Meniru Gaya Belajar Albert Einstein

Koran Madura: Jumat, 9 Mei 2014

Cover Rahasia Cara Belajar Einstein (Junaidi Khab)

Cover Rahasia Cara Belajar Einstein (Junaidi Khab)

Judul               : Rahasia Cara Belajar Einstein

Penulis             : Andi Setiadi

Penerbit           :DIVA Press

Cetakan           : I, Maret 2014

Tebal               : 218Halaman

ISBN               : 978-602-255-494-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kecerdasan dan kepintaran Albert Einstein menjadikan namanya naik daun semenjak penemunnya tentang rumus membelah atom. Dari penemuan itulah, Einstein menjadi ilmuwan terkenal sepanjang sejarah dunia. Berkat kecerdasan dan ketekunannya itu pula, namanya mudah diingat oleh masyarakat dunia. Dia bukan manusia yang dilahirkan dalam keadaan cerdas dan pintar. Namun, dia selalu tekun dan rajin belajar serta berpikir mengenai hal-hal yang terjadi di dunia ini. Sehingga, pikirannya cerdas dan penuh ilmu pengetahuan.

Albert Einstein lahir pada 14 Maret 1879 dan meninggal pada 18 April 1955. Siapa yang tidak mengenal nama ini? Nama Einstein seolah identik dengan kata “genius”. Ia dianggap ilmuwan terbesar sepanjang masa. Ketenerannya mungkin setara dengan rumus paling terkenal di dunia, E = mc2. Rumus tersebut, menurut pemeo yang berkembang, telah berhasil menghentikan Perang Dunia II. Sebab, berdasarkan rumus tersebut, Amerika Serikat berhasil membuat bom atom serta menjatuhkannya di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945, sehingga berakhrilah Perang Dunia II yang amat mengerikan itu (hlm. 5).

Mungkin semua orang ingin tahu rahasia cara belajar Einstein yang menjadikannya cerdas dan sebagai ilmuwan terkenal. Kehadiran buku yang berjudul “Rahasia Cara Belajar Einstein” karya Andi Setiawan ini, akan menyingkap cara-cara belajar yang dilakukan oleh Einstein, hingga menjadikan dirinya sosok yang jenius. Bukan tanpa usaha yang gigih Einstein cerdas dan menghasilkan rumus memecahkan atom. Berbagai cara dilakukan, mulai dari belajar, berpikir, dan melakukan tindakan nyata untuk membuktikan apa yang dipelajarinya.

Einstein lebih banyak berkarya daripada berbicara. Ketika di simposium, Einstein tidak terlalu berbusa-busa berbicara. Ia berbicara sering kali sedikit, tetapi penuh dengan hikmah. Biasanya orang-orang yang jarang berbicara, ketika berbicara kata-katanya langsung mengena, menusuk, dan dapat memengaruhi psikologi orang lain. Orang yang tidak banyak bicara biasanya lebih banyak berkarya. Sedangkan orang yang banyak bicara biasanya kebalikan dari hal tersebut: kata-katanya dangkal dan jarang berkarya. Meskipun jarang berbicara, tetapi sampai akhir hayatnya, Einstein telah menerbitkan lebih dari tiga ratus kertas kerja yang dimuat di jurnal-jurnal dunia dan simposium internasional (hlm. 30).

Perlu kita ketahui bahwa Einstein merupakan sosok yang lebih suka belajar, berpikir, dan berkarya tanpa banyak berbicara yang hasilnya nanti hanya menjadikan mulut berbusa tanpa dapat apa-apa. Dengan cara bebas belajar, Einstein menemukan caranya tersendiri dalam mengembangkan daya pikir dan kreativitasnya. Bagi Einstein, belajar sama dengan bermain. Jadi baginya, belajar sangat mengenakkan dan mengasyikkan dengan menganggap sebagai permainan sehari-harinya.

Dalam hal belajar-mengajar, Einstein tidak menyukai metode mengajar yang menggunakan cara menakut-nakuti, memaksa, dan otoritas yang dibuat-buat. Hal tersebut kata Einstein hanya akan membentuk manusia subversif yang suka memberontak dan manusia yang tunduk secara buta. Mereka tunduk dengan aturan yang dibuat, sehingga kebebasannya dalam berpikir terkubur oleh sikap tunduknya yang tampak pasrah pada keadaan (hlm. 152).

Menurut Einstein, seorang guru selayaknya memberikan penghargaan yang luar biasa bagi murid-muridnya. Artinya, murid diberikan kebebasan untuk berpikir, berpendapat, dan bertindak sesuai keinginan mereka sendiri. Selama mereka tidak keluar dari koridor, biarkan mereka memiliki kecenderungan tersendiri. Hargailah mereka dengan mengajak berdiskusi, sehingga cakrawala pemikirannya menjadi terbuka. Mendidik dengan cara berdiskusi bersama murid, adalah inti “recognition” (perhargaan) dalam pendangan Einstein. Tidak perlu memaksakan diri pada murid, sebab cara seperti itu akan membuat siswa tidak merasa bebas, tidak kritis, takut mengajukan argumentasi, dan cakrawala berpikirnya menjadi sempit.

Andi Setiadi melalui buku molek ini akan membeberkan dengan jelas rahasia cara belajar Einstein, sehingga menjadikannya sebagai manusia jenius dengan karya dan penemuan yang gemilang. Ulasan dalam buku ini renyah dibaca dan mudah dipahami. Mulai dari ulasan tentang biografi singkat Albert Einstein, sembilan (9) gaya belajar Einstein, cara belajar auotodidak, tiga fondasi utamanya seperti; rasa ingin tahu, takun, dan menerima kesalahan, serta ketekunannya sebagai sosok intelektual dalam menemukan kebenaran.

Buku ini pula yang akan menguak rahasia belajar Enstein tersebut. Disajikan dengan bahasa yang lugas, buku ini akan menyingkap fakta-fakta kejeniusan Einstein. Mulai dari porses dan kunci belajar, situasi dan kondisi pendukung pembelajaran, cara orang-orang terdekat Einstein mendidiknya, hingga bagaimana Enstein mengajar.

* Peresensi adalah Pecinta Buku dan Tercatat Sebagai Pengurus Devisioner Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya.

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: