Baju Petir

Bangka Pos: Minggu, 16 Maret 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Baju PetirMusim hujan kini baru saja singgah di pangkuan ibu pertiwi. Tanah-tanah tandus terendus aromanya yang khas bumi. Daun kering yang lama melayu, kini mulai melembab kembali. Ayam-ayam beserta anak-anaknya sering terdiam, tubuhnya panas dingin tiada henti. Begitu pula dengan tubuh manusia sendiri. Pancaroba, ya pancaroba yang mengajak mereka merasakan hal baru yang selama ini nanti dan takuti.

Tubuh-tubuh manusia yang sebelumnya terlihat begitu tegar, kini lambat laun berubah sedikit demi sedikit memudar. Wabah pancaroba menyusup ke kulit-kulit dan bulu-bulu yang tak kebal serangan hawa pergantian musim menjadi seperti semak belukar. Obat-obatan dan segala usaha pun menjadi aktivitas oleh tiap jiwa yang menyadari kedatangan awal musim penghujan.

Tubuh Mamat yang montok itu kini harus menahan arus hawa panas-dingin yang menyelimuti kulitnya. Tak satu selimut pun ia kenakan di kala akan menyelami dunia mimpinya. Rumahnya yang terbangun dari berbilah-bilah papan tak menjamin suhu penghuninya. Hanya satu karung goni lusuh yang ia jadikan sebagai istri-istri penghangat tubuhnya.

Martiah yang sudah jompo hanya mengomel saja pada dirinya sendiri di dekat tempat Mamat yang sedang gemetaran. Nenek tua itu tak mampu memberikan yang layak lagi bagi cucunya. Ia hanya membelai-belai tanpa ada hasil penyembuhan. Raut wajahnya selalu muram yang disinari cahaya usia tua dan kerentaan. Rambutnya yang sudah memutih bagaikan orang-orang Eropa yang menjadi gembel.

***

Nasib buruk selama ini yang menimpa tiap tubuh-tubuh sudah mulai berlalu. Mamat mulai tegar kembali. Aktivitas bermainnya dengan teman-teman sebayanya sudah tumbuh mekar bagai bunga melati. Meski awan-awan menampakkan kemurungannya di tengah-tengah bintik-bintik hujan, Mamat kadang masih bersuka ria menikmati taburan titik-titik hujan itu.

Ia sering dimarahi oleh Martiah dengan suaru bagaikan petir yang sudah hampir kehabisan tenaga halilintarnya. Namun, jiwa kekanak-kanakannya tak mampu menangkap maksud kegusaran sang nenek. Padahal di balik kegusaran itu tersimpan makna kasih sayang yang sangat mendalam. Tapi, Mamat tak mampu memahaminya. Ia hanya seorang anak kecil yang tak memiliki kesadaran penuh tentang sebuah nasihat yang dibalut dengan seruan bak guntur di malam hari itu.

Begitu pula, ia tak menyadari dirinya yang sudah tak mempunyai ibu dan bapak. Neneknya ia pun tak memahami sebagai apa baginya dalam keseharian hidupnya. Ia benar-benar tak mengerti tentang kehidupan yang dijalaninya. Ibunya meninggal saat menjadi TKW ke Arab Saudi. Bapaknya yang rajin bekerja tanpa mengenal menyerah itu meninggal hangus terbakar petir saat membajak di tengah sawahnya. Mulanya Suad dilarang oleh Martiah agar tak membajak dengan baju terbalik. Namun ia tak menghiraukannya.

Sebagaimana kepercayaan masyarakat Martiah, mereka yang mengenakan baju atau pekaian terbalik di saat musim hujan, akan mudah disambar petir. Begitulah yang menimpa Suad, bapak Mamat. Tubuhnya gosong berwarna kebirua-biruan dan kecoklatan dengan kepulan asap dari kulitnya yang retak.

“Mat, kamu kalau main jangan hujan-hujanan dengan baju terbalik”. Martiah dengan suara parau dan mulutnya tersumbat daun sirih dan rempah-rempahnya mencoba menasihati cucuk satu-satunya dan kesayangannya.

“Kenapa nek?”.

“Dulu ayahmu meninggal karena memakai pakaian terbalik saat membajak di sawah, lalu disambar petir”.

“Namanya, baju petir”. Imbuh Martiah saat suaranya terputus lantaran nafasnya lemah.

“Kok bisa nek”.

“Itulah kepercayaan nenek moyang kita sejak dulu”.

Mamat hanya terdiam mendapat jawaban Martiah yang tak sempurna itu. Sejenak Martiah meludahkan liurnya yang merah penuh lendir-lendir bercampur sirih-pinang. Dengan tubuh ditopang sebilah tongkat bambu peninggalan Suad ia kembali mendekat di mana Mamat tiduran.

“Begini loh Mat, petir juga tak mau melihat perilaku orang yang tidak pantas”.

“Termasuk mengenakan baju petir”. Katanya lagi menyambung nasihatnya.

Masyarakat menyebut baju yang dipakai terbalik dengan julukan baju petir. Ya, baju petir. Sedikit demi sedikit Martiah mulai membuka sirih-pinangnya yang sejak tadi menyumpal mulutnya. Kita semua sudah tahu, termasuk ayahmu tentang perihal itu. Namun ayahmu itu tak menghiraukannya. Baju satu-satunya ia pakai bekerja bersama para tetangga. Karena malu bajunya yang jelek, ia memakianya dengan terbalik. Di saat hujan mulai muram, ada kilatan petir yang langsung menyelinap di balik tubuhnya.

Martiah menyapu titik air matanya yang mengalir tanpa dirasa sejak tadi. Wajah anak semata wayangnya yang disambar petir kembali hadir dalam hidupnya. Mamat yang sejak tadi tiduran, kini pindah ke pangkuan Martiah. Kehidupan keluarga Suad dan Martiah hanya sebatangkara. Hidupanya pas-pasan. Untuk membeli baju saja bagaikan dililit ular yang beracun dan mematikan. Sehingga dengan terpaksa melanggar adat dan kepercayaan. Suad memakai bajunya terbalik, agar tampak baru di hadapan para teman kerjanya. Ternyata maut yang menyaksikan usahanya.

***

“Mat, kita meski tak punya apa-apa, jangan sampai melakukan yang tak patut kita kerjakan”.

“Iya nek”.

“Itu sebabnya ayahmu meninggal. Memakai yang tak sepantasnya. Kepercayaan nenek moyang kita telah diamalkan bertahun-tahun. Hanya ayahmu yang tak betah dengan keadaannya yang tak punya ini”.

Nasihat Martiah yang sering ia lagukan saat pagi menyapa, ketika sore tiba, dan di kala malam berlabuh disambut mesra oleh anggukan Mamat. Rasa bangga dalam hatinya yang tiada terkira tatkala cucunya selalu manut bagaikan hamburan mutiara di atas sutera warna pelangi.

Di hari yang penuh dengan taburan capung-capung, Mamat dan teman-temannya berlarian dan bekejaran untuk menangkap capung-capung itu. Burung-burung walet yang juga berpesta pora dengan kehadiran capung-capung menamani Mamat dan teman sebayanya. Seketika itu juga, awan-awan gelap menyelimuti angkasa. Mamat dan teman-temannya menuju sebuah gubuk kecil di pinggiran jalan dengan baju masih dipegang untuk menyikut capung-capung yang terbang dengan lucunya.

Hujan deras mengguyur gubuk kecil yang ditumpangi Mamat dan teman sebayanya. Baju yang sejak tadi disikut-sikutkan pada capung dikenakan kembali oleh Mamat. Tanpa sadar ia mengenakannya terbalik karena terburu cuaca yang cepat berganti gelap dan dingin.

Suasana dingin yang bergelantungan di bulu-bulu kulit dan rambut mereka makin lama makin menjadikan mereka gemetaran. Tiba-tiba keadaan menjadi terang bercahaya bagaikan tanpa awan yang sejak tadi memayungi bumi. Tak lama kemudian setelah tampak keadaan yang bercahaya, Mamat bagai disambar aliran listrik beribu-ribu wat. Tubuh mungil itu langsung terkapar ke jerami yang dijadikan tempat mencari kehangatan. Tubunya biru, bajunya robek dengan bekas bakar, rambutnya yang menegang penuh dengan asap bagaikan rokok yang baru saja dihisap.

Teman-temannya berlarian luntang-lantung. Mereka takut. Mereka khawatir dikira membunuh Mamat. Saim, satu di antara mereka yang lebih dewasa melapor ke Martiah. Dengan tubuh lunglai Martiah terjatuh pingsan dengan sirih yang nyumbul dari mulutnya. Kini cucu satu-satunya yang menjadi tambatan hidupnya diambil oleh Tuhan. Orang-orang langsung mendatangi gubuk yang Mamat dan teman-temannya jadikan tempat berteduh dengan petunjuk Saim.

Baju petir itu penyebabnya. Hati yang berbunga kini berlalu seketika. Martiah tinggal sebatang kara. Hidupnya hanya ditemani tongkat bambu ukir buatan Suad. Sesekali ia dijenguk tetangganya. Lebih-elbih saat dirinya terbaring sakit. Matanya yang sudah berair itu terus menatap masa depan yang tak secerah saat bersama Mamat. Sirih, pinang, dan rempah lainnya mulai ia tinggalkan. Lantaran tak ada yang mau mengambilkan untuk dikunyah di kala iseng dengan kesendiriannya. Waktu terus berlalu menemani guyuran salju kerentaan Martiah tanpa lembaran sirih dan bongkahan pinang dan rempah-rempah campurannya.

Bojonegoro, 19 Januari 2014

* Cerpenis Tinggal di Surabaya dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

http://bangka.tribunnews.com/2014/03/16/baju-petir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: