Menagih Konsep dan Sistem Gagasan Jokowi

Duta Masyarakat: Selasa, 17 Juni 2014

Oleh: Junaidi Khab*

JUNAIDI KHABPada tanggal 10 Mei 2014 lalu, KOMPAS menerbitkan tulisan Joko Widodo (Jokowi) dengan judul “Revolusi Mental”. Cukup menarik dan unik sekali, media booming memberitakan hal tersebut. Banyak yang bertanya-tanya dan terheran-heran. Seakan tidak percaya jika Jokowi menulis sebuah esai. Sehingga forum diskusi Indonesia Belajar di Surabaya Jawa Timur pada 23 Mei 2014 membahas dan mengulas tuntas dari berbagai sudut pandang. Mulai dari kajian analisis framming, politik, teori profesionalitas Edward W. Said dan Julien Benda.

Jokowi dalam tulisannya sebagai sosok atau figur yang pernah memimpin Surakarta dan Jakarta pada saat ini, mengeluarkan andalan kepemimpinannya sebagai contoh gerakan yang dianggap baik. Padahal jabatannya itu ditinggalkan setengah jadi untuk menatap panggung Pilpres 2014. Hal ini tampak figur yang terlalu memosisikan dirinya sebagai pemimpin yang sukses, tanpa celah sedikitpun. Padahal dua kepemimpinan yang dipegang baru setengah jadi, lalu ditinggalkan begitu saja. Jika Jokowi terpilih sebagai presiden RI periode 2014-2018 mau mencalonkan apa lagi?

Ada sebuah persepsi, bahwa Jokowi kelak juga akan meninggalkan kepresidenannya (jika terpilih) untuk maju menjadi presiden PBB. Entahlah. Lalu panggung politik kepemimpinannya digantikan oleh wakilnya. Inilah politik bangsa kita di saat ada partai yang memiliki sedikit partisipan, ingin berkoalisi dengan suara terbesar PDIP, kemudian “pemilik” akan dilengserkan dengan terhormat. Jokowi hanya akan jadi tunggangan politik belaka. Kapabilitas Jokowi untuk Surakarta sebenarnya masih setengah jadi untuk kepemimpinannya. Tapi, karena digembor-gemborkan oleh media, sehingga namanya naik daun. Begitu pula untuk Jakarta, masih belum maksimal.

Selain itu, jika dikaji lebih menukik lagi, tulisan yang digagas oleh Jokowi bukan hal baru. Tetapi merupakan ide lama yang dikonsep sesuai dengan konteks kekinian. Misalkan tentang revolusi mental dan dengan mudahnya gagasan tersebut mampu menembus media nasional karena profesi Jokowi yang cukup fenomenal dan sebagai kandidat calon Presiden RI dari PDI Perjuangan.

Persoalan Profesi

Padahal menurut Jean Benda yang dituturkan oleh Edward W. Said (2013) bahwa profesionalisme tidak menjamin atas segalanya. Bisa jadi orang yang tidak memiliki label profesional juga mampu mengutarakan gagasan seperti yang ditulis oleh Jokowi dengan identitas rakyat biasa. Ada yang beranggapan bahwa jika orang tanpa label profesional yang menulis artikel semacam tulisan Jokowi, tidak mungkin dimuat oleh media karena pertimbangan profesional. Aneh.

Namun, media memiliki kewenangan tersendiri untuk menerbitkan karya siapapun. Hal yang sangat disayangkan bahwa media selalu memandang antara tulisan dan identitas penulisnya saja. Padahal seseorang tanpa label suatu profesionalitas juga dimungkinkan mampu menarasikan dan meracik apa yang menjadi kegalauan dirinya tentang fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Seperti halnya ilmuwan terdahulu, Ibnu Sina. Ia merupakan salah satu ilmuwan yang ahli dan berprofesi dalam bidang kedokteran dengan penemuan-penemuan ilmiah melalui karya monumentalnya “al-Qanun fi al-Thib”. Bukan hanya itu, Ibnu Sina juga memiliki kemampuan tentang filsafat, pendidikan, astronomi, dan ilmu perbintangan. Masih banyak lagi tokoh yang tidak hanya dalam satu profesi, tapi mampu melihat dan mengkritisi dengan gagasan cemerlangnya, seperti Imam Hambali, Socrates, Plato, Albert Einstein, dan Galilio Galilei

Dengan bahasa lain, gagasan Jokowi tersebut merupakan gagasan daur ulang dari beberapa ide rongsokan yang terpendam oleh sampah zaman. Dalam hal ini, Jokowi hanya mengingatkan tentang peristiwa Trisakti yang terjadi pada tahun 1998 hingga persoalan korupsi yang terjadi saat ini. Itu pun menggunakan ide perjuangan Bung Karno untuk pemenangan Pilpres 2014 mendatang. Selain itu pula, gagasan tersebut merupakan politik pencitraan, namun masih tergolong mulia, melalui ide cemerlang di balik rangkaian kata-katanya.

Namun tulisan Jokowi ini masih menjadi kontroversi, karena pada hari yang sama, ada tulisan dengan tema yang sama. Yaitu “Revolusi Mental” yang ditulis oleh Benny Susetyo di harian Seputar Indonesia (Sindo), ada yang mengatakan plagiarisme. Kita juga cukup heran, sejak kapan Jokowi belajar menulis esai? Hal ini sangat disayangkan, meski ada yang mengatakan tulisan itu hasil racikan bersama tim suksesnya. Namun, kenyataan isi tulisan tak kontras sama. Entahlah.

Konsep dan Sistem

Dalam akhir gagasannya, Jokowi memberikan solusi dari gerakan revolusi mental. Yaitu memulai dari diri sendiri, lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal serta lingkungan kerja dan kemudian meluas menjadi lingkungan kota dan lingkungan negara. Ide yang cukup cemerlang dan pantas mendapat acungan jempol. Tapi kita mengiris lebih tajam lagi, bahwa gagasan tersebut memang benar-benar daur ulang saja. Sistematika revolusi mental yang dikehendaki oleh Jokowi masih hanya berbentuk imbauan belaka. Semua orang bisa mengimbau dan mengatakan seperti itu.

Namun hal tersebut cukup menggairahkan, Jokowi mau menggerakkan revolusi mental bangsa ini melalui ide dalam tulisan. Hal ini juga dilakukan oleh founding fathers kita sejak zaman penjajahan. Misalkan Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, HOS Djokroaminoto, dan Muchtar Lubis memulai pergerakan di Indonesia dengan karya-karya berbentuk tulisan yang berisi tentang ide dan gagasan gerakan kebangsaan.

Dengan begitu, perjuangan sosok Jokowi dalam membangun bangsa ini akan tetap berjalan dan hidup melalui tulisannya, jika tetap intens di balik blusukannya. Mungkin pemimpin seperti Jokowi patut ditiru dalam gerakan mengubah nasib bangsa ini, selain melalui blusukannya dia juga mau mengasah mental literernya. Patut diteladani dan dijadikan sebagai inspirasi bagi para pemimpin dan bangsa ini.

Setelah dibedah bersama, ternyata tulisan Jokowi dalam diskusi Indonesia Belajar tak memiliki konsep dan sistematika gagasan yang cukup jelas bagi bangsa ini. Idenya masih dikata ambigu dan mentah. Konsep yang sistematik setidaknya dijadikan bahan peracik utama untuk menguatkan argumennya. Semua orang bisa mengatakan memulai dari diri sendiri, keluarga, kerja, dan lingkungan negara. Dalam hal ini, jokowi tidak menawarkan ide gerakan untuk masyarakat bagaimana masyarakat bisa memulai dari dirinya sendiri.

Di sinilah titik lemah gagasan Jokowi (jika itu memang karyanya). Setidaknya dengan gagasan tersebut, Jokowi memiliki visi-misi, sistematika, dan konsep yang jelas untuk menggerakkan masyarakat agar bisa memulai dari dirinya sendiri. Bukan hanya dengan kata-kata usang yang semua orang bisa asal pasang. Di sini perlu suatu program andal, yang bisa dijadikan patokan utama untuk menggerakkan kesadaran diri masyarakat pada masa pemerintahannya, jika terpilih. Semoga!

* Penulis adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

URL                            : junaidikhab.wordpress.com

Facebook/Twitter        : Junaidi Khab (john_khab@yahoo.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: