Menjadi Suami yang Baik dan Shaleh

Wasathon: Selasa, 6 Mei 2014

Cover Menjadi Suami yang Melengkapi Kekurangan Istri (Junaidi Khab)

Cover Menjadi Suami yang Melengkapi Kekurangan Istri (Junaidi Khab)

Judul               : Menjadi Suami yang Melengkapi Kekurangan Istri

Penulis             : Rizem Aizid

Penerbit           :DIVA Press

Cetakan           : I, Maret 2014

Tebal               : 206Halaman

ISBN               : 978-602-255-499-8

Peresensi         : Junaidi Khab*

Seorang suami (laki-laki) bukan sembarang melakukan atau bertindak sesuka hatinya terhadap perempuan (istrinya). Sebagai seorang suami, laki-laki bukan dengan kekuatan dan otoritasnya sebagaimana ajaran agama bahwa suami adalah panutan istri. Tidak selamanya suami menjadi panutan (imam) oleh istri-istrinya. Ada batas-batas tertentu yang harus diperhatikan antara suami yang harus dipatuhi dan suami yang tak harus dipatuhi.

Namun, dalam anggapan masyarakat secara umum, suami itu memiliki peran dan otoritas paling dominan dalam kehidupan rumah tangga. Tapi, tak selamanya otoritas yang dimilikinya itu baik dan menjamin keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga yang dibinanya. Sudah banyak kasus gugatan cerai yang dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya. Di sini, suami jauh dari nilai-nilai mulia sehingga seorang istri merasa dirugikan dan tak bahagia hidup dengannya. Suami yang seperti itu sudah bisa dipastikan bukan suami yang baik dan shaleh. Bagaimana cara menjadi suami yang baik dan shaleh?

Kehadiran buku karya Rizem Aizid yang berjudul “Menjadi Suami yang Melengkapi Kekurangan Istri” ini akan mengulas tatacara dan tolok ukur menjadi suami yang baik dan shaleh bisa dijadikan pijakan oleh para suami. Ada banyak hal yang perlu dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya dalam membina kehidupan rumah tangga agar tercipta keluarga yang rukun, harmonis, dan penuh dengan kebahagiaan. Salah satunya yaitu, komitmen untuk menyempurnakan kekuranang istri, berusaha melakukan yang terbaik dan bertindak dengan nilai-nilai kesalehan.

Sebagai penyempurna kekurangan perempuan (istri), tugas dan tanggung jawab suami terhadap istri yaitu menjaga, mengayomi, dan melindunginya dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, bagi para suami agar bisa menjadi laki-laki yang dapat menyempurnakan kekurangan perempuan, caranya adalah menjadi pelindung dan pengayom perempuan yang baik (hlm. 39).

Salah satu alasan suami harus melindungi seorang istri yaitu, karena perempuan dengan kodrat yang dimilikinya sebagai mahluk yang lemah. Sehingga sifat lemah yang ada pada seorang perempuan itu bisa disempurnakan oleh kekuatan seorang laki-laki dengan kekuatan perlindungannya. Kita harus sadar, secara kasat mata perempuan tak memiliki nilai tawar mulia dibanding laki-laki. Tapi, secara tidak langsung pemiliki nilai mulia itu adalah perempuan. Dia memiliki pelindung (body guard) yaitu laki-laki yang menjadi suaminya.

Bermusyawarah

Melakukan musyawarah merupakan proses pemecahan masalah dengan melakukan tukar ide dan pikiran guna menemukan solusi yang terbaik. Dalam kehidupan rumah tangga, suami sebagai kepala keluarga harus mampu mnjalin komunikasi yang baik dengan istri dan keluarganya agar setiap terjadi persoalan bisa melakukan musyawarah.

Seperti kita ketahui, sebuah rumah tangga akan harmonis dan sejahtera apabila dilandasi dengan komunikasi yang baik antara suami dan istri serta pihak keluarga lainnya. Dalam berbagai hal, komunikasi sangat penting, termasuk dalam rumah tangga. Tidak ada seorang pun yang menolak arti penting komunikasi yang baik dan terbuka dalam sebuah keluarga. Masalah kecil akan lebih jarang berkembang menjadi masalah besar, jika ada banyak komunikasi (hlm. 181-182).

Seorang suami meski memiliki otoritas dalam keluarga dan pemimpin bagi istrinya, bukan serta merta bertindak sewenang-wenang dan sekehendaknya sendiri dalam menyelesaikan suatu persoalan. Tapi, berkomunikasi dengan melakukan musyawarah untuk menampung ide dan saran terbaik agar menemukan mufakat yang lebih adil dan tak ada yang merasa dirugikan. Misalkan suami tidak boleh memukul istri karena berbeda pendapat atau istri melakukan suatu kesalahan, tapi dengan bermusyawarah persoalan tersebut bisa diatasi dan diselesaikan.

Dengan bahasa yang lugas dan ringan dibaca, Rizem Aizid berhasil meracik kata-kata menjadi tatacara dan tugas seorang suami kepada istrinya. Sehingga pembaca akan lebih mudah untuk memahami dan menemukan eksistensi dari kewajiban seorang suami sebagai pelengkap kekurangan istri. Dengan sendirinya, sebagai seorang laki-laki, suami akan menyadari tanggun jawab dan tugasnya dalam mengemudikan bahterah kehidupan rumah tangganya.

Buku ini merupakan panduan bagi para laki-laki yang ingin menjadi suami yang menyempurnakan kekurangan istri, serta jalan menjadi suami yang baik dan shaleh dengan tuntunan agar perilakunya terpuji dan mulia. Di dalamnya akan dijelaskan bahwa seorang suami bukan penguasa perempuan, tapi untuk mendapat kesempurnaan dari kekurangannya dan penyempurna bagi kekurangan istrinya. Lebih rinci lagi, buku ini menjelaskan peran seorang suami bagi istrinya dalam membinan kehidupan berumah tangga untuk menggapai bahterah keluarga yang harmonis dan penuh kebahagiaan. Dengan peran-peran demikian, laki-laki bisa menjadi suami yang baik dan shaleh.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku dan Tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

http://wasathon.com/resensi-/view/2014/05/06/-resensi-buku-menjadi-suami-yang-baik-dan-shaleh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: