Merayakan Berbagai Kekurangan

Riau Pos: Ahad, 06 Juli 2014

Merayakan Berbagai Kekurangan

Merayakan Berbagai Kekurangan

KESENIAN kita kekurangan peminat, kekurangan kreativator, kekurangan perhatian, kekurangan dana. Berbagai kekurangan menumpuk terhadap kesenian. Selain kekurangan secara tradisional yang belum juga memperlihatkan wajah menggembirakan, kekurangan temporer kini sudah menghadang dengan begitu dahsyatnya. Perkembangan teknologi yang tidak dibatasi oleh apa pun, kini menghantam kesenian yang kekurangan itu. Sementara pemerintah yang menjadi penanggung jawab terhadap semua perkembangan berbangsa termasuk keseniannya, belum juga memberi tempat yang patut bagi karya manusia itu.

Jujur saja dikatakan bahwa berbagai pihak sudah bebuih mulut untuk mengatakan hal itu. Kalau saja masih digunakan dawat, bahan tulisan tersebut mungkin sudah hampir kering untuk mengungkapkan hal tersebut. Papan ketik komputer, rasanya ikut haus karena begitu berkali-kalinya huruf-huruf diketuk untuk hal serupa. Tapi hasilnya, aduhai masih jauh dari harapan. Orang dulu cakap, jauh panggang dari api. Akhirnya, ikan yang dipanggang, tidak masak, tetapi tidak pula mentah. Yang pasti, tak sedaplah.

Tidak klise untuk dikatakan lagi bahwa kebudayaan di Tanah Air tak mungkin menolak perkembangan kebudayaan global. Tetapi kebudayaan global sudah begitu jauh masuk ke dalam alam serba digital misalnya, sedangkan perkembangan kebudayaan di Tanah Air masih tergagap-gagap dengan kondisi digital itu sendiri. Internet sebagai media digital, bukan benda asing bagi warga bangsa, bahkan kini sudah dilaksanakan gerakan melek internet di tengah bangsa yang belum menyadari jati dirinya.

Tengoklah perkembangan jejaring sosial sebagai tempat pertumpahan hal-hal sepele, sedikt sekali bagi perkembangan kreativitas. Sedangkan website dikunjungi, terutama yang bersifat syahwat. Tak pelak lagi, Indonesia termasuk negara pengunduh situs porno terbesar di dunia. Peralatan yang digunakan bukan dimiliki berdasarkan fungsinya, tetapi gengsi. Di samping hal material, Indonesia kiranya juga menjadi sasaran utama pemasaran industri humaniora.

Hal di atas menjadi masalah bukan karena peralatannya, tetapi berkaitan dengan sumber daya manusia—ketika internet cenderung dijadikan sebagai sarana hiburan, bukan upaya penjelajahan ruang kreativitas. Kemaruk alam maya ini begitu besarnya, sehingga dalam keadaan apa pun, kita selalu melihat telepon genggam bagaikan gula-gula alias permen yan senantiasa dikesip. Tak peduli di atas kenderaan, barang itu senantiasa digunakan. Dalam suatu kelompok, fisik mereka terlihat dekat, tetapi ternyata berjarak sekian jauh karena masing-masing sibuk dengan benda itu.

Makin Merisaukan

Keadaan di atas makin merisaukan karena negara, sejak lama hampir melakukan pembiaran terhadap kebudayaan. Bukankah misalnya, hampir 70 tahun merdeka, bangsa ini belum memiliki undang-undang kebudayaan yang menjadi “pelindung” besar terhadap bentuk-bentuk dan ruang ekspresi karya manusia. Kalaupun sekarang sedang digodok di DPR, kesannya tak tuntas-tuntas. Perihal terlambat dalam masalah ini, tentu sudah jelas, bagi bangsa yang katanya menjunjung tinggi kebudayaan.

Dalam contoh Riau, yang memiliki visi kebudayaan, keadaan tersebut terus ditambah dengan kesedihan. Buku-buku mengenai kebudayaan amat susah didapat terutama di sekolah. Kalaupun ada, banyak di antaranya yang kacau-balau. Politik anggaran kebudayaan adalah sesuatu yang menjauh dari kebudayaan tanpa perubahan sikap sejak zaman Orde Baru, misalnya bagaimana anggaran kebudayaan siap dihapus untuk keperluan nonkebudayaan. Penghancuran dan pembiaran tempat bersejarah tak tanggung-tanggung, seperti terlihat pada Masjid Sultan dan Bandar Seni Raja Ali Haji.

Di sisi lain, pengindustrilisasian  sudah hinggap pada semua bidang kehidupan, termasuk media massa yang menjadi lahan redaktur kebudayaan—betapa pun disebut sebagai korban dari tuntutan ekonomi modern. Kondisi ini antara lain menuntut bagaimana keuntungan material secara pragmatis menjadi pertimbangan yang tak bisa dinomorduakan. Contohnya, iklan dapat begitu mudah menggeser suatu gagasan dalam bentuk tulisan, tersingkirkan atau dipadatkan dengan pendekatan ekonomis.

Nyatanya sekarang, ruang kebudayaan amat terbatas pada banyak koran, bahkan yang ada pun terlihat semakin kurus. Kondisi ini akan menjadi lingkaran setan ketika dihadapkan pada kondisi kemasyarakatan di tengah rasukan industri-kapitalis dan ketidakberpihakan pemerintah terhadap kebudayaan itu sendiri. Tak dapat dilupakan pula bagaimana keberadaan media cetak makin tergerus, digantikan oleh media digital.

Masih untung kalau keberadaan media umum berupa koran diganti dengan digital. Malahan sejumlah koran ternama di dunia, gulung tikar akibat rempuhan digital tersebut. Di Indonesia, hal ini dapat dibaca dengan bagaimana saat masyarakat baru pandai membaca, tetapi perkembangan dunia telah menyeretnya untuk meninggalkan kepandaian tersebut yang justru sudah selesai dalam medium tinggi. Maksudnya, kepandaian membaca itu bukan lagi masalah kesejagatan yang sudah melewatinya jauh di belakang dan sebagai modal utama perkembangan dunia, sedangkan Indonesia baru hendak melangkah ke arah perkembangan itu sendiri.

Menyambut Tantangan

Contoh-contoh kekurangan sekaligus tantangan yang menjurus sebagai suatu lingkaran setan di atas, tak akan selesai-selesai dibicarakan, apalagi dibentrokkan, seperti terlihat pada Pertemuan Redaktur Kebudayaan se-Indonesia ke-3 dan Festival Wartawan Seni ke-1, berlangsung di Siak Sri Inderapura, Riau, 20-22 Mei lalu. Difasilitasi Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), kegiatan ini dibuka oleh Gubernur Riau Annas Maamun, menampilkan berbagai kegiatan seperti pameran budaya, pertunjukan seni, dan seminar.

Syahdan, masing-masing kekurangan maupun tantangan memiliki alasan—untuk tidak mengatakan sekedar membela diri—terhadap kenyataan yang dihadapi koran, masyarakat, dan negara. Betapapun demikian, media cetak masih merupakan alternatif utama untuk mengomunikasikan kerja kebudayaan. Kehadirannya masih amat menentukan, sehingga masih amat diperlukan bagi perkembangan kebudayaan. Betapapun hal tersebut dapat dipastikan bersifat sementara, sebab lambat laun, keadaan media cetak ini juga akan mengalami apa yang sudah terjadi pada sejumlah media cetak di dunia seperti telah terjadi di Amerika Serikat.

Oleh karena itulah, tak ada pilihan lain kecuali merayakan berbagai kekurangan yang dihadapi oleh kebudayaan di Tanah Air sekaligus tantangan redaktur kebudayaan media massa.  Disebut merayakan, karena kekurangan demi kekurangan disambut dengan kegembiraan, karena hanya dengan demikian sajalah, penggiat kebudayaan termasuk redaktur kebudayaan, dapat memperjuangkan gagasannya dalam pembangunan kebudayaan.

Muara dari sikap gembira itu adalah menjadikan tantangan justeru sebagai media ekspresi baru. Keadaan masyarakat yang kini dirasuki televisi misalnya, bukankah dapat disejajarkan dengan ekpresi budaya tradisi yang cenderung bergantung pada kelisanan? Contoh lain adalah bagaimana makin sempitnya ruang koran untuk budaya, disetalikan dengan kenyataan suatu ekspresi budaya yang tidak tergantung pada panjang-pendeknya tulisan, tetapi kesan atau pesan yang dibangunnya untuk khalayak ramai.

Bukankah kebudayaan itu sendiri tidak bersifat lestari, tetapi senantiasa bermetamarfosis? Dengan demikian, warisan budaya tetap harus dipelihara sebagai pijakan untuk menemui ruang-ruang eskpresi baru. Tak salah lagi, ruang ekspresi seperti koran maupun media lainnya, hanya sebagai alat untuk menuangkan ekpresi budaya, tetapi bukan ekspresi budaya itu sendiri. Menemukan tempat ekspresi budaya yang baru adalah kreativitas tersendiri.

Sebagaimana halnya redaktur kebudayaan dan kreativator budaya, pemerintah pun harus aktif menghadapi kenyataan ini. Undang-undang kebudayaan perlu digesa, di samping menjadikan budaya bukan sebagai obyek, tetapi subyek. Pembangunan kebudayaan adalah suatu upaya membangun bangsa sesuai dengan potensi dan keperluannya yang terlihat dari ekspresi budaya masyarakat pada masing-masing koloninya, bukan suatu jeneralisasi.

Jadi? Ya, usah cemas dengan kenyataan budaya yang ada, kini dan di sini. Kita masih punya waktu, bro…***

Taufik Ikram Jamil

Adalah sastrawan Indonesia asal Riau, Karya-karyanya tersebar ke berbagai media. Karyanya berupa novel, sajak dan cerpen telah dibukukan. Saat ini tercatat sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning.

Bisa dibaca lebih lanjut di: http://www.riaupos.co/2076-spesial-merayakan-berbagai-kekurangan.html#.U7jwgKNfvK0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: