Sajak-sajak Taufik Ikram Jamil

Riau Pos: Ahad, 13 Juli 2014

membaca prasasti kedukan bukit-
kota kapur – minyetujoh

tak mungkin lagi kalian melupakan hati
karena telah dipahat setiap kasih
pada batu-batu pilihan riang
apalagi lupa hanyalah persoalan waktu
sesuatu yang tanpa pangkal tanpa ujung
hingga tak ada pergi yang menjadi asbab
tak ada pulang yang menjadi harap

paling keduanya berpusar melingkupi segala
ditangkap rasa yang tak pernah berdusta
menjadi ratapan alam bermasa-masa
sebelum lumut menandai usia
lelah pada kisah yang menyerah
tertimbun dalih berlapis-lapis
makin dalam ke perut bumi
oleh takdir yang tak akan mengalah
karena suratan senantiasa asing
sebab tak mungkin memilikinya
walau sekedar ramal mengenal
mencoba ramah pada khayal

dan beginilah yang telah terjadi
diceritakan budi bermulut sunyi
pada catatan yang bukan untuk sendiri
sebab hidup adalah perkongsian semesta
setelah itu memberi tanpa teringat menerima
sehingga waktu pun seakan-akan pengulangan
dari yang tiada menuju ke ketiadaan
setiap tanda adalah kesementaraan
hingga tidak lengah dalam kefanaan
seperti tanah selalu tabah menadah
menanggung beban setiap masalah
dipijak-lapah oleh banyak persoalan
subur untuk kalah dan kemenangan
tidak sedikit juga dendam tersimpan
dan beginilah yang terjadi
depunta hyang sebenarnya tak pergi
dari muara takus hanya berangkat
memenuhi janji perjalankan puji
datang di matajap bertentara gajah
mengangkut berlaksa peti perkakas budi
bergantung untung bagi yang ingin
mengelak sukar dari yang hampir
hingga negeri makin melebar
jauh sekejaran angin berkibar
dengan kasih-sayang senantiasa bertebar
sabar menjalar tegar berakar
tapi di kotakapur kesetiaan tetap ditabalkan
sumpah serapah dan sumpah seranah
dipertalikan oleh akal
hikmah terkumpul tidak beremah
sampailah jawa menusuk  jiwa
berdampingan dengan macam-macam suka
sementara makin banyak terpunggahkan
kesediaan berbagi dari semua segi
berbelok ke pasai mencapai hakiki
demikian baginda nabi yang dicari
bertemu dalam diri
menyatu dengan berbaris puisi
segera menjadi hakikat
melekap di semua tempat
martabat yang sudah tamat
karena langkah-langkah yang dipastikan
selamat berkhidmat melebihi jasad

dan beginilah yang terjadi
semoga dimaklumi sejak dini
sambil lupakan jj hollander pengutip iri
dengan kebingungan sebesar bumi
bertanya mengapa pallawa mengapa arabi
di mana aksara melayu bersembunyi
setelah duapuluhan abad berperi
mencatat dirinya sendiri sebelum sepi

Catatan: Prasasti kedukanbukit, bukitkapur, dan minyetujuh, dikenal sebagai contoh bukti perjalanan peradaban tulis Melayu yang menggunakan bahasa Melayu kuno dan klasik, dengan huruf pallawa dan Arab, abad ke-7 sampai 14.

dari jawa 1

keris itu memang bukan untuk kalian
tak untuk tuah tak untuk jebat
tapi sejarah
memang dipenuhi ketidakterdugaan
hingga senjata tersebut
memburaikan kesetiaan
termasuk dalam genggam kawan-berkawan

lalu pantaskah segala curiga
berpangkal kepadaku
menerima sakit pertama
dari setiap tusukan
mengawali dendam
untuk semua peristiwa
padahal sebarang cerita
tak mungkin kuteroka
dengan susur galur dan alur
yang berlegar pada silsilah kabur
kemudian menghambur
ke seluruh debar bercampur gusar
begitu calar oleh tengkar
oleh nafsu yang mengular
melingkar berpendar-pendar
seperti tak akan berakhir
tak pernah berakhir

kesalahanku bukannya alpa
ketika sedikit pun tak kuasa
menahan hang tuah menekuk tameng sari
padahal gajah mada saja melupakannya
sebab majapahit tak akan goyah
hanya ulah seorang yang payah
sampailah hak keris itu
harus berpindah ke melaka
bertarung dengan setiap sangka
dengan kelok nasib yang tidak teraba
betapapun tajamnya membisa
menembus rasa berlama-lama
dalamnya aduh mak tiada terkira

aku bukan berharap ada yang mengerti
tetapi memahami adalah bagian nurani
besar oleh kesadaran berbudi
rapi berjajar bersama kemulian
ke dalamnya kita sila-bersila
mendahulukan yang hak
memperkatakan yang benar
ringan sama dijinjing
berat sama dipikul
sehasta bak sedepa
setitik jadikan selaut
segenggam hendaklah digunungkan
kita seumpama kuku dengan kulit
bagaikan menantang minyak yang penuh
sedikit tidak tertumpah lagi

sungguh kupercaya
patih kermajaya tidak setia
tapi ia juga bukan aria putera
menitipkan azimat hang tuah bersaudara
mengajarkan duabelas bahasa berpada
menuturkan yang patut menyusun yang runut
ke gunung sama mendaki
ke lembah sama menurun
ketangkasan pendekar bukan pada gerak
tetapi sabar menerima cabar
tunduk dalam amarah tidak menghindar
maka akulah melayu itu
hingga tak mungkin di depan
dalam aksi ganyang malaysia
ketika soekarno  dan tengku abdurrahman
bertengkar dan saling cakar
lupakan nusantara sampai ke asia
tak hanya antara sabang sampai marauke
bahkan menembus hati
meiiputi jiwa yang pasti peduli
dan dalam amuk mei yang berlaut darah
aku terkapar demi marwah
seperti melaksanakan sumpah
demang lebar daun dengan parameswara
tujuh abad sebelum senja itu
kemudian melahirkan dasar ekonomi baru
menjunjung duli rakyat sentosa

aku bukan berharap ada yang mengerti
tetapi memahami adalah bagian nurani
agar abadi menjadi manusia

Catatan: Sebuah prosa Melayu yang menurut A.Teuw belum ada tandingannya Hikayat Hang Tuah, banyak mengisahkan cerita hubungan Melaka – Majapahit. Hanya dengan keris tameng sari yang berasal dari Jawa, baru Hang Jebat dapat dikalahkan Hang Tuah. Seorang petinggi Melaka bernama Patih Kermajaya, yang memfitnah Hang Tuah, disebut dari Jawa. Sebaliknya, guru Hang Tuah, Aria Putera, dididik di Jawa.

pengakuan raje kecik

telah kulepaskan johor dan singapura
dalam kasih yang sehasta dari kematian
tapi tak belanda tak inggeris
tak akan lagi memiliki diri
ketika di sini telah kuhanyutkan daulat
dari depunta hyang sampai parameswara
dijulang mahmud dengan segenap rasa
berpusat di siak mengabadikan impian
bersama sumatera bersumpah setia
juga sambas di pinggir kalimantan
dipertemukan janji sekali jadi
tentu tak dapat terlupakan ayahku
yang terbujur hancur dalam kisah kabur
tapi apa salah saudara-maraku yang lain
hingga ditebas dalam bingung
mendahulukan ajal dari takdirnya
sehingga aku pun harus mengendap
ketika menziarahi pusara ayah
bertambah yatim dari yatim
ketika bersama bunda cik pong
untung digantung tidak bertali
begitulah akhirnya di pagaruyung
cerita bersambung meneruskan silang
ke jambi ke palembang datang mengenang
di muara takus bayang-membayang
ketika martabat dijodohkan waktu
hanya terlambat dua kaki dari doa
kepada harapan mendahului langkah
tertancap hasrat di barat bengkalis
pulau yang senantiasa menangis
direndam geram berlapis-lapis

tak kuabaikan bendahara
yang terbunuh dalam kuasa
tapi kupersunting bungsunya kamariah
menjadi ratu di hatiku satu
meski saudara kandungnya
sulaiman dan tengku tengah
tak putus-putus membuat ulah
tapi ke bintan aku bukan mengalah
bukan mengelak dari ceroboh johor
bukan air tumpas dalam tempayan
bukan bersilang suara dengan jiwa
pun tak cukup berat untuk ditimbang
secupak tak kujadikan segantang
cuma di tanah kelahiran hang tuah itu
di tanah demang lebar daun berseru
dilaungkan kembali tun abdul jamil berpadu
aku berpikir kerja dan jaya akan sehala
seperti dayung dengan piyau
laksana kebat dengan ikat
sehasrat sebati tak berperi-peri
adakah lagi maaf mendapat tempat
setelah khianat menjadi alat
sulaiman dan tengku tengah bersubahat
jahat menjilat bugis dan belanda dan inggeris
hingga untuk sebuah lambaian pun
aku terhumban
sampai isteriku kamariah ditawan perasaan
sebab memang tak putus air dicencang
tak pisah kiambang bertaup
ke mudik haruslah menghilir
galah bersauh pada air
bangau terbang kembali ke kubangan
betapapun selat melaka menjadi saksi
bahwa aku menolak perangai
kepada penjajah yang bermain pandai
telunjuk lurus kelengking berkait

raje kecik panggilanku
sultan abdul jalil rahmatsyah gelar diberi
tak akan pernah kalah oleh ulah
tak akan sumbang karena tingkah
maka kupersembahkan siak seluruh
menjadi sandaran ratusan juta manusia
karena pada akhirnya aku harus pergi
meski berjarak setipis kulit
dari tempat yang bernama datang

Catatan: Raje (a) Kecik, adalah pewaris Kerajaan Johor-Riau (termasuk Singapura), memerintah 1717-1722 dalam usia belia, 17 tahun, kemudian mendirikan Kerajaan Siak, Riau, 1722. Ia selalu dinisbatkan sebagai penyambung zuriat Kemaharajaan Sriwijaya yang kembali ke Sumatera.

alasan lancang kuning

lancang kuning ini
memang diperlayarkan malam hari
agar engkau tahu
betapa mudah pada siang
ketika terang terbentang
semua benda dapat dipandang
gelombang dan semua penghadang
begitu senang membuat bayang
sampai di matamu begitu laju
melebihi kekencangan angin
ditambah berlipat kecepatan cahaya

lancang kuning ini
memang diperlayarkan malam hari
ketika hari-hari tersimpan dalam rahasia
hitam warnanya tambahkan misteri
dikebat ragu dari segala penjuru
sedangkan ancaman adalah jiwanya
diperbudak takut pada kemudi
dengan risau yang memagut haluan
yang kesemuanya harus kau layani
tidak dengan mata telanjang
apalagi hanya dengan sekilas sadar
tapi dengan kewaspadaan seluruh indera
dalam satu dayung sekali sentak
menyentap layar dengan segenap kuat
agar dapat berdepan dengan tujuan
melempar jangkar di tempat pilihan
yang telah lama menunggu
dengan rindu tertahan-tahan

ke laut dalamlah tujuan terhala
sebab di dengkat yang bersaudara dangkal
engkau tak akan pernah bisa berenang
tapi dalam pun bukanlah perkara jarak
makanya saat engkau harus menyelam
engkau sebenarnya masuk ke dalam diri
yang ternyata lebih luas dari samudera
kemudian akan begitu mudah kau sadari
bagaimana nakhoda bukanlah kesempatan
untuk membaca angin dari arah tertentu
tapi petunjuk membenahi kemudi
menyabarkan jangkar di tengah badai
kelasi dan semua yang bernyawa
menambatkan tali di tanganmu yang tak dua
sebagai tanda penyerahan segala tiba
hampir seperti nasib kepada takdir

lancang kuning ini
memang diperlayarkan malam hari
agar wajah senantiasa menengadah ke atas
menemukan bintang yang menghalakan arah
dari tempat allah turun ke langit dunia
di malam bungsu menjelang fajar
dengan kemahabesaran yang tunggal
menebar berkah ke semua arah
sehingga engkau paham
hidup di dunia hanya tak bisa dilupakan

akhirnya jelas seperti didendangkan orang
lancang kuning berlayar malam
haluan menuju ke laut dalam
kalau nakhoda kurang paham
alamat kapal akan tenggelam

saat kotor

saat pikiran-pikiranku sedang kotor
bagaimanakah cara membersihkannya
tujuh senyum bersama kuntum bibirmu
direnjis simpati harum mewangi
tak jadi mantra pelusuh di benak
kembali padamu
padamu kembali sebagai sungut
padat dalam bentuk persegi panjang
walau sedikit sompik di satu sudut
lepas luncas dari regangan pinggir
mungkin karena masih terselip niat baik
secuil tindak yang dikemas maksud
bertambah liat akibat secebis harap
yang kadang-kadang mendesah
menggetarkan mimpi-mimpiku
seperti sekedar mengingatkan
hidup tak pernah berdiri sendiri
memberi dan menerima
adalah contoh bagaimana nasib
bukanlah pemegang peran satu-satunya
sehingga tak ada hal-ihwal pembiaran
kesendirian tak lain dari kebodohan
dibesarkan ketidaksadaran terhadap diri
walaupun kepadanya
bergantung janganlah bergantung budi

saat pikiran-pikiranku sedang kotor
aku ingin engkau bersih
tapi seperti aku
kau pasti merasa
tak akan pernah meraihnya

Taufik Ikram Jamil
Sastrawan, menulis puisi dan fiksi yang sudah diterbitkan dalam sejumlah buku, meraih berbagai penghargaan. Buku puisinya adalah tersebab haku melayu (1995) dan tersebab aku melayu (2010), sedang menyiapkan buku puisi tersebab daku melayu. Menetap di Pekanbaru, Riau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: