Kisah-Kisah Anjing

Riau Pos: Ahad, 20 Juli 2014
Kisah Anjing 1

Kisah-Kisah Anjing (Junaidi Khab/Riau Pos)

Kisah-Kisah Anjing (Junaidi Khab/Riau Pos)

Di lantai, darah anjing-anjing yang dicucuk batang lehernya hingga tembus dengan besi runcing dan moncongnya diikat oleh tali mulai mengental. Anyir memenuhi ruangan. Juga, anjing-anjing kaku, setelah menggelepar, bertumpukan di lantai itu.

Lelaki dengan tampang datar, memakai clemek, kembali mencucuk batang leher seekor anjing yang lainnya. Darah dari batang leher anjing itu memuncrat deras setelah ia mencabut besi itu. Anjing itu berkaing lembut teredam oleh rahang yang rapat karena tali.

Sementara itu, dari ruangan yang berbeda, seorang perempuan yang telah menjerang air pada sebuah drum, datang ke ruangan lelaki itu, lalu mengambil anjing-anjing itu satu-persatu untuk dikuliti. Lantas, setelah dikuliti ia bawa ke ruangan yang tadi untuk dimasukkan ke dalam drum.Tidak ada lagi anjing-anjing yang akan dicucuk, lelaki itu datang ke ruangan si perempuan, lalu duduk pada sebuah bangku di meja makan yang sama dengan perempuan itu. Wajah mereka menghadap drum dan mendengarkan dengan khidmat suara air yang menggelegak.

Lalu, tidak berapa lama kemudian, perempuan itu berdiri dan berjalan mendekati drum, lalu mengambil sebuah tombak yang tersandar di dinding, lantas mencucuk seekor anjing dari dalam drum, lalu mengangkat, membawa, dan menaruhnya di sebuah ember di atas meja makan itu. Tubuh anjing itu panas dan mengeluarkan asap.

Lantas, lelaki itu menyalak. Maka, dua orang anak, lelaki dan perempuan, berlari-lari girang datang ke ruangan itu.

“Papa, apakah setelah memakan anjing yang keseratus, suara kami akan berubah seperti papa dan mama?”

Lelaki dan perempuan itu menyalak. Dua orang anak itu kegirangan.

Di kota tua tempat keluarga itu tinggal, penduduk terus-menerus mengutuk hilangnya anjing-anjing mereka. Sebelumnya, mereka sering mengutuk para petinggi kota itu. Kini mereka memohon kepada para petinggi kota untuk mencari siapa pelaku peristiwa itu, yang menurut mereka biadab.

Kisah Anjing 2

Mayat-mayat manusia bergelimpangan di setiap sudut kota, lalat-lalat mengerubungi, bau busuk mulai menusuk. Dari dalam rumahnya, setelah mendekam semalaman, anak lelaki itu keluar dari rumah bersama seekor anjingnya, berjalan keluar dari gang menuju kantor pemerintahan. Ia dan anjingnya berjalan mengelak, melompati mayat-mayat.

Di depan kantor pemerintahan, anak lelaki itu mengetuk-ngetuk pintu dan berteriak memanggil. Namun, orang-orang yang berada di dalam kantor pemerintahan tak mendengarnya, mereka asyik menikmati anggur dan melotot melihat para penari striptis menggelinjang dan melendot di tubuh mereka, dan di antara mereka ada juga yang bermain judi.

Ia terus-menerus mengetuk pintu dan berteriak, anjingnya hilir-mudik. Lantas, anjingnya menyalak ketakutan, lalu anak lelaki itu menoleh ke belakang dan terkejut, di langit seperti gumpalan awan hitam mulai mendekati kota.
“Itu rombongan burung gagak!”

Anak lelaki itu mencoba mencari batu untuk memecahkan jendela-jendela kaca kantor pemerintahan, dengan maksud, agar burung-burung gagak itu masuk ke dalam kantor. Atau setidaknya, agar mereka tahu bahwa betapa banyak mayat-mayat yang bergelimpangan.

Kisah Anjing 3

Sepulang dari gereja, perempuan paruh baya itu melihat seekor anak anjing manis bermain di antara bunga-bunga di tepi jalan. Anak anjing itu tampak malu-malu ketika mereka berbagi pandang. Ia tersenyum sendiri melihat tingkah anak anjing itu. Ia terus berjalan menjauh dari anak anjing manis. Namun, tiba-tiba, anak anjing manis itu berlari mendahului laju jalannya, lantas berjalan pelan di hadapannya.

Segera terpikir olehnya untuk menangkap anak anjing itu dan membawanya pulang. Tapi, ketika akan ditangkap, anak anjing itu mengelak dan berlari kecil di hadapannya sehingga ia turut berlari kecil. Ia tertawa sendiri membayangkan tingkahnya dipermainkan oleh seekor anak anjing manis itu.

Namun, di perempatan jalan, anak anjing itu belok ke sebelah kiri. Lantas, ia tercenung memandangi anak anjing itu menjauh. Entah mengapa ia merasa sedih oleh kepergian anak anjing itu, sedih seperti kehilangan seorang anggota keluarganya. Lalu, ia berjalan lurus melanjutkan perjalanan untuk segera sampai ke rumahnya.

Ia telah sampai di depan rumah. Ia membuka pintu pagar halaman dengan kunci, lalu dikuncinya kembali. Setelah itu, membuka pintu rumah, masuk, menutup pintu, berjalan, lalu melongok ke dalam kamar anak lelakinya. Anak lelakinya tertidur dan ia tak tahu kapan anaknya itu akan bangun. Lantas, ia menuju dapur untuk membuat secangkir teh, lalu masuk ke dalam kamar anak lelakinya itu, dan meletakkan secangkir tehnya di atas meja. Lalu membuka jendela kamar, membenarkan letak korden. Kemudian, mengambil sebuah buku dongeng di rak buku, lalu duduk pada sebuah bangku di sisi ranjang anaknya dan di dekat meja di mana secangkir teh itu berada. Lantas, membacakan buku dongeng itu untuk anaknya. Ia berharap, anaknya tetap ada –hidup dan bergerak- meskipun di dunia dongeng, seperti apa yang pernah anak lelakinya bilang: “Mama, aku ingin hidup di dunia yang berbeda –dongeng.”

Namun, ketika membaca buku dongeng itu, ia mendengar suara anjing kecil menyalak. Anjing manis, lirihnya. Lantas, ia meletakkan buku dongeng di atas meja, lalu melongok di jendela dan mendapati seekor anak anjing yang manis tadi menyalak ke arahnya di luar pagar. Lantas, tergerak hatinya untuk menangkap dan membawanya masuk.

Maka, ia berjalan keluar kamar, membuka pintu rumah, dan tidak menemukan anjing itu di sana. Ia penasaran, lantas membuka pintu pagar dan keluar. Tapi, ia tetap juga tak melihat anak anjing itu. Ia telah coba mengarahkan pandangannya ke mana saja, tapi nihil. Ia menggelengkan kepala, merasa aneh. Lantas, ia putuskan untuk masuk ke dalam rumah –mengunci pintu pagar lalu pintu rumah- kemudian masuk ke dalam kamar anaknya dan menemukan seekor anak anjing manis itu memandang buku dongeng, seolah membaca sebuah halaman, di atas ranjang anaknya –hanya ada seekor anjing manis di sana.

“Haleluya!”

Kisah Anjing 4

Seekor anjing yang tubuhnya dihinggapi kudis itu hanya diam tertunduk di sudut pagar di pekarangan masjid ketika dipukul-pukul dengan sapu lidi oleh seorang jemaah yang baru saja menunaikan salat Zuhur. Para jemaah yang lainnya memandang kejadian itu dengan isyarat mata agar anjing itu segera keluar dari pekarangan masjid.

Lima belas menit berlalu. Anjing itu tetap bertahan meskipun di sudut matanya tertahan airmata. Melihat seorang jemaah yang bersusah payah mengusir anjing itu, lantas, dua orang jemaah turut membantu mengusir anjing itu dengan cara melempar dengan kerikil. Sebagian jemaah yang tak beranjak dari teras masjid karena merasa aneh pada anjing itu, merasa harus mengusir anjing itu. Maka, mereka berbondong mengusir anjing itu dengan berbagai cara; ada yang melempar dan memukul dengan ranting atau batang pohon yang dipatahkan, mereka tidak ada yang berani menyentuh anjing itu secara langsung. Namun, anjing itu tetap bertahan.

Lantas, setelah menyelesaikan salat sunah bakda Zuhur, imam salat Zuhur tadi memandang aneh pada kerumunan itu. Lalu, ia mendekat dan betapa terkejutnya ia melihat anjing itu terluka dan berdarah pada bagian kudis atau bagian tubuh yang lainnya oleh pukulan dan lemparan.

“Ustaz, anjing ini tak mau beranjak juga dari halaman masjid,” tutur seorang jemaah.

“Coba Ustaz baca doa agar anjing ini pergi,” lanjut yang lainnya.

“Hentikan, jangan aniaya anjing itu, bukankah ia ciptaan Allah juga?” yang dipanggil ustaz itu mencegah.

Maka, tidak seorang pun yang menganiaya anjing itu. Lalu, sang ustadz jongkok dan membelai anjing itu dan anjing itu menjilati tangan dan lengan baju sang ustadz. Para jemaah terperangah.

“Ustaz, liur anjing itu najis!” kata seseorang, seolah sang ustadz tak paham akan hal itu.

Sang ustaz tersenyum dan menoleh sejenak kepada seseorang yang berucap tadi. Ia tetap membiarkan anjing itu terus menjilatinya.

“Ustadz tak pantas melakukan itu!” seseorang yang lain memberikan komentar. Namun, sang ustadz hanya tersenyum.

Lantas, sang ustadz berdiri dan menggiring anjing itu ke dekat tempat mengambil wudu untuk membersihkannya dengan air. Membasuh luka. Para jemaah memandang aneh apa yang telah dilakukan sang ustadz.

Setelah selesai memandikan anjing itu, sang ustadz meminta seseorang jemaah untuk membelikan sebungkus nasi. Lantas, ketika nasi itu telah dibeli, ia memberikan nasi itu kepada anjing. Anjing itu makan lahap sekali. Lalu, setelah anjing itu selesai makan, ia berkata kepada anjing itu agar keluar dari perkarang masjid dan agar mencari tempat yang pantas. Maka, setelah menjilati kakinya dan menyalak sejenak seperti mengucapkan kata terima kasih, anjing itu pun pergi dan membawa rasa haru yang begitu dalam karena telah diperlalukan dengan baik olehnya.

Para jemaah hanya mampu memandangi sang ustadz yang mulai menyamak tubuh dan pakaiannya yang terkena liur anjing itu. Dalam hatinya berkata, semoga para jemaah mampu mengambil pelajaran dari apa yang telah ia lakukan barusan.***

Tanjung Pasir,
Labuhanbatu Utara, 2014

Muftirom Fauzi Aruan,
bahagia menulis cerpen dan tinggal di Tanjung Pasir, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara. Cerpennya pernah dimuat oleh sejumlah media, seperti; Republika, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, dan yang lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: