Pemusik Samin

Riau Pos: Ahad, 20 Juli 2014

Pemusik Samin (Junaidi Khab/Riau Pos)

Pemusik Samin (Junaidi Khab/Riau Pos)

SEPULUH hari menjelang hari raya 1435 Hijriyah, Wak Darma, kawan saya pemusik/pemain organ-tunggal “Samin” (sabtu-minggu) mengirim sms dalam 3 bait pantun: Main bass talinya lima/ main biola geseknya pelan/ pemusik lagi berduka/ hilangnya mata pencarian// Iyet Bustami orangnya asyik/ suaranya pun sangat merdu/ beginilah nasib pemusik/ raya tepaksa tutup pintu//  jadi pemusik memang hobi/ disuruh jadi PNS dia tak mau/ baju raya dengan apa dibeli/ dengan kartu BPJS manalah laku.

Agak lama juga saya termenung membaca sms kawan saya ini, karena yang dia sms tak jauh beda juga nasibnya dengan yang mengirimkan sms, masih mengharapkan rezeki kiri kanan atas bawah muka belakang, sepak kiri sepak kanan. Untunglah kawan saya Ifen Piul, kawan Dantje S Moeis, kawan Wahab yang kawan Taufik Ikram Jamil itu tak datang lagi menceracau pening tujuh keliling seperti Ramadhan tahun yang lalu. Saya dengar-dengar kabar bahwa kawan saya Ifen piul ini baru menyelesaikan S1 dan ekonomi rumah-tangganya pun sudah agak mapan, karena selain bermain musik “samin” (sabtu-minggu) ia membuat usaha pembuatan alat-musik tradisional Melayu, terutama gendang bebano, gambus selodang, marwas, tambur, dan penjualan gong. Kata kawan-kawan, gendang bebano yang dibuat Ifen piul ini lumayan bagus dari gendang bebano yang biasanya dikirim dari Medan.

Cuma sedikit ada kendala bahan baku, karena saya tahu pasti bahwa kawan saya Ifen piul, kawan Wahab yang kawan Taufik Ikram Jamil, sangatlah perfect orangnya. Ia tak mau menghasilkan karya yang berstandar KW 2, apalagi KW3, KW4, dan KW seterusnya, sehingga bahan baku yang ia perlukan untuk membuat gendang bebano, terutama kayu dan rotan pengikatnya, haruslah yang berkelas satu. Memang payah nak mencari bahan baku yang berkwalitas kelas satu itu sekarang ini. Boleh dikata, hampir semua lahan diserang wabah pokok sawit, sampai-sampai tepi dapur pun ditanam kelapa sawit. Inilah yang membuat kawan saya Ifen piul agak pening, karena kontrak pengadaan gendang bebano dan gambus selodang sudah diteken, apalagi jaman sekarang sedang rajin-rajinnya KPK menangkap orang. Dalam hal ini betullah Taufik Ikram Jamil (Ahad, 6 Juli 2014) yang mengatakan bahwa “Perkembangan teknologi yang tidak dibatasi oleh apa pun, kini menghamtam kesenian yang kekurangan itu, Sementara pemerintah yang menjadi penanggung jawab terhadap semua perkembangan berbangsa termasuk keseniannya, belum juga memberi tempat yang patut bagi karya manusia itu.”

Tempat yang patut bagi kesenian (kebudayaan), belum mendapatkan ruang sejuk apalagi yang harum wangi. “Pembiaran terhadap kebudayaan” selama hampir 70 tahun merdeka yang ditulis oleh Taufik Ikram Jamil itu merupakan bukti bahwa memang pemerintah tidak pernah perduli terhadap hakikat kesenian dan kebudayaan. Kalau ada proyek kesenian dan kebudayaan yang akan mendatangkan hasil bagi mereka (pegawai pemerintah itu), maka mereka buatlah, tetapi kalau tak ada hubungannya dengan mendapatkan keuntungan bagi mereka taklah mereka kerjakan. “Apa peduli kami dengan kesenian dan kebudayaan yang tak mendatangkan hasil,” kira-kira begitulah mungkin apa yang akan mereka katakan. Bukti bahwa “pembiaran kesenian dan kebudayaan” dapat juga dilihat pada visi misi calon gubernur atau gubernur, calon presiden atau presiden atau dalam debat mereka, manalah ada tentang kesenian dan kebudayaan, menyinggungnya sedikit pun tidak.

“Tak usah jauh-jauh nak menengok perhatian pemerintah terhadap kesenian dan kebudayaan itu, Man,” kata kawan saya Dantje S Moeis yang pelukis, ketika ia datang menengok saya sedang mengetik tulisan ini di kantor majalah Sagang. “Tengoklah kawasan Bandar Serai ini, macam sarang hantu. Sudah dirobohkan dio, kemudian tak jelas nak dijadikan apo, macam negori dialahkan gorudo. Tengoklah Anjung Seni Idrus Tintin yang kato dio megah itu, tapi tak siap-siap dari dulu. Kalau siap adolah AC di dalamnya. Apo pulak lagi pemerintah tu nak kan memperhatikan seniman, kesenian dan kebudayaan, puah,” sungut kawan saya Dantje sambil nak meludah.

Memang agak membingungkan. Kalau anda masuk ke kawasan Bandar Serai (Purna MTQ), mau masuk dari jalan Sudirman di depannya atau mau masuk dari jalan OK. Nizami Jamil di belakangnya, akan terlihat di kiri kanan kawasan itu bagai Gaza dirudal roket Israel, luluh-lantak, sehingga tak salahlah kalau yang ada di dalam kepala hotak seniman yang ada adalah imajinasi-imajinasi yang menafikan kerja pejabat pemerintah. Tengoklah gedung Dekranas di sebelah kanan kawasan Bandar Serai kalau masuk dari jalan Sudirman, sudahlah dibangun, entah siap entah tidak kareba banyak retak-retak, kemudian tak seorang pun nampak ibuk-ibuk masuk kantor setelaha gedung itu dibangun. Pertanyaanya, entah untuk apalah gedung Dekranasda itu dibangun.

Sebelum ke gedung Dekranasda, di depan sebelah kanan mau masuk ke kawasan Bandar Serai dari jalan Sudirman, sudah dirobohkan bangunan yang kabarnya untuk dibuat museum Wanita Melayu Riau. Nnngalah, apa perempuan Melayu Riau inilah yang hendak dipamerkan dalam gedung yang akan dibangun yang entah jadi entah tidak itu. Kutang atau celana-dalam putri raja atau permaisuri raja manakah agaknya yang hendak dimuseumkan di gedung yang akan dibangun itu. Sebelah gedung yang sudah dirobohkan itu ada kantor dan studio BSO (Bandar Serai Orcehstra), yang kata Sukron penunggu studio itu sudah beberapa kali orang datang hendak merobohkannya. Pokoknya, robohkan saja dahulu perkara yang lain kemudianlah, atau mungkin proyek merobohkan bangunan lebih besar duit masuknya?

Kembali kepada persoalan kawan saya Wak Darma, pemain organ “Samin” (sabtu- minggu) yang mengirimkan SMS kepada saya berupa pantun yang pasti menyedihkan bagi kalangan seniman yang membacanya, karena seperti membaca diri mereka sendiri. Jika tulisan ini dimuat, hendaknya dapat dibaca oleh kawan saya Wak Darma, pemain organ-tunggal “Samin” (Sabtu-minggu) itu.

Kenapa? Karena faktor-faktor yang saya tulis ini merupakan beberapa persoalan yang mengakibatkan seniman dan budayawan yang “asli” (mungkin ada yang tidak asli, terserah memandangnya) menanggung akibatnya, terutama dalam sisi ekonomi (asap dapur) seniman dan budayawan yang terbiarkan, atau lebih tepat seperti apa yang dikatakan Taufik Ikram Jamil, kawan Wahab yang juga kawan Ifen Piul itu sebagai “pembiaran” kesenian dan kebudayaan, yang juga berarti “pembiaran” seniman dan budayawan. Kalau begitu, syabas “pembiaran”. ***

SPN Zuarman Ahmad
adalah komposer, konduktor, dosen musik, budayawan Riau penerima Anugerah Sagang tahun 2009, penerima Anugerah Seniman Pemangku Negeri Dewan Kesenian Riau (DKR), penerima Anugerah Seniman Tradisional Provinsi Riau, dan redaktur majalah Sagang.

Bisa dinikmati di: http://www.riaupos.co/2101-spesial-pemusik-samin.html#.U8tz06NfvK0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: