Ketika Media Bersastra

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab Meloncat di Dream Land - Happy

Junaidi Khab Meloncat di Dream Land – Happy

Media beberapa pekan ini seakan-akan menari di atas kutukan sosial yang menimpa sastrawan terkemuka Indonesia, SS. Media dengan mudah, renyah, ringan, dan santai membicarakan kasus yang berbau anyir tersebut. Siapapun akan sinis dan apatis terhadap dunia kesusasteraan akibat berita yang sedang beredar begitu miris, lebih-lebih bagi mereka yang tidak senang dengan dunia sastra. Sebagai media pemberitaan, tentu koran dan media massa lainnya berhak dalam memberitakan kasus ini secara objektif dan sportif.

Sejauh mana usaha media menyajikan menu pemberitaannya, sejauh itu pula berita berpeluang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Sering dijumpai kasus pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan, karena pada saat itu pula saya pribadi sebagai saksi mata kasus yang menjadi objek pemberitaan. Mereka yang menjadi wartawan memang perlu diacungi jempol dengan kelihaiannya mengolah suatu berita menjadi enak dibaca dan mempersuasi para pembaca agar percaya seratus persen dengan berita yang disampaikannya. Sedikit banyak kita tahu bahwa berita tersebut diolah agar renyah dibaca, dan tentunya ada bumbu di dalamnya.

Kasus hina yang menimpa sastrawan kita merupakan celah hitam dunia kesusasteraan, begitu pula menjadi celah bagi keluarganya yang masih utuh di tambatan bahterah hidupnya. Ini memang merupakan perilaku fatal yang menimpa sastrawan dengan great identity di negeri ini. Dunia kesusasteraan jika demikian yang terjadi pada diri seorang sastrawan, maka sastra akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Sastra tak lain sebagai bentuk hidup santai tanpa peduli pada norma sosial. Sastra akan dianggap tidak memiliki peran penting akibat berita pilu yang beredar di media massa dengan kasus sastrawan yang sedang terbengkalai oleh peristiwa tak asusila.

Padahal, sastra diyakini mampu memberi kontribusi positif bagi kehidupan. Terutama, sumbangan imajinasi yang menjadi medium manusia mendapat ide atau teori. Ide atau teori inilah yang menjadi karya nyata.

Sayangnya, masyarakat kita masih memandang eksistensi sastra dengan sebelah mata. Sebab secara pragmatis sastra tidak memberikan kontribusi secara nyata – keuntungan material. Sehingga mereka kurang minat dengan dunia sastra. Masyarakat kita sudah telanjur melihat ukuran kesuksesan kehidupan dari seberapa banyak materi atau harta benda yang dimiliki (Agus Wibowo, 2013:94-95).

Dilema Berita

Dalam kasus yang menimpa sastrawan ternama Indonesia tersebut, ada dua hal yang perlu kita cermati secara hati-hati. Pertama, pandangan berita di beberapa media yang menyatakan bahwa – sastrawan kita – tidak lekas bertanggung jawab, padahal telah berjanji. Kedua, surat terbuka yang dituliskan oleh putrinya di portal pribadinya menyebutkan bahwa berita yang beredar tersebut jauh panggang dari api. Dia mengatakan bahwa ayahnya telah berusaha untuk menemui korban (untuk bertanggun jawab), namun oleh pendampingnya tidak ditanggapi.

Dua informasi tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan bagi kita mengahdapi kasus tragis yang menimpa sastrawan terkemuka Indonesia ini. Memang diakui bahwa kasusnya ini keluar dari norma yang berlaku – hamil di luar nikah. Namun setidaknya kita sebagai pembaca harus cerdas dalam menanggapi kasus yang sensitif ini. Salah dalam memahami dan mencerna berita-berita yang telah banyak diolah selezat mungkin oleh media, maka permusuhan yang akan terjadi. Jangan sampai media massa menjadi agen permusuhan di antara kita dengan fakta yang kurang akurat.

Lebih jauh lagi kita harus mampu menjaga eksistensi dunia kesusasteraan akibat kasus ini. Salah dalam melangkah untuk mengambil keputusan dari berita yang sedang beredar, maka sastra yang akan menjadi ancaman mendapat pandangan stereotip oleh publik. Begitu pula sastrawan kita akan lebih hancur berkeping-keping. Dunia sastra dan kesusasteraan perlu kita lindungi sebagai bentuk buah kreasi cerdas anak bangsa ini dalam menghidupkan peradaban dunia.

Bersastra merupakan suatu bentuk meluapkan emosi dan libido agar tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif. Namun sangat berbeda ketika sastrawan bersastra dengan media bersastra. Jika sastrawan yang bersastra, seluruh jiwa akan hidup kembali dan terinspirasi untuk melakukan hal-hal yang lebih positif dalam hidup ini. Namun, ketika media yang bersastra, segalanya ingin bermusuhan dan mengorek-ngorek kejelekan antarasesama. Padahal perilaku demikian tidak patut dilakukan oleh media dengan melebih-lebihkan suatu kasus dengan berita yang tidak faktual terhadap konteks pemberitaan yang sedang terjadi.

Akan tetapi, kasus yang menimpa saudara sastrawan Indonesia ini harus menjadi sebuah cambuk batin bagi kita semua, khususnya para sastrawan. Sebagai upaya untuk terus introspeksi diri agar kita mampu mengontrol hati dan rasa yang kadarnya kadang naik dan turun tidak menentu. Dengan sastra, hati kita akan menjadi lunak dan penuh dengan nilai-nilai humanis. Tetapi dalam kasus asusila ini, sastra seakan tidak ada taringnya, tidak mampu melunakkan syahwat yang selalu beringas menghadapi situasi panas yang mengalir dalam darah. Sehingga hakikat sastra lenyap begitu saja.

Maka dari itu, meski sastra sebagai agen pelunak hati yang keras, kita perlu juga menjaga syahwat (rasa) yang sulit dikendalikan agar tidak merusak tatanan dan nilai yang menjadi objek sastra itu sendiri yaitu nilai idealis sastra yang humanis. Keseimbangan antara tulisan, ucapan, dan tindakan oleh para sastrawan dan masyarakat secara umum harus menjadi tolok ukur keberhasilan kesusasteraan yang sudah ternodai saat ini. Semoga!

Surabaya, 1 Desember 2013

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: