dan bisa mengambil hikmah dari dongeng yang ia dengar. Maka dari itu, dongeng sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak-anak usia dini.

Bercerita atau berdongeng merupakan sebuah keterampilan mengolah kata dan rasa (secara lisan) hingga menjadi menarik dan unik dari kisah fiktif. Sehingga para pendengarnya seakan mendengarkan kisah yang sebenarnya dan benar-benar ada dan terjadi. Sealain itu, berdongeng mengajarkan kepada anak-anak kita untuk belajar mendengarkan orang lain dan menginspirasinya agar melakukan hal-hal positif sebagaimana ditokohkan dalam kisah dongeng yang dilisankan.

Namun sayangnya, dongeng sekarang sudah berganti, dari lisan menjadi tulisan. Misalkan buku dongeng karya MB. Rahimsyah AR terbitan Dua Media yang berjudul “Kumpulan Dongeng Si Kancil Binatang Kecil Yang Cerdik Lucu dan Menggemaskan”. Padahal, dongeng dengan budaya lisan itu lebih bermanfaat daripada dongeng tulisan. Dongeng yang dilisankan oleh ibu-ibu bisa mengakrabkan dan menjalin hubungan baik dengan anak-anaknya.

Pergeseran yang berangsur-angsur dari kebudayaan yang bersifat oral ke arah kebudayaan yang makin dikuasai oleh tulisan kini sedang terjadi. Pergeseran ini merupakan suatu proses panjang yang berliku-liku. Orang tua (ibu) misalnya, sebagai tukang cerita amatir atau profesional, yang paling dekat dengan anak-anaknya, kini kehilangan keududukannya yang sentral dalam memlihara tradisi kelisanan.

Tradisi lisan bergeser ke tradisi tulisan. Ada sesuatu yang hilang dalam pergeseran tradisi ini. Selain hilannya figur pencerita di depan mata dan telinga, hilang juga stylized tertentu yang tidak didapati dalam tradisi tulisan. Misalkan gaya-gaya oral pencerita yang formulaik, skematis, dan menemonic patterned tidak dapat ditemukan dalam buku cerita (Sugihastuti, 2013:6). Bukan hanya hilangnya banyak ciri dan gaya kelisanan, namun juga yang lebih terasa adalah munculnya erosi atau tiadanya fungsi sosial seperti yang dikandung dalam tradisi kelisanan. Anak-anak yang getol membaca buku cerita itu tidak lagi berkomunikasi lisan dengan orang lain, baik dengan sesama audience maupun dengan tukang cerita yang ada di hadapannya.

Sekarang sastra tulis sudah memasyarakat di kalangan anak. Banyak majalah anak-anak dan remaja menyebar dan dibaca oleh kalangannya. Anak-anak yang sudah asing dengan dongeng lisan kini dapat menikmati cerita dalam bentuk teks tertulis, baik yang dimuat di majalah maupun yang dibukukan. Kebijakan penerbit untuk menerbitkan cerita anak dari negara asing ditempuh oleh penerbit dalam negeri.

Tapi, buku masih dinilai memberikan kemesraan antara anak dan orang tua sebagaimana tradisi cerita lisan. Anak-anak (usia 3-9 tahun) yang perlu dilatih berimajinasi melalui bacaan selayaknya ditemani. Dijalin kemesraan antara orang tua dan nak. Dulu kemesraan itu diwujudkan dengan dongeng lisan. Kini dongeng-dongeng itu sudah dibukukan. Maka, dongeng dalam buku-buku itu perlu dibacakan lagi agar antara orang tua dan anak masih bisa menjalin komunikasi. Dengan demikian, pembacanya pun masih diperlukan agar terjadi kontak kemesraan.

Plato dan Sokrates

Misalkan pada masa dulu di Minangkabau. Meski sudah mengenal tulisan pada masa pernaskahan, karya-karya sastra yang dihasilkan dalam bentuk tulisan tangan oleh para penyalin naskah, ternyata ketika disampaikan ke hadapan khalayak masih mengandalkan tradisi lisan. Naskah ditulis untuk dinyanyikan sehingga tidak mengherankan apabila dalam naskah tersebut komposisi lisan seperti formula dan komposisi formulaik masih sering dijumpai (Sastri Sunarti, 2013:94).

Sedangkan dongeng versi tulisan jika tidak dengan pengawasan orang tua, bisa menjadikan anak-anak bersifat individual dan membentuk mental acuh tak acuh untuk mendengarkan orang lain. Maka dari itu, dongeng versi tulisan harus dengan bimbingan orang tua. Sesekali ibunya yang menceritakan isi dongeng dalam tulisan tersebut, sesekali pula biarkan anak-anak membacanya sendiri. Cara tersebut cukup edukatif dan bisa menanamkan kebiasaan mendengarkan nasehat orang lain.

Sokrates dalam tulisan Plato menyatakan bahwa tulisan menghancurkan daya ingat. Orang-orang yang menggunakan tulisan menjadi mudah lupa, mengandalkan sumber luar untuk apa yang tidak mereka miliki dalam sumber internal mereka. Tulisan melemahkan pikiran. Selain itu, kalkulator juga akan melemahkan pikiran (Walter J. Ong, 2013:119).

Memang dalam sejarah kelisanan dan keaksraan yang diungkap oleh Walter J. Ong ini tidak mulus lantaran Plato yang kontra dengan masyarakat Yunani yang menginternalisasi tulisan sebagai budaya hidupnya. Secara logika, budaya tulis memang menjadi racun pikiran agar mati perlahan, kejeniusan dan ketajaman dalam berpikir akan sirna dan larut dalam tulisan.

Padahal sejatinya Plato maupun Sokrates tak akan bisa berpikir kritis dan memiliki kekuatan pikiran dengan nalar yang tinggi tanpa membaca (karya tulisan) yang ada di hadapannya. Pada saat ini, antara pikiran dalam budaya lisan dan tulisan sudah mulai imbang dengan kesadaran manusia mengikuti arus zaman yang terus menuntut agar terus berpikir efektif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Keaksaraan membukakan berbagai peluang bagi kata dan bagi eksistensi manusia yang tak terbayangkan tanpa tulisan. Budaya-budaya tulisan saat ini menghargai tradisi lisan mereka dan meratapi hilangnya tradisi-tradisi ini, tetapi Walter J. Ong menyatakan bahwa dirinya tak pernah menjumpai atau mendengar budaya lisan yang tidak ingin mencapai keaksaraan secepat mungkin. Tentu saja beberapa orang memang menentang keaksaraan, tetapi sebagian besar segera hilang dari pandangan. Namun kelisanan tidaklah hina, ia tetap mulia. Maka dari itu, antara budaya lisan dan tulisan harus berimbang dan berirama agar saling memberikan manfaat yang semestinya pendengar dan pembaca peroleh.

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

URL                            : junaidikhab.wordpress.com

Facebook/Twitter        : Junaidi Khab (john_khab@yahoo.com)

Bisa dibaca dan dinikmati di: http://www.riaupos.co/2144-spesial-buku-dongeng-dan-ancaman-kematian-tradisi-lisan.html

atau  bisa juga dalam bentuk PDF di: Riau Pos Ahad, 17 Agustus 2014 Buku Dongeng dan Ancaman Kematian Budaya Lisan oleh Junaidi Khab . Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: