Kaya Seperti Nabi Sulaiman

Era Madina: Senin, 05 Mei 2014

Cover Kaya Seperti Nabi Sulaiman Keistimewaan, Doa, Dzikir Nabi Sulaiman untuk Melancarkan Rezeki (Junaidi Khab)

Cover Kaya Seperti Nabi Sulaiman Keistimewaan, Doa, Dzikir Nabi Sulaiman untuk Melancarkan Rezeki (Junaidi Khab)

Judul               : Kaya Seperti Nabi Sulaiman Keistimewaan, Doa, dan Dzikir Nabi Sulaiman untuk Melancarkan Rezeki

Penulis             : Ahmad Zainal Abidin

Penerbit           :Sabil (DIVA Press)

Cetakan           : I, Januari 2014

Tebal               : 188Halaman

ISBN               : 978-602-255-407-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Menjadi kaya seakan-akan menjadi cita-cita seluruh umat manusia hidup di dunia ini. Dengan kekyaan itu, mereka berharap apa yang menjadi keinginannya bisa tercapai semua. Segala aktivitasnya berjalan dengan lancar semua. Sehingga mereka mencapai pada tingkatan hidup yang makmur, bergelimang harta dan penuh dengan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Sayangnya, kadang ketika mereka menjadi kaya raya, malah bukan kebahagiaan yang didapatkannya, namun kegalauan dan hidup penuh dengan persoalan yang meresahkan.

Menjadi orang kaya yang bahagia, sebenarnya sangat mudah sekali, selama kita masih mengingat dan mematuhi kepada yang telah memberikan kekayaan tersebut. Sebagian besar ketika mereka telah menjadi kaya raya sering lalai beribadah dari mengingat Tuhan Yang Maha Pemberi. Tak heran jika hanya kekayaan belaka yang mereka dapat tanpa kebahagiaan di dalamnya. Maka dari itu, inspirasi menjadi orang kaya raya dengan penuh kebahagiaan dan kemuliaan sangat dibutuhkan agar jiwa kita tak kering kerontang lantaran kekayaan yang menyusahkan.

Kehadiran buku ini di depan para pembaca, bukan hanya sekadar memaparkan kisah tentang kehidupan Sulaiman yang menjadi raja (pemimpin) sekaligus nabi kaya raya sepanjang sejarah umat manusia. Namun, di dalamnya ada inspirasi yang perlu kita teladani dari nabi Sulaiman tentang dirinya yang menjadi kaya raya serta mulia meski cobaan menjadi bmbu penikmat hidupnya untuk terus bersyukur dan mengingat kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Nabi Sulaiman adalah orang yang sangat taat. Ia sangat rajin dalam beribadah. Hingga sesuatu yang hampir mencegahnya dari beribadah langsung ia tarik. Misalkan saat mengurus kuda untuk persiapan peperangannya yang hampir menyebabkan dirinya lupa tidak menyembah Allah Swt. (hlm. 34).

Begitulah tentnag kehidupan nabi Sulaiman dengan kekayaan dan kerajaannya yang luas dan megah. Meskipun dirinya kaya dan menjadi raja segala makhluk, ia tetap tidak pernah melupakan Tuhannya dan segala perintah-perintahnya untuk kebaikan umat manusia di muka bumi ini. Sehingga anugerah yang diberikan oleh Tuhan sangat banyak, mulai dari mukjizat kenabian, sifat kecerdasan dan kebijakan dalam memutuskan suatu persoalan yang melanda kaumnya.

Celah ulasan dalam buku ini sangat tampak jelas, yaitu paparan tentang menjadi orang kaya raya seperti nabi Sulaiman, dengan rezeki melimpah hanya bersandar kepada yang sulit dijangkau oleh akal manusia meskipun sangat dipercaya bagi mereka yang berkeyakinan. Namun, setidaknya juga dipaparkan dengan jelas bahwa menjadi kaya raya harus bekerja untuk mendapatkan rezeki. Karena tidak semua orang memiliki kemampuan meyakini kesuksesan menjadi orang kaya tanpa didahului dengan bekerja sebelumnya. Lalu setelah bekerja diikuti dengan amalan-amalan abstrak/ibadah seperti takwa, tawakal, dan taat kepada Allah Swt. serta kepada kedua orang tua.

Namun meskipun demikian, ada beberapa prinsip dasar yang patut kita jadikan inspirasi dan teladan dari sekian banyak teladan, yang dalam hal ini adalah nabi Sulaiman, itu pun setelah kita melakukan usaha dengan bekerja. Pertama, nabi Sulaiman tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan utamanya. Kedua, lebih mendahulukan ilmu pengetahuan. Ketiga, bertakwa kepada Allah Swt. dalam berbagai situasi dan kondisi. Keempat, tawakkal kepada Allah dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Kelima, beriadah sepenuhnya kepada Allah Swt. Keenam, bersyukur kepada Allah Swt. Ketujuh, memperbanyak membaca istighfar (bertobat/meminta ampun). Kedelapan, berbakti kepada kedua orang tua (hlm. 97-143).

Selain mengingatkan kita tentang harta kekayaan agar tidak menjadi tujuan, juga menganjurkan kepada kita agar harta harus hanya menjadi sebagai sarana beribadah dan berbuat baik dalam kehidupan ini. Jika seseorang menjadikan harta sebagai sarana, maka ia akan menjadikan hartanya sebagai budak dan dirinya sebagai tuan. Ia merasa tenang mengabdi kepada Allah Swt. dan tidak mudah risau, apalagi gundah dan galau oleh persoalan harta. Jalannya juga akan dipermudah oleh Allah Swt. untuk mendapatkan harta.

Buku ini selain mengulas tentang perihal kehidupan nabi Sulaiman yang kaya raya dan menjadi pemimpin segala makhluk di dunia ini, juga memaparkan kunci-kunci kesuksesan dan keberhasilannya. Bukan sekadar paparan tentang kehidupannya yang penuh ketaatan dan ibadah kepada Tuhannya saja, namun kisah-kisah inspiratif kemuliaan dan kebijaksanaannya saat dirinya sebelum dan saat menjadi nabi dan raja. Ada beberapa teladan yang perlu diamalkan oleh umat manusia yang ingin dirinya kaya raya penuh kebahagiaan. Selain itu, buku ini juga memberikan amalan dan doa agar mudah dan lancar dalam mendapatkan rezeki yang semuanya masih ada kaitannya dengan kehidupan nabi Sulaiman yang kaya raya itu.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

http://eramadina.com/kaya-seperti-nabi-sulaiman/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: