Surat kepada Manusia

Riau Pos: Ahad, 06 Juli 2014

Surat kepada Manusia

Surat kepada Manusia

Siapa manusia yang paling baik? Apakah manusia yang terus melakukan kebaikan dan tidak berbuat dosa? Lantas ia akan langsung masuk surga?

***

“Aku tak pernah meminta menjadi seperti ini. Jadi, kau harus paham dengan keadaanku sayang…”

Lelaki itu memelas meminta pengertian pada seorang perempuan cantik. Penuh keanggunan dan pulasan bibir yang mengkilap. Perempuan yang terus dijadikannya sebagai tonggak dalam rumahnya. Menjadikannya janji-janji yang terus berkelana dalam pikiran yang hidup. Mengikrarkan kata-kata untuk semua mimpi yang diretas dalam julang pendar cahaya. Saat yang indah untuk mencumbu dan meranum cerita-cerita kesetiaan. Perempuan yang terus menemaninya dalam peluk malam-malam. Namun tidak untuk  malam ini, ketika bisu lebih baik daripada mengakrabkan diri pada suara.

Perempuan itu dengan tegas mengatakan untuk tidak ikut lagi dalam perahu yang sudah dibangun bersama. Ia lebih baik tenggelam daripada terus menjadi penyamun dalam perahu itu. Perahu yang kemarin masih diisi dengan dua makhluk indah dan bertabur pesona kegembiraan. Samsul dan Marni yang mengikat cinta dalam rumah tangga. Marni harus beranjak dengan segala kegundahannya. Ia tak lagi menerima alasan yang sudah membuat panas gendang telinganya. Tak lagi terpikir untuk membahas apa yang sudah dilewati bersama.

Namun Samsul terus mengejar cahaya itu. Ia tak ingin perempuan satu-satunya dalam hidup itu harus beranjak dan meninggalkannya dalam temaram malam. Tak ada lagi pelukan dan bincang hangat dipertengahan malam.

“Aku tak akan pernah tinggal dengan seorang pesakitan sepertimu.”

“Tapi, ingatlah Marni. Aku ini suamimu.”

“Mulai sekarang, aku bukan istrimu lagi.”

Marni telah berlalu tanpa sepintas kata pun dikeluarkan. Ia meninggalkan Samsul dalam relung yang basi. Begitulah lelaki itu ditinggalkan dengan segala kekurangannya. Samsul memang menjadi orang yang paling tidak beruntung di sini, kehidupannya yang indah dan dibangun di Sumatera timur sudah menjadi masa lalu. Cerita tentang binatang ternaknya yang siap untuk dibeli oleh para pedagang yang datang dari Malaka tak lagi bisa dikenang. Itu hanya memoar belaka yang siap dihembus angin.

Tubuhnya sudah tak mampu bergerak. Ia hanya terbujur seperti tubuh yang kehilangan ruhnya. Mendekam dalam kasur tipis yang semakin dimakan rayap. Tak ada yang bisa menutupi tubuhnya selain sarung pernikahannya dengan Marni. Ia tak lagi memiliki apa-apa. Di gubuk yang reot dan lebih seperti kandang itu, ia bersegera mengeluarkan gumaman kepedihan yang datang tiap waktu. Tak tentu hitungan menit, jam ataupun hari. Itulah tubuh yang sudah rubuh dimakan kesepian dan ditinggalkan perempuan satu-satunya yang pernah berjanji setia.

Samsul kini digerogoti oleh sebuah kesengsaraan yang tak dipinta oleh semua orang. Tetangganya sudah berpindah satu per satu sejak ia mulai menjadi pesakitan ini. Marni sebenarnya sudah bertahan dan yakin akan menemaninya dalam hidup yang akan dituju hingga pusara. Itu pun harus berubah ketika malam sudah membuat hati dan logika tak seimbang. Sejak Samsul digerogoti sebuah penyakit yang menjadikannya lebih dari seorang pelaut yang menghempas semua ombak.

Sejak setahun yang lalu ia divonis kusta oleh dokter puskesmas setempat. Sejak itulah tetangga yang tahu dan mendengar saat ia mengecek kesehatan, langsung berbondong-bondong meninggalkan kampung ini. Ia menjadi seorang yang telah larut dalam gulungan ombak besar yang menghempas ke pantai. Kesepian itu semakin terasa ketika mereka takut jika Samsul akan menjadi wabah yang sangat menakutkan bagi anak-anak mereka. Dalam pikiran mereka hanya ada hal-hal buruk yang akan menimpa kampung ini. Samsul sebenarnya masih seperti biasa untuk mengajar ngaji di madrasah. Ia seperti biasa berangkat pagi untuk mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi anak-anak tetangganya. Sesampainya di madrasah itu ia tak melihat seorang pun yang datang. Hanya ada beberapa guru yang tampak menghindar untuk bicara kepadanya.

Samsul tak menaruh curiga pada siapapun. Ia hanya mengira ini adalah hari libur dan menjadikannya kesepakatan yang tak diketahui. Hingga semangat untuk datang esok hari pun sudah mengembara di kepala. Tetap saja sesampainya di sana, ia tak mendapati seorang bocah pun yang siap untuk mengaji dengannya. Samsul pun semakin bingung dan kembali duduk di sebuah pohon yang selalu menjadi tempatnya beristirahat. Lalu melintaslah Husin yang merupakan seorang guru di madrasah yang sama.
“Pak Husin, kenapa anak-anak tidak mengaji hari ini?”

“Anu,,, Anu pak.”

“Kenapa?”

“Mereka tak dibolehkan orang tuanya mengaji dengan bapak”

Ia pun berlalu seperti tak ingin lebih dekat berbincang denganku. Samsul pun menyentuh dinding bisu. Ia melihat banyak daun-daun berguguran dari pohon ini, seperti musim gugur yang ada di belahan bumi lain. Ia menerawang ke wajah-wajah yang sudah pergi meninggalkannya.

“Apa ini karena penyakitku?”

Ia menjadi seorang pesakitan yang ditakuti jika itu akan menular pada semua orang di kampung ini. Kala itu ia mengalirkan ketenangan bahwa mereka tidak bersalah hanya ini sudah takdir yang harus dijalankan. Ia tak pernah lagi pergi untuk mengajarkan mengaji di madrasah. Ia duduk di rumah dan membaca kajian-kajian yang selalu diberikannya untuk menenangkan diri. Itulah yang terus dilakukan dalam simpul kepasrahan. Setiap hari hanya melakukan pengobatan ke klinik terdekat bersama istrinya. Satu per satu barang-barang yang kemarin penuh sesak mengisi ruangannya mulai hilang hingga bangunan yang besar itupun harus jatuh ke tangan orang lain.

Marni masih terus menemaninya dengan segala kecintaan dan ketenangan. Ia masih ingat dengan masa-masa cintanya dulu. Ia terus bersiap untuk memberikan apa yang belum diberikannya pada suaminya. Ia memasak dan terus menyuapkan pada suaminya yang hampir setiap hari melemah. Tanpa ada rasa jemu ia menemani dan merawat seorang pesakitan. Waktu menjelang dan berganti serupa jarum jam yang berputar.

Samsul mulai tak mampu merasakan seperti apa memiliki kaki. Penyakit itu perlahan telah memakan kedua kakinya. Hanya tangis yang bisa diuntai dan mengelok di pipi Marni. Ia seakan tak mampu lagi melihat penderitaan yang diderita oleh suaminya. Kala itu semua sudah membuncah dan tak mampu lagi ditahan hingga Marni pun berlalu dimakan waktu yang tak ingin setia.

Samsul kini menjadi seorang penyendiri. Ia terlelap dalam kesenjangan yang terus bergontai di kepala. Tak ada lagi kata-kata untuk mengulang masa lalu. Ia masih ingin mengajarkan mengaji. Apakah salah jika seseorang yang mengidap kusta harus berbagi ilmunya? Ia pun tetap tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada lagi kaki untuk berjalan. Untuk memasak maupun meminta pertolongan. Di kepalanya hanya ada batasan-batasan antara ketidakadilan hingga kesia-siaan. Ia masih ingin terus menularkan ribuan mimpi-mimpi di kepalanya agar terus berkobar dan dapat membasahi keriangan masa depan. Setelah Marni pergi semua menjadi mencekam sekali. Suara jangkrik dan tikus yang bersiap menunggu dagingku yang segar. Serta kelelawar yang mengintip dari pohon-pohon di luar.

Samsul sangat tertekan. Ia hanya terus berucap dan meminta jika ini telah waktunya maka percepatlah waktu itu. Ia sudah tak sabar menunggu dahaga itu ditarik dari kerongkongannya. Melepaskan jerit yang masih bisa bersuara dan setelah itu biarlah langit yang siapkan balasannya. Namun waktu itu tak jua datang semestinya. Sakitlah yang terus menggerogoti bagian-bagian tubuhnya. Samsul terus mengeram dan berteriak tapi tak akan ada yang mendengar. Percuma saja sakit itu dilepaskan dengan teriakan yang penuh ketulusan. Pedih yang ia rasakan terus bergumul dalam tubuhnya. Ia seperti cacing kepanasan yang siap dibakar oleh api yang membara. Langit pun mengerti dan memanggil.

Samsul dibawa ke dalam sebuah rasa sakit yang mengelok di sungai-sungai ini. Di sana ia melihat semak belukar gambut yang tak bertuan lalu terlihat banyak pula kepala-kepala manusia yang bermunculan dari sana. Tengkorak-tengkorak yang berserakan dan tak terurus menjadi jalan setapak yang terus menerangi rasa sakit. Samsul terus turun dari sampan yang membawanya. Ia menyusuri jalan setapak itu dan disambut bak pahlawan yang siap sedia mengajarkan seluruh penduduk kampung itu. Tak ada ketakutan yang dilihat mereka malah sebaliknya. Kecintaan dan kerinduan akan seorang saudara telah menanti bertahun-tahun. Mereka berdiri menyambut dengan tubuh yang tak lagi lengkap. Ada yang tangannya sudah dimakan oleh kebisuan ataupun kakinya yang sama seperti Samsul.

Saat itu ia menjadi pengajar yang langsung dibawa ke dalam rimba semak gambut yang tak diketahui orang-orang. Ia terus belajar dan mengajarkan anak-anak di kampung tersebut. Menjadi guru mengaji yang selalu paham kaji. Melepaskan beban-beban yang pernah dikungkung oleh semua cita-cita. Ia berada di sebuah kampung yang diisi oleh semua manusia yang diasingkan dari kehidupan normal mereka, disini menyatu dan membuat kehidupan selayaknya seperti orang normal. Samsul pun begitu dengan tenang mengalirkan sisi-sisi kehidupannya yang baik untuk menjadikan ini rumah yang telah menghilangkan rasa pedihnya.

Ini bukan mimpi Samsul. Ia terus bertanya-tanya kenapa bisa sampai di sini. Menjadi seorang yang telah bermanfaat dan berguna bagi orang lain. Telah meluluhlantakkan niat hewan-hewan yang bersiap memakan dagingku. Hingga seorang petugas puskesmas datang kembali ke tempat ini.

Samsul pun bertanya, “Siapa yang membawaku ke sini?”

“Marni yang menyuruhku membawa bapak ke sini,” ucap petugas tersebut.

Urat matanya seketika membesar, mengisi pipinya yang kurus. Perlahan alisnya naik-turun, meliar pula matanya yang tak bergeming menjangkau masa-masa getir. Tapi ada bulir tetes yang menggaris jatuh satu demi satu. Adakah yang sedang dikatakan pada angin yang mengepai kepala? Atau sesegera pula lemah lembut suara dedaunan yang jatuh dari pohon digerus di antara cerita bocah-bocah.

Rona-rona angin dihembus sembilu. Dititip pula oleh rebah kepala orang-orang yang sediakala masih ragu untuk berucap cinta, memegang ikatan cinta hingga alam baka. Adakah Tuhan mengirim  seorang peri yang cantik jelita di antara kumpulan daun-daun kering yang akan terbang dibawa angin. Musim semakin lama semakin parau, sekelebat dengan tatapan malam yang memecah lapisan ozon. Pria itu sibuk dengan kebahagiaannya meski terselip lubang khianat yang menganga. Bergegaslah ia sadar dan memeluk mataharinya.***

Rian Harahap,

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Darmayudha. Cerpennnya masuk dalam buku cerpen pilihan Sagang 2012 dan 2013.

Silakan kunjungi untuk alamat orisinilnya: http://www.riaupos.co/2077-spesial-surat-kepada-manusia.html#.U7jm7aNfvK0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: