Kemerdekaan dan Wajah Pendidikan Indonesia

Harian Analisa: Rabu, 30 April 2014 halaman 24 dan 28

Cover Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959 (Junaidi Khab)

Cover Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959 (Junaidi Khab)

Judul               : Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959

Penulis             : Suparto Rahardjo

Penerbit           :Garasi House of Book

Cetakan           : V, 2013

Tebal               : 136hlm, 13,5 x 20 cm

ISBN               : 978-979-25-4616-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

“Pemerintah menyatakan bahwa wafatnya Ki Hajar Dewantara merupakan hilangnya seorang pendekar, yang sifat-sifatnya telah memberi kekuatan batin pada perjuangan kemerdekaan politik, kemerdekaan sosial, ekonomi, maupun perjuangan kebudayaan dan keruhanian”. (Soekarno, Presiden RI Pertama).

Sosok Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh fenomenal baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan utamanya dalam bidang pendidikan (keruhanian). Perannya merupakan fondasi bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui dunia pendidikan. Karena dengan pendidikan bangsa Indonesia semakin cerdas sehingga semangat dan kemauan untuk merdeka tumbuh dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan.

Buku molek ini mengajak kita, para kaum nasionalis, dan akademisi untuk kembali menyelami dan merenungi perjuangan Ki Hajar Dewantara pada masa penjajahan Belanda di Hindia. Diharapkan dari renungan ini kita sebagai bangsa Indonesia mampu melanjutkan perjuangannya dalam bidang pendidikan agar bangsa Indonesia tidak lagi terjajah baik secara langsung atau tidak langsung.

Ki Hajar dalam perjuangannya tak cukup mudah dalam dunia pendidikan untuk menuju kemerdekaan. Beliau mengalami banyak hambatan. Misalkan pengasingan karena gagasannya yang mengancam pemerintahan kolonial Belanda. Itu tidak hanya dialami oleh Ki Hajar saja. Namun dua rekannya juga – Cipto Mangunkusumo dan Dowwes Dekker – yang tak luput dari hukuman yang sama (Hal. 15-16).

Pada kesempatan itu, mereka meminta agar diasingkana ke Belanda daripada di pulau Banda. Di sana mereka bisa mempelajari banyak hal daripada di daerah terpencil. Akhirnya, mereka diizinkan ke negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Seorang Penulis

Sosio-historis Ki Hajar Dewantara dalam buku ini memang cukup menarik dan begitu mengagumkan dengan perjuangan-perjuangan yang dilakukannya. Kritik kepada pemerintahan Belanda cukup memberikan ancaman di negeri jajahannya. Namun ilustrasi dan pemaparan peristiwanya masih terkesan tidak dewasa. Seakan tak ada kata dan peritiwa lain lagi yang akan dipaparkan. Beberapa ulasan sejarah kehidupan dan perjuangan Ki Hajar diulang hingga beberapa kali.

Akan tetapi, masih mampu memberikan nuansa catatan ilmiah mengenai siapa dan bagaimana Ki Hajar hidup dan berjuang bersama keluarganya. Ki Hajar semenjak masih bernama Suwardi Suryaningrat banyak menulis di berbagai surat kabar, majalah, dan brosur-brosur serta penerbitan dan lain-lain, yang tersebar di Indonesia maupun Belanda. Bahkan, selama menjalani hukuman pengasingan di Belanda (1913-1919), ia bekerja keras menulis artikel untuk menghidupi keluarganya. Uang yang dikumpulkan dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Indonesia atau Belanda itulah yang kelak membuatnya mampu membiayai perjalanan pulang ke Indonesia tanpa merepotkan orang lain (Hal. 30).

Ki Hajar memulai aktivitas menulisnya di surat kabar seperti Kaum Muda, Utusan Hindia, Tjahaya Timur, dan lain-lain. Ia memang mengawali kiprahnya sebagai seorang penulis muda yang ulet. Tulisan-tulisannya tajam, komunikatif, sekaligus provokatif. Tulisan-tulisan itu juga memantik semangat petriotik bagi siapa pun yang membacanya untuk kemudian berusaha mengusir penjajah. Ki Hajar menjelma penulis andal pada zamannya.

Tulisannya yang terkenal adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Andai Aku Seorang Belanda). Pamflet ini membuat pemerintah kolonial Belanda tersinggung dan murka. Sebab tulisan ini pula Ki Hajar dan rekan-rekannya diasingkan. Ketika diasing bukan malah berhenti menulis, tapi tulisannya makin hari makin tajam dan kritis.

Tulisan-tulisan Ki Hajar tidak serta merta mengkritik pemerintahan kolonial Belanda dan memacu kemerdekaan Indonesia. Namun juga yang dimuat di majalah Wasita memuat tentang pendidikan yang harus didapat oleh bangsa Indonesia. Seperti halnya ide dan gagasan dalam tulisannya tentang konsep, makna dan arah pendidikan bangsa Indonesia. Misalkan seperti: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani (Hal. 74-81).

Sayangnya, dari tiga pemikiran tersebut yang masih tampak kekal hanya Tut Wuri Handayani yang bisa ditemui di topi-topi anak-anak sekolah dasar dan menengah. Hal ini menjadi perhatian bagi kita dan pemerintah agar tetap menjaga semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara. Karena sebab beliau kita bisa melihat pendidikan dan negara Indonesia tercerahkan.

Ulasan dalam buku ini mencakup riwayat singkat hidup Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia dan penggerak kemerdekaan. Yang mana untuk mengawali menuju kemerdekaan Indonesia ia menggunakan media pendidikan sebagai alternatif. Bagaimana kisah romantika, sepak terjang, dan pahit-manis perjalanan dan perjuangan “Bapak Pendidikan Indonesia” ini selengkapnya? Tentu di dalam buku akan bisa ditemukan. Selamat membaca!

* Peresensi adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Silakan kunjungi rumahnya di: http://analisadaily.com/news/read/kemerdekaan-dan-wajah-pendidikan-indonesia/25997/2014/04/30

atau

Bisa dibaca dalam bentuk PDF di: Harian Analisa Rabu, 30 April 2014 Kemerdekaan dan Wajah Pendidikan Indonesia. Semoga bermanfaat. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: