Sajak-Sajak Isbedy Stiawan Z.S.

Riau Pos: Ahad, 06 Juli 2014

Sajak Dua Bagian

1
aku tutup aurat mataku
kuselimuti birahi pahamu
aku hapus gambargambarmu:
senyum-godamu, tawa-iblismu
kini akan kukhatamkan
menenggelami ramadhan

2
aku ingin sampai padamu
yang di seberang laut
yang di balik gunung
yang di atas langit
yang di dalam jiwaku

inilah kendaraanku
sebulan ramadhanmu

2014

Pada Simpang Jalan

pada simpang jalan ini, aku memilih yang lurus lalu membelah pematang dan
meniti di antara dua sawah saat langit merah. selepas itu, sebuah sungai kulintasi
airnya sejuk mengelus kakiku, dan barulah kulihat surau yang kaujanjikan

“jika kau temui surau sesudah pematang dan selepas sungai, lesaplah ke dalam. katakan bahwa kau perantau yang hanya meracau, tapi sedikit sekali ibadah.”
sesuara, entah siapa namun sangat jelas di telingaku

maka kumasuki surau itu sesudah membasuh diri. aku seperti menulis surat lagi,
kali ini untuk-Mu. tak ada gambar-gambar perempuan—apalagi pengguda—yang
kutemui di jalan, di mal, di bioskop, di terminal, atau pelabuhan

30 Juni 2014; 16.06

Telah Menjadi Masa lalu

aku sudah tidak peduli apa yang kau lakukan, apapun yang kau laporkan
kau sudah menyusup jauh hingga tak kuhapal lagi apa pun dirimu
dan aku tak pula menyapamu, menyerumu dengan sapaan “sayang”
entah sebutan apa lagi

kau telah menjadi masa lalu. aku telah menemukan masa kini, yang kupeluk
menjadi masa-datang; di jalan sebuah kota yang tak pernah sepi, jemariku
tekah meremas jemarinya yang menulis kenangan-kenangan lama
untuk dipajang di masa esok

kau telah berada di belakangku—mungkin di depan—begitu jauh dan asing

28 Juni 2014


Tentang Kota, Sebuah De Ja Vu

kota ini telah asing bagimu
ketika kau datang suatu malam
langit tak berbintang, dan jalan-jalan
tak ramah seperti dulu
pertama kita bertemu. “bukan tanganku
yang kau tangkap, tapi bibirku
yang rapat kaulipat,” bisikmu

senja ini. sebuah jus dari hujan
yang menguyupkan kota ini — sebuah kota
yang pernah meninabobo hingga
kau secantik saat ini — mengurungkan
niatku mengunjungimu. membawamu jalan
hendak menghitung berapa panjang
kota yang selalu menguarkan kopi

“aku sedang menikmati perjalanan kita
dari kalimat-kalimat yang kau susun ini,” katamu
dan kau tak ingin menembus hujan. sebab,
katamu, biarlah kota yang tak ramah ini
merawat kenangan itu

hingga suatu hari, hati yang terbelah ini
akan terekat. sungguh lekat

di mana kita akan memadunya
jadi syair-syair baru…

14 Juni 2014; 17.12

Aku Ingin

aku ingin menciummu dengan bibirku yang kelu
agar kau mau menerimaku dari manis
dan pahit sekalipun: lalu langit
akan kauwarnai seperti pelangi
buka pink, warna kesukaanmu

aku ingin mengucapkan katakata
yang kusematkan di lidah keringku
agar kau paham suaraku tak sama dalam hatiku
: yang selalu puitis setiap memandangmu

aku mau menatapmu dengan matahatiku
agar yang kulihat keindadahan,
wajah cantikmu: suara merdu..

2014

Isbedy Stiawan Z.S.
Lahir di Tanjungkarang, Lampung, 5 Juni 1958. Sastrawan produktif, yang telah menghasilkan banyak buku puisi maupun prosa. Di antaranya Aku Tandai Tahi Lalatmu (2003), Menampar Angin (2003), Kota Cahaya (2005), Salamku pada Malam (2006), Laut Akhir (2007), Lelaki yang Membawa Matahari (2007), dan Setiap Baris Hujan (2008), Ziarah Ayah (2003), Bulan Rebah di Meja Diggers (2004), Dawai Kembali Berdenting (2004), dan lain-lain.

Silakan dibaca lebih lanjut di: http://www.riaupos.co/2080-spesial-sajak-sajak-isbedy-stiawan-z.s..html#.U8t5raNfvK0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: