Buku, Peradaban, dan Budaya Kepenulisan

Riau Pos: Ahad, 25 Mei 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Buku, Peradaban, dan Budaya Kepenulisan oleh Junaidi Khab Riau Pos, 25 Mei 2014 (Junaidi Khab)

Buku, Peradaban, dan Budaya Kepenulisan oleh Junaidi Khab Riau Pos, 25 Mei 2014 (Junaidi Khab)

Istilah menulis bukan hal asing lagi. Budaya menulis sudah berkembang sejak manusia masih belum mengenal teknologi canggih. Berbagai macam cara orang-orang terdahulu menuliskan hasil karya dan ide-ide cemerlangnya. Cuma mayoritas pada masa neolitikum untuk budaya tulis-menulis, manusia mengabadikan pemikirannya tentang kehidupan lebih cenderung pada ukiran di batu yang berbentuk artebak dan relief di tulang dan kayu. Selain itu pula bentuk tulisan kuno hanya berupa lambang-lambang dan simbol-simbol tertentu yang menggambar suatu pemikiran primitif pada masa itu.

Dengan hasil karya tersebut, lambat laun manusia menemukan berbagai perkembangan dalam pola pikirnya. Begitu pula dalam kehidupannya, mereka mampu menemukan hal yang lebih bermakna. Kemudian dengan kekuatan pikirannya yang dituliskan tersebut menjadi warisan pemikiran bagi generasi berikutnya. Sehingga dengan melihat pola pikir nenek moyangnya melalui tulisan-tulisan yang mereka temukan, mereka berpikir ulang hingga mampu mengembangkan apa yang menjadi ide cemerlang nenek moyangnya.

Namun sayang, pada masa modern seperti saat ini budaya yang mampu memancing para generasi umat manusia untuk membaca sudah mulai menurun. Yang mana hal tersebut dilatarbelakangi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Kehidupan para generasi umat manusia mulai dimanja dengan adanya teknologi yang makin hari makin canggih melayani kehidupan. Namun seakan kemajuan tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Yaitu mereka yang memaksimalkan budaya baca dan mendalami berbagai macam keilmuan.

Begitu pula, hal yang menjadi kekhawatiran penulis bahwa kemajuan itu akan hilang jika budaya baca kurang diminati oleh para generasi umat manusia. Selain itu pula, hal yang dikahawatirkan bahwa kelak kemajuan itu hanya maju dan tidak memberikan dampak yang lebih positif bagi kehidupan umat manusia pada masa generasi berikutnya. Lebih-lebih kemajuan itu akan sirna dan akan berubah menjadi budaya kemunduran jika minat baca yang didampingi menuliskan apa saja hal yang bisa memberikan sebuah motivasi, inspirasi, pembekalan, dan senjata ampuh untuk menghadapi kehidupan yang akan mendatang.

Jika saya tanya pada teman-teman sebagai penerus kehidupan yang akan datang tentang budaya membaca dan lebih-lebih kepenulisan mereka tentu menjawab bermacam-macam. Namun jawabannya cukup ironis sekali. Jawabannya tidak jauh berbeda. Mayoritas mereka menjawab; “saya biasa membaca SMS (short message service)”, layanan pesan singkat. Sejauh pandangan penulis, budaya baca-tulis SMS hanya dalam perspektif terhadap hal-hal yang kurang memberikan manfaat, bahkan bisa membahayakan orang lain, yaitu lebih cenderung pacaran hingga mengarah pada perzinaan. Kita lihat saja dengan adanya teknologi tersebut. Berbagai persoalan gaduh dibicarakan dan menjadi bahan polemik publik.

Gairah membaca buku dan keilmuan yang lebih urgen kini mulai ditinggalkan. Para generasi hanya memanfaatkan hal-hal baru yang instan. Sehingga tidak mengherankan jika mayoritas anak-anak remaja sebagai generasi nenek moyang kehilangan daya pikirnya. Mereka dipengaruhi oleh budaya dan kehidupan yang serba instan. Padahal di balik itu akan memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan kehidupan yang akan datang.

Bacalah!

Sebenarnya kalimat (bacalah!) dalam ayat suci al-Qur’an yang pertama kali turun itu merupakan bentuk perintah untuk menulis kepada umat manusia, namun tidak secara langsung. Yang mana tujuan perintah menulis secara tidak langsung tersebut bertujuan agar umat manusai mampu berpikir terhadap kandungan ayat suci al-Qur’an yang membawa doktrin dan sains yang bersifat universal. Tentu menjadi persoalan yang sangat penting untuk menumbuhkan minat kepenulisan oleh para generasi umat manusia. Karena hal tersebut akan menjadi sebuah cerminan kehidupan untuk kemajuan yang mengarah pada hal-hal yang lebih positif di masa mendatang.

Terkadang sebagian dan dan bahkan mayoritas masyarakat mengatakan bahwa mereka tidak bisa untuk menulis. Tidak mempunyai gagasan yang cemerlang. Meskipun menulis, mereka stagnan pada pertengahan hingga tulisannya terputus menjadi tidak karuan lagi. Sesaat mereka meminta untuk diajari. Namun tidak ada usaha yang realistis dari permintaannya tersebut. Hingga budaya menulis seakan merupakan aktivitas yang sangat sulit untuk dilakukan, padahal tidak jika kita mau. Persoalan tersebut perlu kita cermati penyebab utamanya dari sisi mana sebenarnya mereka tidak mampu untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan.

Mereka ketika diajak berdialog juga sering vakum. Meskipun hidup suatu dialog ilmiah mereka tidak mampu merasionalkan idenya, hingga kekuatan gagasan cemerlangnya hilang begitu saja. Dan bahkan mereka mengulas ide-idenya dengan cara yang lemah tanpa ada rujukan yang dibenarkan secara ilmiah. Itu juga merupakan bagian dari persoalan ketidakbisaan untuk menulis. Problem ini faktornya sama. Yaitu mereka masih kurang membudayakan membaca buku dan beberapa literatur keilmuan yang mampu memberikan pencerahan bagi pola pikirnya untuk mengembangkan gagasannya yang cemerlang. Hingga dengan kekurangan bahan bacaan itu mereka tidak mampu untuk menulis dan berdialog secara ilmiah, tepat, benar, dan mudah dipahami.

Maka persoalan yang telah kita lihat dari fenomena kehidupan umat manusia, sangatlah tragis keberadaan hidup ini dalam rangka untuk membangun peradaban bagi generasi berikutnya. Dengan demikian, untuk menumbuhkan budaya menulis harus memulai terlebih dahulu untuk rakus membaca berbagai macam buku dan berbagai bahan bacaan ilmiah lainnya. Karena secara tidak langsung hal tersebut akan memberikan dorongan untuk mampu menuangkan gagasan dan ide cemerlang melalui tulisan yang kreatif dan kritis terhadap berbagai persoalan. Selain itu pula, budaya menulis yang berangkat dari budaya membaca akan menghidupkan dan menggairahkan kembali budaya dialog yang akurat dan transparan. Sehingga terbangun komunikasi yang aspiratif dalam kehidupan sekarang dan untuk generasi yang akan datang.

* Penulis adalah Pecinta Baca Buku dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

URL                            : junaidikhab.wordpress.com

Facebook/Twitter        : Junaidi Khab (john_khab@yahoo.com)

Bisa dinikmati dalam bentuk link di: http://www.riaupos.co/1991-spesial-buku,-peradaban,-dan-budaya-kepenulisan.html

Juga bisa dibaca dalam bentuk PDF di: Riau Pos Ahad 25 Mei 2014 Buku, Peradaban, dan Budaya Kepenulisan oleh Junaidi Khab. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

2 Responses to Buku, Peradaban, dan Budaya Kepenulisan

  1. Ikut membaca 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: