Menghidupkan Kembali (Semangat) Kartini

Okezone: Jumat, 9 Mei 2014

Cover Gelap-Terang Hidup Kartini (Junaidi Khab)

Cover Gelap-Terang Hidup Kartini (Junaidi Khab)

Judul               : Gelap-Terang Hidup Kartini

Penyunting      : Leila S. Chudori

Penerbit           :KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan           : I, 2013

Tebal               : xi + 148 hlm.; 16 x 23 cm

ISBN               : 978-979-91-0591-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

“Feminis dari Balik Tembok – Kartini adalah kontradiksi: ia cerdas sekaligus lemah hati. Ia menyerap ide masyarakat barat tapi tak takluk pada adat. Ia feminis yang dicurigai. Ia dianggap terkooptasi oleh ide-ide kolonial. Tapi satu yang tak bisa dilupakan: ia inspirasi bagi gerakan nasionalisme di Tanah Air” – Seri Buku Tempo Perempuan-Perempuan Perkasa.

Bulu roma mulai berdiri tatkala menapaki perjuangan seorang gadis dengan kelihaiannya dalam buaian adat dan tradisi. Pikiran seakan berada pada masa tempo dulu dimana gadis itu benar-benar masih hidup dengan pikiran-pikiran jenius dan berontaknya. Sosok kartini tak mudah ditemukan di era masa sekarang – yaitu era modern – yang mampu membawa kehidupan kaum perempuan lebih maju dan bermartabat. Kartini berada dalam ranah yang kolot dan konservatif, namun pikiran-pikirannya sudah berada pada abad abad modern saat ini.

Ia tak lain perempuan tangguh dengan pikiran-pikirannya yang jitu dan penuh dengan perasaan yang menyatu. Gambaran tentangnya, tak lain gambaran tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Pada masanya, perempuan hanya sebagai penunggu kaki para lelaki di siang hari dan penyamun di kala malam sudah tiba. Sungguh tak ada harganya perempuan di kala itu. Melihat keadaan demikian, Kartini dengan dua saudarinya mulai terenyuh, dirinya tak ingin menjadi santapan adat dan kaum lelaki begitu saja. Sepak terjangnya mampu melampaui waktu dan zaman hingga saat ini dimana meski jiwa dan raganya telah sirna.

Kehadiran buku Gelap-Terang Hidup Kartini ini merupakan sebuah upaya menghidupkan kembali seorang figur Kartini melalui surat-suratnya yang melayang-layang di udara hingga hinggap di Belanda dan menyeruak ke segala penjuru bumi Hindia Belanda. Kartini meski keturunan darah biru – ningrat kenamaan – pada masanya, namun dengan pikirannya yang sudah menanjak kemodernan, ia tak mau dirinya disebut dengan darah biru.

Ia hanya ingin menjadi seorang Kartini yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan perempuan-perempuan serta masyarakat lainnya. Ia tak mau dirinya dipanggil dengan nama keagungannya – Raden Ajeng – sebagaimana orang ningrat pada masanya. Dalam suratnya yang tertanggal 25 Mei 1899 kepada korespondennya di Belanda – Estelle “Stella” Zeehandlaar – menulis tentang belenggu adat, pingit, azab sengsara pernikahan, silsilah, dan bahaya candu. Sebelum menutup suratnya ia mengenalkan diri: “Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku” (Hal. 8).

Upaya buku ini dalam menghadirkan Kartini melalui kekuatan surat-suratnya merupakan suatu bentuk penyadaran bahwa manusia itu memiliki martabat yang sama. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, kata pepatah kuno yang tersimpan dalam percikan surat-surat keluh-kesah seorang Kartini kepada korespondennya di Belanda. Melalui surat yang tertanggal 25 Mei 1899 tersebut, Kartini ingin menyetarakan antara yang ningrat dan non-ningrat alias rakyat jelata. Semua sama dan harus mendapat perlakuan yang sama pula.

Kartini menjelma dalam tiap bait buku-buku yang telah terbit dari surat-suratnya sebagai perempuan yang galau dengan kemelut hidup yang dihadapinya. Namun ia bagai lilin dengan cahanya yang mengkilap, sehingga mampu menyinari ruang di sekitarnya. Namun jiwanya rapuh, jiwanya melebur dalam terang-benderang cahaya yang ia pancarkan.

Kartini menolak poligami. Dalam urusan pernikahan, ia begitu geram terhadap aturan yang berlaku saat itu. Perempuan tak memiliki hak bicara dan bisa dikawinkan oleh orang tuanya begitu saja. Repotnya, si pria besar kemungkinan sudah beristri. Menjelang peralihan abad ke-20, poligami merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh kaum bangsawan (Hal. 12).

Selain Kartini memperjuangkan hak dan kewajiban perempuan dalam tatanan adat pernikahan tersebut, ia juga memulai perjuangannya dengan pendidikan. Dia yakin pemberian pendidikan yang lebih merata merupakan kunci kemajuan yaitu dengan mendirikan sekolah. Sekolah rintisan Kartini itu dibuka empat hari dalam seminggu, dari pukul 08:00 hingga 12:30. Bila menilik usia murid-muridnya, sekolah itu setaraf dengan sekolah dasar. Murid-murid diberi pelajaran membaca, menulis, menggambar, memasak, merenda, menjahit, dan kerajinan tangan lainnya. Kepada mereka juga diajari budi pekerti. Kartini menggunakan bahasa Jawa halus untuk mengakrabkan diri dengan murid-muridnya. Dia bangga, sebagaimana ditulis dalam suratnya tertanggal 4 Juli 1903 kepada Abendanon (Hal. 54).

Kumpulan artikel dalam buku yang berjudul Gelap-Terang Hidup Kartini – Seri Buku Tempo Perempuan-Perempuan Perkasa – ini merupakan upaya menghidupkan kembali Kartini-Kartini dalam memperjuangkan hak-hak dan kewajiban kaum perempuan di era digitalisasi saat ini. Sehingga pembaca dengan pikiran logis akan memberikan ruang lingkup bagi gerak-gerik perempuan. Pengekangan dan segala upaya dalam pelamahan perempuan harus segera diakhiri.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku dan Tercatat Sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

http://suar.okezone.com/read/2014/05/09/285/982458/menghidupkan-kembali-semangat-kartini

 

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

URL                            : junaidikhab.wordpress.com

Facebook/Twitter        : Junaidi Khab (john_khab@yahoo.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: