Media Massa dan Budaya Politik di Indonesia

Tema Kajian Indonesia Belajar-IB pada Jumat, 06 Juni Mengangkat Tema MEDIA MASSA DAN BUDAYA POLITIK DI INDONESIA[1]

Oleh: Muhammad Shofa*[2]

Begitu hebatnya pers, sehingga seandainya siang dikatakan pers malampun, masyarakat terutama yang lugu akan mempercayainya (KH. Mustofa Bisri, Jawa Pos 31 Maret 2004)[3]

Muhammad Shofa

Muhammad Shofa

Demikianlah pernyataan Gus Mus saat melihat besarnya pengaruh media massa dalam upayanya membongkar opini public. Bagi masyarakat awam penikmat media, mereka biasanya akan menelan mentah-mentah informasi yang disajikan oleh media, tanpa terlebih dahulu melakukan proses penyaringan atasnya.

Memasuki pilpres di tahun ini, media massa pun sepertinya sudah kehilangan independensi yang dianutnya. Banyaknya pemilik korporasi media yang turut serta dalam proses dukung mendukung kandidat membuat pemberitaan media massa yang dimilikinya terkesan tak seimbang. Sebagaimana diketahui, saat ini beberapa pemilik media sudah mengarahkan kecenderungan keberpihakannya kepada salah satu dari dua kandidat calon presiden.

Indonesia Belajar-IB, Muhammad Shofa selaku Pemateri Sedang Mencoba Menjelaskan Argumentasinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Muhammad Shofa selaku Pemateri Sedang Mencoba Menjelaskan Argumentasinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Di barisan pertama, berdiri dengan gagahnya Aburizal Bakri sebagai pemilik ANTV, TV One dan vivanews yang merapat di kubu Prabowo-Hatta. Amunisi capres dengan nomor urut satu ini semakin bertambah dengan bergabungnya Hary Tanoesodibjo, pemilik MNC Group, yang membawahi berbagai media massa baik media cetak, televise dan radio. Sedangkan di seberang barisan, ada Surya Paloh, pemilik Media Indonesia dan Metro TV yang telah sejak awal berdiri dengan jumawa dan menyokong kandidat Jokowi-Kalla.

Indonesia Belajar-IB, Marlaf Sucipto Sedang Membaca Esai dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Marlaf Sucipto Sedang Membaca Esai dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Keberpihakan pemilik media massa ini tentunya membuat media yang dimilikinya tak lagi menyuguhkan berita atau informasi yang seimbang. Lihat saja bagaimana hasil pengamatan Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia yang menyatakan adanya kecenderungan memanfaatkan berita untuk kepentingan kelompoknya saja.[4] Indikasi penunggangan berita demi memenuhi kepentingan kelompoknya itu bisa dilihat dalam pemberitaan tentang Capres dan Cawapres yang ditayangkan sepanjang 19-25 Mei 2014.

Indonesia Belajar-IB, Marlaf Sucipto Sedang Menggerakan Kekuatan Nalar Fikirnya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Marlaf Sucipto Sedang Menggerakan Kekuatan Nalar Fikirnya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Ada dua hal yang menjadi titik perhatian Dewan Pers dan KPI dalam hal ini. Pertama, porsi durasi pemberitaan. Kedua, kuantitas frekuensi pemberitaan yang tak seimbang. Dalam dua hal tersebut, baik porsi durasi pemberitaan ataupun kuantitas frekuensi pemberitaan, Metro TV memberikan porsi pemberitaan yang lebih banyak kepada pasangan Jokowi-Kalla dibanding pada Prabowo-Hatta. Begitupun sebaliknya.

Indonesia Belajar-IB, Ahmad Maskur Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Ahmad Maskur Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Melihat hal itu, maka peran dan fungsi media massa sebagai sarana penyampai informasi kepada public, sepertinya mengalami distorsi dalam penerapannya. Adanya beberapa pemilik media massa yang sudah mengarahkan kecenderungan keberpihakannya semakin menambah runyam persoalan, selain juga adanya kampanye hitam dan black campaign yang bertebaran di berbagai media social. Di sinilah media telah mengalami disfungsi dalam tatanan socialnya. Kejadian ini mengingatkan penulis akan pernyataan Andi Alimuddin Unde yang mengutip Mc Quail dengan suatu penjelasan yang panjang prihal fungsi dan disfungsi media massa. Mc Quail menuturkan bahwa dalam deskripsi tentang fungsi media kebanyakan dalam hal-hal yang bersifat positif, padahal di balik itu terdapat hal-hal bersifat negative yang terkadang sulit untuk dihindari. Inilah yang disebut oleh Mc Quail dengan fungsi tersembunyi dari media.[5]

Jadi jelas, bahwa media dalam realitasnya tak selalu mengungkap realitas apa adanya.[6] Bahkan lebih dari itu, media berupaya menggiring masyarakat penikmat berita menjadi santapan lezat bagi mereka untuk diarahkan sekehendak hatinya. Alur konstruktivistik ini mengibaratkan konsumen media hanya sebagai benda-benda tak bergerak yang bisa diatur sedemikian rupa. Inilah alasan pernyataan Gus Mus yang penulis kutip di atas tadi.

Indonesia Belajar-IB, Davida Ruston Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Davida Ruston Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Selain persoalan tercerabutnya netralitas media massa, tulisan ini juga hendak mengupas sedikit prihal budaya politik media massa di Indonesia yang berbeda dengan budaya politik media massa di Amerika. Fenomena terjun bebasnya media massa dalam aksi dukung mendukung terhadap capres juga terjadi di sana. Bedanya, di Amerika keberpihakan itu diakui oleh media secara terang-terangan sehingga pihak media sudah menakar resiko dan konsekuensi atas pilihannya. Di masa kampanye pilpres inilah sebuah lembaga polling ternama di Amerika, Gallup, memperoleh hasil bahwa kepercayaan public kepada media di masa pilpres relative sangat rendah.[7] Hal ini berbanding terbalik kondisinya dengan di Indonesia bukan? Dari itu, solusi yang harus ditawarkan kepada masyarakat agar mereka tidak mengalami kebingungan, kebimbangan akibat simpang siurnya informasi adalah menggalakkan gerakan melek kampanye media. Tujuannya satu: menghukum media! Wassalam.

Indonesia Belajar-IB, Surya Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Surya Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Ainul Yaqin Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Ainul Yaqin Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Awan Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Awan Sedang Memosisikan Dirinya dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Junaidi Khab Sedang Tersenyum dengan Tema Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Junaidi Khab Sedang Tersenyum dengan Tema Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Sedang Menelaah tentang Kajian Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Sedang Menelaah tentang Kajian Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Para Anggota yang sedang Bersiap Diri dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

Indonesia Belajar-IB, Para Anggota yang sedang Bersiap Diri dalam Kajian tentang Media Massa dan Budaya Politik Indonesia

[1] Tulisan ini disampaikan dalam forum Kelompok Diskusi Indonesia Belajar, 6 Juni 2014

[2] Pengurus LAPMI PB HMI sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Konsentrasi Filsafat Agama UIN Surabaya

[3] Kun Wazis, Media Massa dan Konstruksi Realitas ( Yogjakarta : Aditya Media Publishing, 2012), 123

[4] Republika, Selasa 3 Juni 2014

[5] Andi Alimuddin Unde, Televisi dan Masyarakat Pluralistik (Jakarta ; Prenada, 2014), 40

[6] Kun Wazis, 62

[7] Nasrullah, Perang Media di Pilpres, Republika 22 Mei 2014.

Bisa dibaca lebih lanjut di: Muhammad Shofa Media Massa dan Budaya Politik di Indonesia

2 Responses to Media Massa dan Budaya Politik di Indonesia

  1. shobah says:

    Nemu web ini waktu sekolah epistemologi. Keren keren. Five thumbs for you all, para senior.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: