Memulai dari Diri Sendiri

Era Madina: Senin, 12 Mei 2014

Cover Sudut Kampus Biru Kumpulan Cerita Sehari-hari (Junaidi Khab)

Cover Sudut Kampus Biru Kumpulan Cerita Sehari-hari (Junaidi Khab)

Judul               : Sudut Kampus Biru Kumpulan Cerita Sehari-hari

Penyunting      : Arief Budiman

Penerbit           :Pustaka Pelajar

Cetakan           : I, April 2014

Tebal               : 167halaman

ISBN               : 978-602-229-297-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Semua orang memiliki potensi yang sama dalam diri mereka masing-masing. Mereka menyimpan beribu cikal-bakal kekuatan. Mereka berpotensi menjadi orang jahat, pendengki, kikir, maling, kaya, miskin, baik, cerdas, bodoh, gagal atau sukses. Jika cikal-bakal itu digunakan pada hal-hal yang baik dan positif, maka itu akan membawanya pada sesuatu yang baik dan positif pula. Begitu pula sebaliknya. Namun, kadang kita tak menyadari potensi tersebut. Sehingga kita sering melupakan dan mengabaikannya.

Untuk menggali potensi yang ada dalam diri kita masing-masing agar tidak digunakan pada jalan yang sia-sia, itu membutuhkan suatu kesadaran dan perenungan diri. Menyadari hal yang tak tampak jelas ini sangat sulit, membutuhkan inspirasi dari berbagai hal. Dari inspirasi itu, olah rasa dan jiwa akan dimulai untuk menemukan potensi besar dalam jiwa kita masing-masing. Hakikatnya, kesadaran itu yang akan membawa kita pada nilai-nilai kebaikan dan puncak potensi positif dalam kehidupan sehari-hari.

Kehadiran buku Sudut Kampus Biru Cerita Sehari-hari ini akan mengajak kita berpetualang untuk menyusuri dan menggali potensi positif yang terdapat dalam diri kita masing-masing. Secara sederhana, buku ini akan memaparkan berbagai macam pengalaman sehari-hari penulis yang dianggap sepele, namun memiliki dampak dan pengaruh kuat bagi kehidupan. Dari yang sederhana dan sepele itu, kita harus mencoba untuk menyadari dan menemukan kandungan hikmah di baliknya.

Misalkan pengalaman Eka Firmansyah yang melihat patung singa jantan menggenggam bola dunia, sedangkan singa betina memeluk seekor anak singa. Sungguh itu adalah cara yang unik dan menyentuh hati untuk mengajarkan peran dan etika. Yang mana perempuan akan kuat dengan fitrahnya menjalankan tugas sebagai seorang wanita. Sementara laki-laki juga begitu. Sedangkan jika diibaratkan dengan patung dua singa tersebut, seandainya mereka jijik dengan perannya masing-masing akan membuat kelompok singa, suatu saat nanti, akan menjadi kelompok kambing, bukan lagi kelas khalifah, tapi kelas budak (hlm. 5).

Kiranya cukup memukau perasaan kita yang selalu menuntut keseteraan jender di kalangan umat manusia. Perempuan ingin memiliki peran sebagaimana kaum laki-laki. Sementara jiwa keibuan berganti roh-roh pemberani, dunia ini yang akan hancur. Atau sebaliknya, jiwa kelaki-lakian berubah roh-roh feminin, maka perbudakan perempuan akan merajalela di muka bumi ini. Maka dari itu, peran perempuan dengan sifatnya yang lemah lembut harus tetap dipertahakan. Begitu pula dengan kaum laki-laki dengan keberanian dan kekuatannya harus mampu melindungi para wanita.

Hal lain yang menjadi pengalaman inspirasi guna menggerakkan fungsi kesadaran melalui otak kanan yaitu persoalan waktu. Sebagaimana kita ketahui bahwa, jika kita dihadapkan dengan waktu, selalu saja ngaret. Budaya disiplin dan tepat waktu masih menjadi hantu mengerikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagi orang Jepang tepat waktu merupakan suatu kewajiban dan suatu budaya kedisiplinan yang harus dipegang kuat.

Zahrul Mufrodi pernah mengalami suatu kejadian saat mengurus pencairan beasiswanya pada hari terakhir di Jepang yang diurus oleh Oshin. Kebiasaan orang Jepang dalam disiplin waktu selalu hadir 15 atau 10 menit sebelum waktu yang disepakati. Namun, pada saat pencairan beasiswa itu, Oshin dengan tergopo-gopo menghampiri Zahrul dengan nada memelas, dia minta maaf karena hampir terlambat dari waktu yang ditetapkan. Padahal dia datang tepat pada waktunya (hlm. 23).

Persoalan waktu sepintas memang sangat sepele, namun dampak dari waktu ngaret misalnya, merupakan suatu keadaan yang menyita banyak aktivitas. Di banyak negara, termasuk Indonesia sendiri, kesadaran untuk disiplin dan tepat waktu masih jarang dilakukan. Berbeda dengan Jepang, di sana waktu menjadi roda kehidupan yang mesti ditaati sehingga tak heran jika konsep hidup orang Jepang lebih tertata dan maju. Selain persoalan sepele waktu, sampah juga menjadi bahan sorotan dari catatan dalam kumpulan cerita dan pengalaman dalam buku Sudut Kampus Biru ini.

Kita akan menemukan hal sepele, sederhana, dan seakan tak memiliki pengaruh, namun jika ditelisik lebih tajam dan dalam dampaknya sangat besar dan berbahaya bagi kelangsungan hidup umat manusia. Kumpulan cerita yang lahir dari pengalaman pribadi ini dimaknai secara kreatif dan kritis. Ada skitar dua puluh tiga (23) penulis dengan pengalaman yang berbeda dan pemaknaan yang mengajak kita untuk menyadari kejadian sederhana, biasa, dan bahkan seakan sepele menjadi berharga. Mari kita menyadari hal sepele yang berdampak besar bagi kehidupan dengan memulai tindakan dan antisipasi dari diri sendiri kemudian mengajak orang lain!

* Peresensi Pecinta Baca Buku dan Tercatat Sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

http://eramadina.com/memulai-dari-diri-sendiri/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: