Tin Tin

Bangka Pos: Minggu, 11 Mei 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Bangka Pos 18 Mei 2014 Tin Tin oleh Junaidi Khab

Bangka Pos 18 Mei 2014 Tin Tin oleh Junaidi Khab

Anak-anak itu bermain dengan riang penuh bunga-bunga di tengah lapangan pabrik. Suasana sepi menyelimuti tiap sudut halaman pabrik itu. Sudah sepuluh tahun pabrik tembakau swasta itu tak digunakan oleh pemiliknya. Anak-anak kecil dan remaja tiap sore dengan berbagai macam mainan kesukaannya selalu berlabuh di sana. Rumput-rumput hijau yang selalu meranggas menjadi kasur di atas ranjang kebahagiaan.

Tin Tin dengan barang mainannya selalu berlabuh di tengah rerumputan hijau yang penuh impian-impian masa depannya. Tubuhnya yang mungil, memudahkan dirinya duduk di tempat manapun. Ia suka menyendiri, berteman dengan angan-angan mainannya yang seakan bergerak dan bercerita tentang kehidupan. Kehidupan yang terus menghantui tiap melihat bayangan aneh di tikungan jalan sebelah selatan pabrik.

Suasana hengang di jalan yang penuh semilir angin, sering menjadikan bulu kuduknya berdiri. Katanya, jalan itu penuh mahluk lelembut yang sering mengganggu orang yang melewatinya. Tin Tin sudah beberapa kali dilarang bermain ke halaman pabrik oleh ibunya. Tapi ia menganggap larangan ibunya hanya kaleng jatuh yang berbunyi keras karena tak berisi.

Mainan-mainannya yang mengajari ia berani, seberani lelembut pada usianya yang terlalu dini. Jika teman-temannya yang lain bermain dan berangkat bersama, ia telat dan berangkat sendirian. Pernah suatu ketika ia pingsan di tengah tikungan. Saat sadar ia menyebut ada perempuan cantik, setelah didekati ternyata berwajah keriput dengan mata kehitaman, dan gemetaran ingin merangkulnya. Tin Tin pun tak sadarkan diri dengan kegamangan yang dialaminya.

“Ibu kan sudah bilang Tin, kamu gak boleh main ke pabrik tua itu”.

Ibunya menasihati kesekian kalinya. Namun Tin Tin hanya diam termangu. Seakan dirinya masih diliputi oleh bayang-bayang indah tapi menyeramkan yang dilihat di jalan tikungan. Matanya menerawang ke awang-awang. Sesekali melirik pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Keringat dingin bercucuran dari kening dan sekujur tubuhnya. Kipas-kipas mulai berputar dan berkeliling di kanan-kirinya. Tak lama kipas berputar, badannya tiba-tiba mengering, seakan dia dehidrasi berat. Ibunya pun tergopoh-gopoh mematikan kipas-kipas. Tiap hari Tin Tin mengalami hal demikian.

***

Tujuh hari sudah berjalan, Tin Tin tergeletak di atas ranjangnya. Dia tak sakit. Kondisi tubuhnya normal. Tak ada ciri-ciri penyakit lain. Cuma mulutnya tak bersuara sama sekali. Ibunya kebingungan dengan kondisi Tin Tin yang tak jelas itu. Hari itu pula, matanya menghitam. Hanya beberapa jam, gurat-gurat hitam yang menyerupai hantu itu menghilang di lingkaran matanya.

“Nak, kamu kenapa? Bilang sama ibu, ceritakan semuanya”.

Yaun meneteskan air mata sembari membelai-belai anaknya yang diam seribu bahasa. Tak ada suara atau jawaban yang keluar dari bibir Tin Tin yang mulai pecah-pecahan berwarna putih. Tetesan madu rutin dioleskan oleh ibunya ke bibir mungil itu setiap saat. Namun tak membawakan hasil. Bibir pucat dengan lirikan mata penuh tanda tanya menjadikan ibunya khawatir dan cemas.

“Bu, Tin Tin takut. Aku tak bicara karena terus diajak main di tikungan jalan itu oleh ibu-ibu, orangnya tampak tua dan menyeramkan dari dekat, cantik dari jauh”.

Tin Tin mulai membuka mulut. Dengan meringis di sebelah kepala Tin Tin, Yaun sumringah dengan tetesan air mata sambil membelai rambutnya yang kusut. Tin Tin minta dibangunkan. Semangat hidupnya seperti bangkit lagi dari tidurnya yang melelahkan.

***

Hari kedelapan dari keterbaringannya, Tin Tin minta diantar ke tikungan jalan. Namun ibunya tak mengabulkannya. Ia merasa aneh dengan permintaan anaknya. Dengan merintih-rintih, Tin Tin memukul-mukul lengan ibunya yang bersandar di sebelahnya. Namun, Yaun tetap tak mengizinkan anak semata wayangnya itu pergi ke tempat angker dan berbahaya itu. Tin Tin pun tak berdaya, ia tertidur.

Kala senja hampir tiba, ia terbangun. Ibunya kedengarannya sibuk memasak di dapur. Tin Tin dengan tenaga penuh, turun dari ranjangnya. Ia berjalan tertatih menuju tikungan jalan yang berjarak lima ratus meter dari rumahnya. Saat tiba di ujung tikungan, ia terjatuh dan bersimpuh. Ia pun berjalan dengan beringsut.

Yaun yang mengetahui Tin Tin keluar rumah menuju jalan tikungan itu, langsung berlari menuju anaknya. Tapi sayang, dengan beringsut Tin Tin berjalan di tengah jalan tikungan berubah menjadi bayangan semu. Tubuhnya bak awan, memutih, lalu bening, kemudian hengkang dari tatapan ibunya.

Jalan tikungan yang sepi senyap itu berubah gaduh oleh ratapan dan rintihan Yaun yang meraung-raung. Ia menangis sejadi-jadinya. Tin Tin hilang begitu saja. Yaun berlari ke sana ke mari berteriak meminta pertolongan. Orang-orang berdatangan dengan nafas tersengal-sengal.

“Ada apa mbak? Ada apa, ada apa?”. Anisa, tetangga dekatnya berusaha menenangkan perasaan Yaun.

“Anakku, Tin Tin hilang di jalan tikungan ini”.

Yaun berusaha menjelaskan apa yang dialaminya. Tapi Anisa dan para warga hanya geleng-geleng kepala. Mereka mengernyitkan dahinya. Heran menyelimuti perasaannya. Seingat Anisa, Tin Tin sudah lama meninggal setelah dipukuli oleh teman-temannya yang lebih tua saat bermain di halaman pabrik tua. Mendengar penjelasan Yaun yang sedikit aneh, warga beringsut berpencar pulang. Anisa dengan sabar dan penuh perhatian berusaha menyadarkan dan menenangkan hati Yaun yang seakan masih diliputi rasa rindu dan tak terima atas kematian anaknya.

Bjn-Sby, 28 Jan-21 Apr 2014

* Cerpenis Tinggal di Surabaya dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: