Merajut Sayang dari Orang-Orang Terkasih Kisah Ketulusan Pengorbanan dalam Novel Ayah Keduaku

Riau Pos: Ahad, 06 Juli 2014

Merajut Sayang dari Orang-Orang Terkasih

Kisah Ketulusan Pengorbanan dalam Novel Ayah Keduaku

Ayah Keduaku (Junaidi Khab)

Ayah Keduaku (Junaidi Khab)

“Aku harus meninggalkan senja yang basah ini. Ada pagi esok dan sejumlah orang yang masih memerlukanku di luar sana. Bukan hanya Abu Bakar yang menganggapku sebagai ayah keduanya. Di luar sana, masih banyak orang yang menganggapku sebagai ayah keduanya, yang harus kubantu sebisa mungkin. Senja akan berakhir, dan malam menjelang. Tapi pagi tetap akan muncul keesokan hari, memberikan harapan-harapan dan cahaya kehidupan.” (halaman 423).

Sebuah Kisah

Kata ayah dengan sebutan apapun di muka bumi ini selalu memberikan kesan individual bagi kita semua. Pengalaman subyektif kita akan selalu berbeda ketika berinteraksi dengan seorang yang ayah atau yang kita anggap ayah. Adalah wajar ketika seorang pengarang menjadikan tokoh ayah atau yang dianggap ayah sebagai salah satu ide dalam karyanya. Novel yang oleh penulis Moch Amin diinspirasi dari kisah masa kecil salah satu tokoh Riau ini bermula dari kreasinya terhadap dua halaman rancangan biografi tokoh tersebut.

Novel “Ayah Keduaku” dibuka dengan kilas balik “aku” yang akan melakukan ganti hati. Terkenang perjuangan seorang ayah untuk memberikan makna sekolah bagi kampungnya. Perjuangan dari sekelompok masyarakat yang masih vested interested terhadap perubahan. Tantangan krisis politik gayang Malaysia membuat jatuh bangun seorang ayah melakukan segala cara agar anaknya dapat melanjutkan sekolah. Namun sebuah pilihan memang harus dibuat seorang ayah yang harus berlaku adil untuk kelanjutan sekolah anak-anaknya. Aku dikorbankan untuk seorang abang yang memiliki mental lebih baik untuk melanjutkan pendidikan. Pengorbanan keluarga dengan memberikan harta keluarga berupa dua pound emas menjadi jalan pembuka untuk seorang anak melanjutkan ilmu ke tanah Jawa.

Keberhasilan tidaklah harus dinikmati yang memberikan pengorbanan. Sang ayah telah meninggalkan dunia namun masih ada ayah-ayah kedua lainnya yang akan turun tangan melanjutkan cita-cita ayah. Kerja keras yang berlandaskan pengorbanan keluarga akhirnya membuahkan hasil yang manis.

Ayah dan Kekuatan Kata

“Ayah Keduaku” hadir dengan menampilkan kata-kata yang kuat dan menjadi bahan refleksi bagi yang membacanya. Kemahiran pengarang bermain dengan kata-kata bijak membuat novel ini menjadi terasa berkelas sebagai salah satu bentuk pencerahan.

Peran keluarga berupa aliran kata-kata pendorong bagi anak-anaknya tergambar dalam ucapan puitis ayah. “Matahari adalah sumber kekuatan kita di alam ini. Cahayanya membuat kita hidup bersama tumbuhan dan hewan untuk melewati hari-hari yang indah ini. Di bawah cahaya dan kekuatan matahari itulah kita bernaung bersama untuk mengumpulkan tenaga kita, untuk menatap harapan-harapan kita, lalu meraihnya.” (halaman 53). “Kelam adalah sesuatu yang kosong, dan cahaya, betapapun suramnya adalah sesuatu yang mengisi kekosongan.” (halaman 87).

Ayah selalu menganggap alam adalah energi masa depan. “Abu Bakar, Anakku! Ayah ingin memperlihatkan energi kehidupan ini kepadamu. Kau harus tahu bahwa matahari yang terbit itu adalah pertanda kehidupan dan masa depanmu kelak!” (halaman 146).

Ayah yang melakukan segalanya untuk anak-anaknya. “Ayah tak tahu pasti tentang masa depan. Tapi … setidaknya Ayah akan terus berusaha memberimu jalan!” (halaman 146). “Bagi Ayah, pekerjaan itu ibadah. Ayah akan terus bekerja sampai kapan pun, sampai Ayah tak mampu lagi menggerakkan tangan dan kaki ini. Itulah batas bekerja menurut Ayah.” (halaman 262).

Ayah yang akan selalu melihat sisi positif anaknya. “Yang jelas, Ayah akan terus memberimu semangat dan tenaga, seperti matahari di sana. Kau juga memiliki keberanian yang luar biasa untuk ukuran anak kampung. Ayah bangga padamu!” (halaman 146).

Ayah yang tak pernah lelah membakar semangat. “Jatuh adalah hal yang biasa dalam kehidupan ini. Kita terjatuh untuk dapat bangkit kembali, Nak!” (halaman 147). “Lihatlah. Jika Kau hadapkan wajahmu ke depan, ke arah cahaya matahari itu, maka di belakangmu ada bayangan. Itulah kesuraman, kegelapan. Ayah sarankan, jangan sering-sering memandang ke belakang, ke arah kesuraman dan bayang-bayang masa lalu. Pandanglah terus ke depan.” (halaman 148).

Ayah dengan segudang kesabaran. “Bukankah kebahagiaan biasanya bisa menghilangkan kemarahan?” (halaman 101).  “Ayah kembali tersenyum. Entah mengapa aku merasa kali ini sangat dekat dengan Ayah. Aku merasa akulah anak kesayangannya di antara anak-anak yang lain. Aku merasa telah melakukan kesalahan yang sangat besar, tapi Ayah sama sekali tak memarahiku. Ayah menyayangiku sepenuhnya.” (halaman 123).

Meninggikan Arti Pendidikan

Memang telah banyak novel yang berlatar belakang pendidikan, namun “Ayah Keduaku” menawarkan sesuatu yang unik dari ketulusan pengorbanan seorang ayah dan dilanjutkan dengan ayah-ayah kedua. Pengorbanan segalanya dengan menjadikan pendidikan sebagai salah satu bentuk untuk merubah keadaan.

Ayah adalah pelopor perubahan. Ayah yang melihat pendidikan adalah kunci meretas masa depan. Walau hanya memiliki panggung sandiwara reyot namun semangat selalu menepis keraguan. “Aku melihat Ayah yang berjalan pulang, ke arah punggungnya yang masih tegap di usia yang tak lagi muda. Langkahnya pelan dan pasti, seperti langkah pendidikan di panggung sandiwara tua yang hampir rubuh ini. Langkah yang terus akan kukenang.” (halaman 63). “Ini keringat pendidikan, Abu! Keringat anak sekolah yang banyak pahalanya!” (halaman 76).

“Ayah Kedua” menjalinkan kisah keterbatasan hidup namun tetap meletakkan pendidikan sebagai sarana mobilitas yang sangat penting untuk mengangkat martabat keluarga.

Kisah Bernilai

“Ayah Kedua” menawarkan beragam nilai kehidupan melalui jalinan bab ke babnya. Beberapa nilai diantaranya:

Toleransi. “Maafkan Ahui. Kalau di sini Lu punya anak Uwa punya anak. Kalau di Pujud Uwa punya anak Lu punya anak. Hayya, kita semua saudala lah!” (halaman 133).

Setia Janji. “Ya, Abu. Aku sudah berjanji padamu, dan aku akan menepatinya. Begitulah janji seorang pelaut, janji pembaca bintang-bintang! Ujar Rimbo. (halaman 154).

Berpikir positif. “Itulah beda seniman dengan bukan seniman Abu! Seni itu tidak dipikirkan, tapi dirasakan. Aku dapat merasakan apa yang dimiliki Rimbo. Jadi aku tak perlu melihat kekurangan-kekurangannya!” (halaman 184).

Persaudaraan Serumpun. “Lalu kenapa kita bermusuhan dengan sesama orang Melayu? Bukankah orang Malaysia itu saudara kita juga, Ayah?” (halaman 200).

Kerja keras. “Abu! Udo hanya melihat kau merasa terpaku dengan keindahan senja itu. Tanah Jawa tak seindah senja itu. Kita harus bekerja sangat keras untuk meraih apa yang kita inginkan di sana!” (halaman 349).

Ada yang Kita Kenal

“Ayah Kedua” bukan sekedar bertutur kisah mengharu biru perjuangan anak-anak Desa Pujud meraih cita-cita masa depannya tapi pembaca akan mendapat sesuatu wawasan baru. Wawasan tentang berbagai banyak hal tentang warisan budaya dan tradisi masyarakat berupa tradisi suluk, tonil, menderes, batang upih, tarik upih, karet ojol, buah para, ungkoshen, legenda bono, bono betina, betina jantan, bekudo bono, beting, keterangan ilmiah bono, bangliau, kuil In Hok Kiong, karet sheet, smokel, dan lebai. Kita juga akan dibawa untuk mengenal tradisi perkawinan masyarakat Melayu, dengan beragam pantun yang mewarnai tradisi tersebut.

“Buah pauh selasih sayang

Angin menyapa di tengah sunyi

Dari jauh kami datang

Ingin berjumpa idaman hati” (halaman 95).

Menampilkan wawasan baru pada pembaca bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini hanya dapat dilakukan seorang pengarang yang memiliki kesungguhan hati untuk menyelesaikan karyanya agar mampu dikenang pembaca. Survei lokasi dan karakter masyarakat tentunya telah dilakukan pengarang sebagai bentuk kesungguhan itu. Begitulah seharusnya pekerjaan pengarang menampilkan karya yang bukan sekedar fiksi namun mampu memberikan wawasan yang mencerahkan.

Catatan

Novel yang diangkat dari kisah hidup di masa kecil seorag tokoh Riau ini telah dengan detil mencirikan karakternya. Aku (Abu Bakar), Ayah, Alang Ahsan, Rimbo, Tauke Ahok, Udo Saleh, Idin dan tokoh-tokoh lain yang turut mengiringinya. Setting periode 3 periode sejarah Indonesia telah dijaga pengarang untuk tidak mengalami kecacatan sejarah. Hal ini bukanlah pekerjaan mudah. Judul setiap bab dalam pembahasannya terjaga dan menjadi pembingkai uraian. Bahkan pada bagian akhir dari judul setiap  bab selalu ditandai dengan ending yang menegaskan judul bab. Pengarang sangat mahir memainkan 3 sudut pandang aku pada situasi yang berbeda. Keharuan-keharuan akan kematian ditinggal oleh orang-orang terkasih sempat menyeruakkan sisi haru pembaca. Dengan segala kelebihannya “Ayah Keduaku”memang pantas untuk menerima Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan Tahun 2013 oleh Yayasan Sagang.***

Bambang Kariyawan Ys

Guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif menjadi pengurus FLP Riau.

Bisa dikunjungi dan dinikmati lebih lanjut di: http://www.riaupos.co/2075-spesial-kisah-ketulusan-pengorbanan-dalam-novel-ayah-keduaku.html#.U7jxvaNfvK0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: