Menjawab Problematik Seputar Puasa

Koran Jakarta: Senin, 30 Juni 2014

Cover Puasa Dalam Dimensi Fikih-Taswuf (Junaidi Khab)

Cover Puasa Dalam Dimensi Fikih-Taswuf (Junaidi Khab)

Judul               : Puasa Dalam Dimensi Fikih-Tasawuf

Penulis             : Dr. H. Imam Ghazali, MA

Penerbit           :HARIAN BANGSA Diantama

Cetakan           : II, 2014

Tebal               : xi + 155halaman, 12 x 18 cm

ISBN               : 979-9168-40-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Meskipun puasa sudah dijalankan bertahun-tahun dalam satu bulan, yaitu bulan Ramadan, tidak semua orang memahami makna puasa itu sendiri. Selain itu pula, seiring perjalanan zaman, sebenarnya semakin mematangkan umat Islam mengenai perihal puasa.

Namun kenyataannya, semakin mereka melaksanakan ibadah puasa setiap tahun atau puasa-puasa sunah lainnya, semakin banyak pula problem yang mengejar-ngejar dan menyelimuti perasaannya sehingga rasa waswas dengan pekerjaan yang kita lakukan menjadi unek-unek tersendiri, apakah itu membatalkan puasa yang kita lakukan atau tidak.

Sesering para mubalig dan para alim ulama menjawab problematik yang dihadapi oleh umat Islam yang sedang berpuasa terkait pertanyaan seputar puasa, semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang mesti dijawab oleh para ulama. Rasa waswas umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa selalu mengiringi tiap tiba bulan puasa. Itu terbukti jika ada sebuah forum tanya-jawab seputar puasa, banyak pula para penanya yang menanyakan hal-hal yang ada kaitannya dengan puasa, utamanya hal-hal yang membatalkan puasa.

Melalui buku ini, Imam Ghazali mencoba menyajikan berbagai macam pertanyaan dan jawaban yang lumrah dihadapi oleh masyarakat yang menjalankan ibadah puasa. Awalnya buku ini merupakan kumpulan jawaban dari para penanya pembaca koran yang memuat kolom tanya-jawab seputar puasa.

Salah satu pembaca dalam kolom tersebut menanyakan perihal yang aneh-aneh. Dianggap aneh karena seakan yang ditanyakan itu merupakan pertanyaan yang sudah banyak ditemukan dalam kitab-kitab. Kemungkinan penanya tahu, cuma karena rasa waswas itulah unek-unek ingin bertanya untuk meyakinkan hatinya dilakukan. Seperti hukum lupa makan dan minum di siang bulan Ramadan (hal 66).

Sebenarnya pertanyaan demikian menunjukkan bahwa penanya merupakan pemalas untuk belajar membaca dan mencari infromasi terkait hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, sebagai konsultan seputar puasa yang profesional, Imam Ghazali dengan tulus memberi jawaban yang cukup jelas dalam buku ini. Tak ada yang tidak penting apakah orang itu benar-benra tidak tahu atau sekedar iseng-iseng. Namun faktanya, jawaban tersebut sangat berguna sebagai pemantap keraguan hati yang sedang dilanda keraguan tentang lupa makan dan minum di siang bulan Ramadan saat melakukan puasa.

Juga buku ini menyajikan terkait problematik dan jawaban yang dihadapi umat Islam yang berpuasa di era modern saat ini. Ada suatu pertanyaan yang cukup penting untuk diketahui dan diingat jawabannya, yaitu terkait donor darah di bulan Ramadan bagi orang yang berpuasa. Dalam jawaban tersebut dengan tegas dijawab tidak membatalkan dengan syarat tidak memasukkan cairan ke dalam tubuh saat jarum infus disuntikkan ke urat nadi di bawah kulit (hal 82).

Dari jawaban tersebut pada hakikatnya jika ada sesuatu yang masuk disengaja ke dalam tubuh manusia di saat menjalankan ibadah puasa, maka puasanya menjadi batal. Sebenarnya itu sudah menjadi patokan hukum syariat Islam terkait benda yang masuk ke dalam tubuh manusia. Cuma umat Islam masih lemah dalam menganalogikan hukum suatu perbuatan dengan perbuatan yang hampir sama seperti kasus pendonoran darah. Meskipun bukan donor darah, jika memasukkan sesuatu ke dalam tubuh orang yang berpuasa dengan disengaja, maka puasanya batal.

Selain itu pula pertanyaan yang datang terkait dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan mimpi basah di siang bulan Ramadan. Cukup merepotkan dan membuat hati waswas jika hal yang tidak kita mengerti tidak mendapatkan jawabannya. Namun, dengan tegas Ghazali menjawab bahwa mimpi basah di saat berpuasa tidaklah membatalkan puasa yang kita lakukan. Dengan satu alasan yang sama dengan donor tadi, yaitu tidak disengaja (hal 111).

Berbagai pertanyaan dan jawaban tersaji cukup unik dalam buku ini. Variasi pertanyaan yang beraneka ragam, mulai dari pertanyaan yang tampak seakan mudah dan remeh hingga pertanyaan-pertanyaan yang bisa dikatakan membutuhkan kecermatan penuh untuk dijawab dengan dalil-dalil yang valid, akurat, dan rasional sehingga berbagai persoalan yang menjadi kendala dalam menjalankan puasa bisa diatasi.

Buku ini merupakan kumpulan tanya-jawab seputar problematik yang dihadapi umat Islam saat menjalankan ibadah puasa, utamanya puasa di bulan Ramadan. Berbagai pertanyaan dengan jawaban yang cukup meyakinkan tersaji begitu mudah dibaca dan mudah untuk dipahami sehingga hati yang ragu menjadi mantap menempuh keyakinan dalam menjalani ibadah puasa. Tidak sekadar seputar tanya-jawab saja, namun buku ini memberikan semacam penjelasan dan ulasan yang ada kaitannya dengan ibadah puasa. Mulai dari keutamaan, problematik, rahasia, dan hikmah melakukan ibadah puasa, khususnya di bulan Ramadan. Topik semacam itu sebenarnya banyak diburu oleh orang-orang yang awam mengenai problematik seputar puasa sehingga dengan kehadiran buku ini segala problematik seputar puasa akan tersingkap.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel, Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

http://koran-jakarta.com/?15213-menjawab%20problematik%20seputar%20puasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: