Merekam Jejak Sang Revolusioner RI

Jawa Pos: Minggu, 09 Maret 2014

Tan Malaka Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah (Junaidi Khab/Jawa Pos)

Tan Malaka Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah (Junaidi Khab/Jawa Pos)

Judul               : Tan Malaka Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah

Penulis             : Maskur Arif Rahman

Penerbit           : Palapa (DIVA Press)

Cetakan           : I, November 2014

Tebal               : 298 Halaman

ISBN               : 978-602-279-083-9

Peresensi         : Junaidi Khab*

Tan Malaka sebagai tokoh yang hidup pada masa penjajahan Belanda dan dirinya berupaya untuk menemukan jalan kemerdekaan bagi rakyat Hindia Belanda. Namun dirinya tak pernah disebutkan dalam jajaran naman-nama pahlawan kemerdekaan atau revolusiner pada pelajaran-pelajaran sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Mungkin ada unsur kesengajaan oleh pemerintah Orde Baru yang ingin menutup nama perintis Partai Komunis Indonesia (PKI) tersebut. Akibatnya, nama Tan Malaka hilang begitu saja, bak ditelan bumi.

Pada Selasa, 28 Januari 2014 Jawa Pos menurunkan berita tentang penemuan pusara Tan Malaka setelah dieksikusi di Kediri, Jawa Timur. Bukti sampel yang tersisa setelah penggalian pada 12 November 2009 di Solopanggung, Kediri, tinggal 0,25 gram serpihan gigi dan 1,1 gram serpihan tulang.

Penemuan sampel tersebut menarik perhatian dunia. Karena itu, dalam pertemuan Asian Forensic Science Network pada 25-27 Mei 2011 di Seoul, Korea Selatan (Korsel), kasus tersebut dibahas. Korsel bersedia membantu tim forensik Indonesia untuk mengekstraksi DNA kerangka Tan Malaka meski tidak berani memastikan keakuratannya karena umur sampel sudah 60 tahun.

Jawa Pos Minggu, 9 Maret 2014 Merekam Jejak sang Revolusioner RI oleh Junaidi Khab (Jawa Pos)

Jawa Pos Minggu, 9 Maret 2014 Merekam Jejak sang Revolusioner RI oleh Junaidi Khab (Jawa Pos)

Sejak kematian Tan Malaka yang dieksekusi itu, namanya terus melegenda. Dia menjadi buah bibir tentang kehidupan dan gerakannya dalam memimpin masyarakat agar terbebas dari kaum kolonial dan negara yang menganut sistem imperialisme-kapitalisme pada masa itu. Buku ini hadir di tengah-tengah kita untuk melacak sepak terjang Tan Malaka sebagai pahlawan revolusioner Republik Indonesia (RI) dalam mencapai kemerdekaan rakyat yang tertindas. Sebagaimana perjuangannya untuk menghilangkan jurang yang dalam antara kaya-miskin, dan borjuis-proletar (hlm. 48).

Kini nama Tan Malaka (Ibrahim: nama kecilnya) mulai bangkit kembali seiring sinar terang yang menyinari perjuangan dan ketulusannya dalam membela rakyat dan tanah air ini. Usaha Arif Rahman ini perlu kita apresiasi dalam upayanya menyibak peran Tan Malakan bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Kisah Tan Malaka mulai sejak kecil, pemikiran, gerakan-gerakan, pengalaman, hingga prosesi eksekusi kematiannya disajikan dengan bahasa yang lugas dan ringan, sehingga mudah untuk dipahami.

Tan Malaka Dibuang

Kita diajak agar jangan sampai menutup sebelah mata tatkala menengok ke belakang tentang perjuangan Tan Malaka. Dia memang beraliran komunis, namun tak seperti komunis Jerman. Komunisnya berhaluan nasionalis-revolusiner di Indonesia. Dia memang penggerak kaum komunis (PKI). Namun, dirinya bukan salah satu seorang otak dari pemberontakan PKI yang terjadi pada tahun 1926-1927 (hlm. 169).

Karena usaha dalam memperjuangkan rakyat yang tertindas oleh kaum kolonial, dia mendapat berbagai macam ancaman dan hukuman (penjara) yang berulang-ulang lantaran ide yang menantang pemerintahan Belanda di Batavia (Jakarta). Pada 1922, Tan Malaka ditangkap. Rencananya, dia dibuang ke Flores. Tapi, dia sendiri mengusulkan agar dibuang sebagai tahanan politk di negeri Balanda.

Di sana, dari jauh, Tan Malaka memulai rencananya untuk membebaskan rakyat Hindia Belanda dari perbudakan kaum kolonial.

Meski begitu, buku ini tetap tak mampu menarasikan perjuangan Tan Malaka secara urut dan runtut. Misalnya, buku ini dibuka dengan perjuangan Tan Malaka sejak kecil hingga masuk dunia pendidikan, mencapai pendidikan tingkat tertinggi di Hindia Belanda. Di pembukaan itu, juga disebutkan kontroversi kematian Tan Malaka. padahal, di bagian akhir, kematian tersebut kembali diulas.

Betapa pun, sejarah tetap mampu membuktikan lewat karya ini bahwa Tan Malaka punya jasa begitu besar bagi negeri ini. Nasionalismenya –yang disalurkan pada paham komunisnya- mampu menarik simpati rakyat Indonesia. Karena itu, dia disomasi pemerintah kolonial Belanda agar menghentikan gerakannya tersebut. Tan Malaka dinilai melemahkan posisi kaum kolonial saat itu.

Tak heran, Tan Malaka lantas mendapat berbagai halangan dan kesulitan dalam menggerakkan rakyat agar punya pengetahuan, juga hasrat untuk bebas dari penjajahan.

Junaidi Khab Wakil Direktur Gerakan Sunan Ampel Menulis; mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Junaidi Khab
Wakil Direktur Gerakan Sunan Ampel Menulis;
mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Buku ini secara keseluruhan mengangkat kisah perjalanan hidup dan perjuangan Tan Malaka, seorang pahlawan yang sempat dilupakan oleh bangsanya sendiri. Ia menghabiskan hidupnya dalam pelarian, dibuang ke berbagai negara, sebagai tahanan politik pada masa itu, dipenjara berpindah-pindah, lantas mendapat eksekusi di tanah air yang selama ini dicintainya.

Tak banyak orang yang tahu bahwa Tan Malaka, dalam pelariannya yang panjang, membawa napas perjuangan Merdeka Seratus Persen bagi bangsa Indonesia melalui pemikiran-pemikiran dan gerakannya. (*)

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis dan Sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses dan dibaca lebih lanjut di: Jawa Pos Minggu, 9 Maret 2014 Merekam Jejak sang Revolusioner RI oleh Junaidi Khab Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: