World Music Beraroma Terasi Belacan

Riau Pos: Ahad, 13 Juli 2014

World Music Beraroma Terasi Belacan

World Music Beraroma Terasi Belacan

Ketika manusia tiba pada pencapaian puncaknya terhadap sesuatu, maka setelahnya adalah inovasi. Rasa ingin lebih dari sebelumnya bersanding dengan insting kreatif. Hal ini niscaya dimiliki setiap insan yang diwujudkan dalam kalimat “tak pernah berpuas diri”. Kata “kreatif” memang selalu identik dengan orang yang bersinggungan dengan dunia seni, namun tidak tertutup kemungkinan unsur  kreatif dapat ditemukan di mana saja, ada di setiap sisi kehidupan manusia.

Dengan demikian dapatlah kita bersepakat bahwa manusia  yang mencipta terasi (Melayu: belacan) adalah manusia kreatif. Bagaimana tidak, sebagai bumbu masak, belacan adalah buatan ‘kampung-an’ yang mampu menembus batas sosial. Dia adalah produk pinggiran yang meruntuhkan arogansi sekat kelas, adalah kreasi ‘murah-an’ yang menyelinap di antara angkuhnya kekuatan ekonomi. Terasi belacan dapat kita temukan di warung  sederhana berdinding anyaman bambu hingga restoran berkelas di hotel berbintang. Bagi penyuka terasi belacan senantiasa tidak peduli dari mana asal dan proses pembuatan bumbu penyedap hidangan yang disantapnya. Mereka bersedia meletakkan setinggi apapun status sosialnya. Ini adalah wujud kepasrahan terhadap kreasi dan inovasi.

Bentangan Aroma Belacan

Mungkin filosofi terasi belacan ini yang diadopsi oleh sekumpulan budak Melayu Riau yang menamakan diri mereka Blacan Aromatic Ethnic Project (selanjutnya Blacan Aromatic). Adalah Zalvandry Zainal atau Matrock yang merupakan inisiator, mengajak 13 pemusik muda di Pekanbaru untuk mendedikasikan diri pada kreasi musik tradisional Melayu, pada tanggal 24-25 Juni  2014 lalu mengadakan konser sekaligus  launching album karya-karya mereka di Gedung Idrus Tintin Pekanbaru.

Sebanyak delapan buah karya dikemas dan dibentangkan dalam tajuk konser “Kala Sunyi Kuala Bunyi”, sekaligus juga menjadi judul album perdana Blacan Aromatic. Dengan delapan buah karya tersebut, Matrock sebagai komposer  mengajak publiknya berfilsafat tentang alam, tentang laut, langit, tentang angin. Dari sini dapat kita tebak, Matrock lahir dan besar dari lingkungan laut. Filosofi (estetika) musik Matrock adalah Estetika  pesisir Melayu Riau.

Umumnya faktor latar belakang kultural pengkarya mendapat porsi utama dalam karyanya. Demikian juga dengan Matrock, Ia memilih idiom pesisir untuk dijadikan judul karya-karyanya. Misalnya pada karya pertama yang berjudul “Negeri Tematu”. Judul ini diambil dari nama sebuah pohon yang dikenal dengan pohon Nipah. Menurut Matrock  pohon ini  aneh, sebab dalam satu buah pohon pelepahnya disebut Nipah, tapi buahnya disebut Tematu. Keunikan nama inilah yang menjadi inspirasi pada karya “Negeri Tematu”.

Bila disimak karya “Negeri Tematu” ini, memang dapat ditangkap unsur “aneh” yang dimaksudkan oleh pengkarya. Karya ini menggunakan irama ‘Joget’ sebagai pijakan dasar, namun di tengahnya muncul irama swing yang populer pada genre musik Jazz. Irama joget yang dimainkan pada instrumen bebano oleh Tarmizi, darbuka oleh Syahril dan Jimbe oleh Miftahurrosyid yang bermeter (sukat) ¾ ditingkahi atau di-elaborasi oleh sifat ‘bebas’ permainan swing. Joget dalam musikologi Melayu identik dengan kegembiraan, bersenang-senang. Sementara Swing yang kental pada instrumen Bass yang dimainkan oleh Aprido Islam dan Drum oleh Tengku Al Azmi, selalu identik dengan kebebasan.  Apakah Matrock ingin beranalogi: Nipah itu Joget, Tematu itu Swing? Atau Matrock sedang ingin mengkritisi kondisi bangsa ini yang lebih banyak dipimpin dan dihuni oleh para munafik: “lain batang lain daun, lain kata lain laku”.

Karya kedua diberi judul “Tali Air 2”. “Air tak putus dicincang” adalah pepatah Melayu mendasari karya ini. Demikianlah sifat air yang senantiasa mengalir-sambung menyambung-mencari tempat yang lebih rendah. Dengan mengalir maka Ia hidup. Karya ini didominasi oleh vokal di samping susunan komposisi  intrumentalia yang apik. Vokal disuarakan menggunakan nada-nada panjang atau legato oleh sebagian besar para pemain. Sesekali Matrock mengambil kendali  sebagai lead vokal pada melodi yang berbeda dengan yang lain. Keduanya saling mengisi tanpa harus bertindih. Terlihat para personil berupaya menampilkan secara baik pada bagian ini, namun diperlukan kemampuan dan kekompakan maksimal untuk dapat mewujudkannya secara rapi. Agar kesan “air tak putus dicincang” dapat terwujud.

Karya ketiga ditandai dengan bunyi Horn (trumpet kapal) yang dimainkan oleh Iskandar pada instrumen akordeon. Bunyi tersebut sontak membangun imaji dermaga bagi penonton. Bunyi Horn di sini adalah simbol kapal yang sedang merapat atau akan berangkat.

Tentang sebuah kapal, karya ketiga Blacan Aromatic  diberi judul “Jelatik”. Jelatik bagi Matrock adalah sebuah perjalanan kultural tentang hidupnya. Sebagaimana dikisahkan, perjalanan  itu berawal dari sebuah desa kecil di pulau Bengkalis di Pakning-Riau bernama Sejangat menuju kota Urban Pekanbaru, tentu saja di sana terjadi proses adaptasi yang panjang.

Bunyi Horn itu dimainkan pada nada A. Beberapa saat kemudian biola 1 yang dimainkan oleh Rakhis, biola 2 oleh Bambang dan Viola oleh Siswa melapisi nada A dari akordeon dengan nada-nada harmoni pilihan pada akor D mayor. Setelah itu barulah melodi utama dimainkan oleh Yudi dengan instrumen flute dan bersama keyboard oleh Nedi Iga melengkapi bagian awal karya ini hingga pada bagian selanjutnya dibangun dengan orkestrasi yang lebih kompleks melibatkan instrumen lainnya.

Kesan ‘perjalanan’ pada karya ini sangat jelas dapat kita serap dari bangunan komposisinya. Sebagaimana interlude yang hanya menggunakan satu buah nada kemudian berkembang menjadi lebih lebar sehingga menciptakan kesan ruang. Belum lagi timbre atau karakter bunyi dari instrumen musik yang disusun secara simultan, kesan sederhana menuju kesan kompleks menguatkan konsep karya ini tentang perjalanan dari dusun ke kota urban.

Namun perjalanan karya ini diakhiri dengan Horn Jelatik. Sepertinya Matrock ingin pulang, atau sekedar rindu pada yang sederhana, setelah beberapa lama hidup di kota.

Musisi Jazz Riau, Eri Bob menjadi kolaborator pada karya keempat berjudul “Membaca Riak”. Eri Bob dan Matrock dapat kita baca sebagai inspirator dan kreator. Matrock sendiri pernah tergabung dalam kelompok musik Geliga, besutan Eri Bob, yang mengeksplorasi Melayu dengan wajah Jazz. Diakui bahwa pertemuannya dengan Eri Bob menjadi hal penting dalam proses kekaryaannya, terutama terhadap progresi akor.

Seperti halnya karya pertama, karya ini juga melibatkan dua bentuk irama. Pada irama pertama dengan meter (sukat)  genap didominasi oleh bunyi instrumentalia. Misalnya gitar yang dimainkan oleh Indra mengawali karya ini dengan petikan ritme yang rancak bertempo agak cepat. Kali ini kesan bersemangat yang ingin dibangun. Kemudian instrumen petik lain seperti Gambus yang dimainkan oleh Matrock sendiri dan Mandolin oleh Taufik membentuk melodi utama  yang indah.

Kekuatan karya-karya Matrock adalah penggunaan progresi akor yang dimodulasi secara cerdas. Dengan susunan akor demikian dapat melahirkan berbagai kemungkinan ragam melodi unik, dan tak terduga. Mungkin hal ini juga yang diterapkan pada bagian kedua, di mana petikan improvisasi gitar elektrik Eri Bob secara bebas melahirkan melodi baru yang sedikit ‘nakal’. Baru sebab improvisasi adalah dunia ‘seni mencipta saat itu’ yang harusnya tidak terulang di waktu lain. Dalam musik Jazz disebut dengan improvisasi ‘blue note’ atau nada-nada pilihan yang pada konvensinya tidak termasuk dalam akor yang dimainkan.

Blacan Aromatic sesungguhnya menyiapkan tiga buah karya baru dalam produksi kali ini. Namun hanya dua karya yang sanggup diselesaikan. Pertama adalah karya yang dimainkan pertama tadi yang berjudul “Negeri Tematu”, kedua adalah “Perak Langit”. Karya ini tentang kerinduan terhadap Ibu, laut, kampung.

Karya ini dikemas cukup berbeda dengan karya yang ditampilkan sebelumnya. Sederhana. Tempo agak lambat, penggunaan akor-akor dasar, menggunakan meter genap, dan tidak ada modulasi akor di sana sini.

Repetisi melodi lambat yang dimainkan menggunakan instrumen Wistle (Irlandia) juga merangsang imaji syahdu. Tenang. Dengan pemilihan elemen musikalitas tersebut, penonton seperti dibebaskan dari beban berat efek dari karya sebelumnya yang disusun dengan tingkat kerumitan tertentu.

Lantas mengapa Perak, mengapa Langit? Kembali Matrock bermain simbol. Langit dapat ditafsir bermacam makna. Semisal kanvas yang segala kenangan dilukis indah di sana. Atau dapat juga sebagai bentangan qalbu, di mana fragmen kehidupan terdokumentasi rapi di alam bawah sadar.

Langit ialah imaji tanpa batas, juga harapan untuk segala cita. Kenangan menjelma Perak yang dicipta oleh cemerlang sosok Ibu, murni Laut, kebersahajaan kampung, dan kokohnya  aroma tanah Sejangat.

“Hungkal in E Minor”, karya keenam kembali menawarkan kerumitan musikal. Bagaimana tidak seperti diucap dalam pengantar karya, “Hungkal in E Minor” menerapkan sejumlah birama ber-meter ganjil, antara lain: 7/8, 5/8, dan 4/4.  Hungkal sama halnya dengan teking, degil, atau bandel adalah istilah untuk menyebut sifat ‘liar’ pada anak-anak Melayu pesisir.

Selain meter ganjil, unsur liar pada karya ini diterapkan dengan permainan teknik penjarian (fingering) yang super cepat dan rumit. Bayangkan… karya ini menggunakan meter ganjil dengan kecepatan super dan rumit yang kembali dimainkan dalam progresi akor dan beberapa modulasi akor atau perpindahan akor dengan nada dasar yang berbeda.  Semacam pesta kompleksitas musik.

Ide karya ini sebetulnya menarik. Hanya saja sajiannya lebih terlihat seperti aktualisasi virtuositas  (skill/kemampuan) bermain para personilnya. Apalagi melodi yang dimainkan adalah seputar teknik ‘fingering’ dalam beberapa modulasi akor. Hal ini lebih merupakan aktivitas mengulang proses belajar teknik penjarian. Tidak sedang berekspresi musik. Akhirnya dunia anak-anak yang merupakan dunia imajinasi tak terbatas dan cenderung ingin mencoba hal baru tidak tampak dalam karya ini. Dalam bertindak, sensor terhadap resiko yang membahayakan anak-anak masih sangat tumpul. Hal itulah yang mendorong naluri melanggar aturan dalam dirinya, atau Hungkal.

Pada karya ini para personil dapat mencoba untuk sedikit Hungkal atau keluar dari aturan fingering. Cobalah melanggar aturan, untuk kemungkinan terciptanya hal baru.

Dua karya terakhir, yakni “Cabouh” dan “Blacan Yoo”. “Cabouh” mengangkat tema norma yang berlaku dalam dunia laut dan pelaut. Di mana pantangan dan larangan berlaku sebagai hukum tak tertulis bagi siapapun yang berada dalam pelayaran. Kemudian karya “Blacan Yoo” sebagai karya penutup digarap kental dengan gaya pop. Sesuai dengan judulnya, Blacan sedang ingin menyapa penikmatnya, baik yang hadir menonton maupun yang jauh,  bahwa peluncuran album perdana ini sebagai tanda Blacan Aromatic masih tetap eksis.

Masih dalam Fenomena World Music

Apa yang dilakukan oleh Matrock dan pemusiknya di Blacan Aromatic merupakan efek dari fenomena World Music yang berawal dari Eropa. Sebuah peristiwa signifikan pada abad ke 19 menjadi tanda paling awal kemunculan World Music. Ketika itu pada tahun 1889, Claude Debussy membawa seperangkat Gamelan Jawa dan pemainnya untuk meramaikan 100 tahun Revolusi Perancis, di Paris.

Dua belas tahun kemudian, giliran Gamelan Bali diboyong oleh Debussy ke kota yang sama. Penampilan kedua Gamelan tersebut mengejutkan penonton kala itu. Setelah itu, kemudian mulailah dikenal istilah non-western music.

Non-western music kemudian menjadi gejala baru dalam eksplorasi musik. Gejala ini terutama disebabkan oleh kejenuhan para komponis dan musisi Eropa dan Amerika dengan musik klasik. Maka dimulailah sebuah era di mana instrumen-instrumen musik Asia dan Afrika bersanding dengan instrumen musik Klasik Eropa. Seperti Biola, Viola, Cello, Flute bersama Djembe, Rebana, Bedug. Al Oud, Er-Hu, Suling bersama dengan Piano, Marimba, Tamborin. Atau juga, Ketipung, Tabla dan Gamelan dan sebagainya. World Music adalah pertemuan multi kultural.

Demikian juga dengan komposer dan kelompok musik yang ada di Riau termasuk Blacan Aromatic, Riau Rhythm Chambers, dan karya-karya ujian akhir kampus, berusaha mengkombinasikan beragam instrumen musik dari berbagai penjuru dalam penggarapan karyanya.  Istilah World Music dan kenyataan kekaryaan di Riau sebetulnya sudah sangat sering kita temui.

Terutama pada Riau Hitam Putih Festival, sejak awal tahun 2000an selalu mengusung tema World Music. Hal ini tentu saja berkat sumbangan pemikiran almarhum Ben Pasaribu sebagai konseptor Riau Hitam Putih Festival yang berlatar belakang sebagai pakar World Music. Hal ini berefek langsung pada pertumbuhan musik dan musik iringan tari di Riau.

Selain Riau Hitam Putih Festival yang bertaraf internasional, setiap tahun pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, Dinas terkait selalu menggelar lomba seni musik dengan genre Wolrd Music.

Lomba itu selalu mendapat perhatian yang serius dari setiap sekolah menengah di Riau sebagai ajang unjuk kreativitas. Namun di sini fenomena World Music lebih dikenal dengan istilah musik kolaborasi.

World Music yang berkembang sejak dua abad lalu itu tentu saja tidak mesti melulu demikian. Penggarapan karya dengan melibatkan beragam instrumen musik bersama instrumen lokal sudah mengalami titik jenuh. Karya musik yang lahir dengan pendekatan ini seperti tidak ada lagi inovasi baru. Mudah ditebak. Tidak ada lagi kejutan yang menjadi cakrawala baru bagi penonton.

Tentu saja hal ini menjadi tantangan bagi grup musik yang terlanjur mendedikasikan diri pada dunia musik inovatif seperti Blacan Aromatic, Riau Rhythm Chambers Indonesia, dan juga karya dari kampus seni.

Elemen musikal yang teratur dalam konvensi teori musik barat sudah waktunya bertransformasi atau berkembang untuk lebih dari sekedar mengulangi teknik-teknik yang dirumuskan oleh komposer zaman klasik.

Atau kita hanya perlu lebih percaya diri pada unsur musik yang ada di sekitar kita. Namun perlu juga ditunjang wawasan tentang perkembangan dunia musik di negara-negara lain. Untuk apa? Agar dapat dikatakan seniman yang mewakili zamannya, abad 21.***

Aristofani Fahmi

Musisi dan penonton kesenian, tinggal di Pekanbaru.

 Bisa diakses dan dibaca di: http://www.riaupos.co/2087-spesial-world-music-beraroma-terasi-belacan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: