Sajak-Sajak Kurnia Hidayati

Riau Pos: Ahad, 20 Juli 2014
Kopi Lagikopi lagi, Brengkolang!
adalah cindera mata di atas meja
sebelum suluh lampu surup
ke dalam hangat pagutan tubuh malam

aku dan kopi adalah sengketa
saat malam memajang nestapa
bagai batin kita yang porak poranda
ketika sunyi menghajar dengan siasat dendam yang
dan kita, memilih mati berkali-kalikopi lagi, Brengkolang!
sebelum nyala lampu malap dan undur diri
tanpa santun kata dan kecupan bait puisi
ketika pagi tiba
hanya ada timpas cangkir
dan kopi hanya menyisakan gelap dan pahitnya2014

Replika Bianglala

1/
kubuatkan replika bianglala
dari partitur musim dan sekotak album Meteora

ketika masa lalu teramat jauh memunggungimu, kepada masa putih abu-abu.
kalender yang tergulung memeram mendung setiap hari berganti. tahun-tahun
berlepasan seperti bulu sayap merpati yang menua. dilalukan angin bulan Juni
dan hujan yang turun di ubun-ubun

2/
bianglala berkelir merah jingga. seperti sampul buku harian para belia
bermotif kartun anime yang manis dan kelopak bunga-bunga
tulisilah ia dengan debar asmara, bukan kekal subuah luka

replika bianglala yang muncul dari tape recorder tua
mengisi jeda sunyi dengan sepenuh lagu dalam album Meteora
mengiringi hari-hari
selain hujan yang retas di jantung bulan Juni

2014

ket: Meteora = judul salah satu album grup band Linkin Park

Sungai Sibedil

di hulu sungai ini kutemui kau
syahdu menyenandungkan langgam.
sejalan dengan gericik air yang menubruk batuan dan melarung sepi
menitipkan iba pada patahan ranting yang ditinggalkan pohonan.
selain Sikupu kau adalah alur sungai yang mengalirkan rindu.
pada dua simpang arus itu, aliran telah mempertemukan doa-doa pengembara
sebelum jauh bertualang ke dalam rimba.

kendati kau tak lagi disapa, jika suara air terjun Sikupu kemudian terdengar di kejauhan
dan para pengembara lekas pergi lekas berlari kepada muasalnya sendiri
mencari kebahagiaan di dalam kanopi gugusan pepohonan

Batang, 2014

Macet di Cepiring

sepadan dengan kunang-kunang
lampu-lampu
di jasad  mobil yang melintas
sekilas bak nyala lampion yang merembang
Jalanan seperti belenggu yang menawan pengendara
sebelum pulang kepada haribaan doa ibu

kulihat waktu tertumpu pada titik yang beringsut lambat
orang-orang terdiam
sesekali melempar umpat

2013

Senandung Hujan

biarkan hujan bersenandung
tentang kau dan puisi, tentang aku dan gerimis
tentang musim, yang anomali

aku ingin membaca isyarat hujan. melalui surat-surat rindu yang diterbangkan angin kata-kata
usai gerimis mengakhiri sebuah hari dengan manis kecupan dan membisikkan ratib kepada Tuhan

namun, tempias hujan di jendela dan dingin basahnya
tak lagi melansir kabar apa-apa, selain koyak surat-surat rindu
dan alur alir airmata
mengacaukan musim yang berdiam di langit kita

maka, kubiarkan hujan bersenandung
tentang kau dan puisi, tentang aku dan gerimis
dan tentang musim, yang anomali

Batang, 26 Mei 2014

Senandika Pemantik Api

kepada benda-benda
kutitipkan hasrat paling membakar

seteru di tubuh tungku
teror di kepala kompor
kubikin kandas kertas-kertas, entah buku, entah majalah, entah folio entah hvs, entah tumpukan, entah lembaran.
kendati telah kusimpan intrik melumer plastik
melalui liukan nyala panas yang berkobar
tatkala benda-benda palsu itu bertebar dusta di sekitar

Kukobarkan pula bentok di ujung-ujung rokok.
selama orang menyesap pada pangkal dan lesapkan nyalanya di gigir asbak

maka, berhati-hatilah kepadaku
jika manfaat telah jadi khianat, dan timbul syahwat maksiat
serta tubuhku tersesat dan salah tempat
akan ada belenggu abu dan petaka
yang bersiap membakar dan membinasakan
siapa saja

2014

Halte

halte, benarkah orang-orang memang ditakdirkan untuk menunggu?

halte memajang dua pipa korosi dengan mantera paling puisi
memendam riwayat peluh sang pandai besi
dan lelatu api.
menjadi kursi yang merutuk sunyi tatkala orang-orang memutuskan untuk pulang
dan menetapkan ingatan
setia pada angkutan yang tersangkut di perjalanan

halte, membiarkan sunyi menjadi narasi
cerita-cerita menguapkan udara dan gelak tawa
asap rokok dan dengusan napas
bau keringat yang tertawan di badan
berbaur dalam kerangka halte yang tugur

halte, orang-orang memang ditakdirkan untuk menunggu

Batang, 2014

Memoar Sunyi

sunyi I

aku melihat kelebat perempuan
di rahim kafe yang ingar.
ia duduk, menghitung kertap kaki pelayan
dan orang-orang yang berlintasan.
tetapi tak ada yang ia pesan
selain beberapa teguk kesunyian

sunyi II

di dalam kelas, guru menerangkan
murid-murid diam, namun
di kedalaman dada mereka
ada sunyi
yang belum dituntaskan

sunyi III

kota dan lampu-lampu yang berdenyar
hanyalah kesunyian yang menyamar

sunyi IV

jika tuhan menakdirkan riuh melekat di sela-sela genggaman jari sepasang kekasih
tentu tuhan tak lupa
menyisipkan kesunyian
di antaranya

Batang, 27 September 2013

Ulang Tahun Skripsi

telah kusembunyikan lilin dan liukan nyalanya
panas lidah api
sebatang pemantik dan kegelapan

tapi, lagu-lagu ulang usia kini bersenandung tanpa nada
almanak menjelma potongan angka yang berserak
menghantui hari

dengan rasa takut yang diam, kutuliskan puisi
sebelum kuputuskan untuk mengucap kata-kata ini;
“selamat ulang tahun, skripsi
betapa kau lekas bertumbuh dalam sunyi
tahun-tahun berlepasana seperti kerlingan sepasang mata
dan sekerdip detik
yang mengisi usia”

sungguh kusembunyikan liukan nyala lilin
potongan tart kenangan
sebelum hari lahir skripsi dihelat tahun ini

2014

Kurnia Hidayati
Lahir di Batang, Jawa Tengah, 1 Juni 1992. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi jurusan Tarbiyah di STAIN Pekalongan dan bergiat di LPM Al-mizan. Tulisannya pernah dimuat di Jawa Pos, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Indopos, Riau Pos, Suara Karya, Banjarmasin Pos, Pos Bali, Bandung Ekspress, Majalah Sastra Kalimas, Minggu Pagi, Haluan Padang,  Suara NTB, dan lain-lain. Serta tergabung di beberapa antologi, di antaranya: Ayat-ayat Selat Sakat, Setia Tanpa Jeda, Mimpi Seribu Kemenangan, Napas Dalam Kata, dan Romansa Telaga Senja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: