Menjadi Pemimpin yang Sederhana

Koran Madura: Jumat, 11 April 2014

Cover Demi Rakyat! Para Kepala Negara yang Sederhana, tapi sangat Mencintai Rakyatnya (Junaidi Khab)

Cover Demi Rakyat! Para Kepala Negara yang Sederhana, tapi sangat Mencintai Rakyatnya (Junaidi Khab)

Judul               : Demi Rakyat! Para Kepala Negara yang Sederhana, tapi Sangat Mencintai Rakyatnya

Penulis             : Nur Rokhim

Penerbit           :Palapa (DIVA Press)

Cetakan           : I, Februari 2014

Tebal               : 178Halaman

ISBN               : 978-602-279-100-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kita akan sangat sulit dan dilematis jika dihadapkan pada pilihan kesederhanaan hidup. Nurani kita memang mau menjadi pribadi yang sederhana. Namun, nurani yang ada dalam diri ini tidak hanya sendirian. Masih ada nafsu yang menjadi saingan nurani yang sama-sama memiliki hasrat berkuasa. Kenyataannya, nurani yang berkeinginan menjadi pribadi sederhana kandas. Nafsu kita lebih dominan menghadapi perubahan zaman yang makin hari makin berkembang dan maju.

Apalagi jika kita menjadi seorang pemimpin, tentu nafsu akan semakin gila yang sejadi-jadinya melihat gemerlapan dunia yang ada di bawah kekuasaan kita. Sehingga kita mudah terjebak dalam rayuan hawa nafsu yang terus ingin mewah meski melakukan hal-hal di luar batas. Akhirnya melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Buktinya banyak para birokrat, dan pemimpin negeri ini yang tidak menepati janjinya dan menelantarkan nasib rakyatnya, hanya demi mementingkan dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Jika sudah demikian, kehancuran suatu bangsa atau negara akan segera datang menjemput. Sulit rasanya menasihati dan menydarakan para pemimpin (yang berkuasa) agar lebih hidup sederhana dan lebih mendahulukan terhadap keadaan dan kepentingan rakyat yang ada di bawah kepemimpinannya.

Namun, sebagai cambuk sekaligus bahan pelajaran bagi kita semua, khusunya para pemimpin negeri agar lebih hidup sederhana dan lebih mendahulukan pada keadaan dan kepentingan masyarakat yang dipimpin, buku ini hadir di tengah-tengah kita dengan berbagai inspirasi, motivasi, dan keteladanan para pemimpin terdahulu yang hidup sederhana dan mendahulukan kepentingan rakyatnya dibanding kepentingan dirinya sendiri. Umpanya kita belajar dari kepemimpinan nabi Muhammad Saw. yang sangat sederhana dan lebih mendahulukan kepentingan kaum (rakyat)-nya (hlm.11).

Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi sekaligus utusan Allah Swt. yang paling akhir menjadi teladan bagi umat seluruh alam, baik dari sisi moral, kehidupan, dan kepemimpinannya pada saat itu. Memang tidak mudah untuk meneladaninya, tapi itu harus menjadi sebuah kewajiban bagi kita jika ingin hidup ini bisa lebih baik dan maju. Memimpin bukan berarti menguasai, tapi memimpin tak lain menjadi tonggak inspirasi untuk melakukan terobosan baru demi kemajuan dan kepentingan rakyat, bukan kepentingan diri sendiri.

Demi Rakyat!

Bagi kalangan kita semua memang sangat mudah mengatakan bahwa apa yang kita lakukan demi rakyat, namun aplikasinya kadang tak memberikan apa-apa bagi rakyat. Tetapi, kita hanya pandai mengelabuhi dan mengkibuli mereka dari belakang. Kenyataannya, kekayaan rakyat sendiri yang diambil melalui kursi kepemimpinan yang sedang diduduki. Korupsi di berbagai bidang telah menjadi kebiasaan turun temurun yang diwariskan oleh para pemimpin kita bagi anak negeri ini. Suap-menyuap menjadi tren saat ini demi kelancaran dalam memenangkan suatu proyek atau pemilihan. Padahal kita memimpin didahului kata “demi rakyat!”, kenyataannya demi diri sendiri.

Jika kita memimpin demi kepentingan rakyat, maka kita jadi pemimpin tidak harus melakukan suap-menyuap demi memenangkan pemilu. Rakyat akan memilih dengan suka hati dan penuh kesadaran, serta setidaknya kelak kemimpinan kita akan selalu dirindukan. Semestinya memimpin itu demi rakyat, bukan demi diri sendiri.

Misalkan Abraham Lincoln yang menjadi pemimpin Amerika ke-16 demi menghapus perbudakan. Nelson Rolihlahla Mandela (Nelson Mandela) yang memimpin Afrika Selatan dan berhasil menghapus sistem rasisme kulit hitam dan kulit putih. Di Indonesia juga ada Soekarno (Bung Karno) sebagai presiden pertama, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) presiden keempat yang memimpin Indonesia demi kepentingan rakyat dan berhasil menyatukan masyarakat Indonesia yang pluralitas menjadi bangsa yang satu dan saling menghargai satu sama lain (hlm. 73).

Meskipun buku ini menyajikan beberapa tokoh pemimpin yang memimpin demi kepentingan rakyat sebagai inspirasi bagi kita dan pemimpin di negeri ini, penulisan biodata di dalamnya masih kurang sempurna dan merata. Hanya sekilas-sekilas saja pemaparan yang disampaikan tentang tokoh pemimpin yang memperjuangkan nasib rakyatnya. Akan, tetapi hal tersebut bukan suatu kekurangan yang membunuh nilai inspirasi dan motivasi dari buku ini. Nilai-nilai inspirasi akan tetap terasa jika secara didalami dan dihayati secara mendalam untuk ditiru.

Buku molek ini akan menyajikan beberapa tokoh pemimpin terkemuka yang menginspirasi dunia karena kepemimpinannya murni dan tulus demi kepentingan rakyat. Di dalam dibahas sekitar dua puluh enam (26) tokoh pemimpin dunia yang memiliki peran membangun dan mengayomi rakyatnya. Mulai dari kepemimpinan nabi Muhammad Saw. hingga kepemimpinan modern pada saat ini. Dengan bahasa yang lugasm simpel, dan mudah dimengerti pembaca akan diajak ke dunia kesederhanaan menjadi seorang pemimpin yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan rakyatnya!

* Peresensi adalah Pengurus Devisioner Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya, Tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: