Menyimak Sihir Syair Imam Syafi’i

Santri News: Selasa, 11 Maret 2014

Untaian Senandung Diwan Imam Syafi’i (Junaidi Khab)

Untaian Senandung Diwan Imam Syafi’i (Junaidi Khab)

Judul               : Untaian Senandung Diwan Imam Syafi’i

Penulis             : Dr. Imil Badi’ Ya’qub

Penerbit           : al-Furqan (Pustaka Pelajar)

Cetakan           : I, Januari 2014

Tebal               : 460 halaman

ISBN               : 978-602-17708-7-0

Peresensi         : Junaidi Khab*

“Begadangku untuk menelaah ilmu terasa lebih nikmat daripada bertemu penyanyi dan keharuman leher mereka. Sungguh, goresan penaku di atas kertas lebih nikmat daripada bercinta bersama para pecinta. Tabuhan rebana para gadis, masih kalah nikmat dengan kenikmatan aku memukul bukuku untuk membersihkan debunya. Kegundahanku untuk memecahkan masalah dalam belajar jauh lebih nikmat daripada para pemabuk khamer (Diwan Imam Syafi’i).

Kata-kata adalah racun sekaligus sihir bagi pendengarnya. Dengan kata-kata indah yang memukau, seseorang bisa terlena dan hanyut di kedalaman tiap gelombang huruf-huruf dan ejaannya. Bukan hanya WS Rendra – penyair ulung Indonesia – yang mampu menyihir para pendengarnya. Juga bukan Arya Dwi Pangga yang dengan kata-katanya mampu menyihir Mei Shin hingga tak sadarkan diri, sehingga dirinya diperkosa olehnya akibat racun kata-katanya.

Jauh sebelum WS Rendra dan Arya Dwi Pangga yang pandai mengolah huruf menjadi kata-kata dan kalimat yang meracuni pendengarnya, Imam Syafi’i jauh lebih dalam dan menenggelamkan kata-kata dalam setiap bait ombak hurufnya. Imam Syafi’i bukan hanya seorang ilmuwan dan ahli fikih saja, tapi dirinya juga penyair dengan kata-katanya mampu menyihir setiap pembacanya, hingga mereka tenggelam dalam keindahan bait-bait setiap kata dan kalimatnya.

Buku Untaian Senandung Syair Diwan Imam Syafi’i ini merupakan sebuah kumpulan serumpun karya Imam Syafi’i yang ditulis lalu diberi sebuah respon pemaknaan dari syair-syair penuh sihir tersebut. Misalkan dalam syair tentang bersabar, di dalamnya menyiratkan sebuah makna bahwa kita sebagai manusia harus sabar dengan segala keadaan yang kita hadapi di dunia ini. Dengan sabar itulah kita akan sukses, menang, dan mulia di kemudian hari (hlm. 35).

Jika ditelaah satu per satu isi syair Imam Syafi’i selalu memberikan motivasi dalam menjalani hidup ini agar tidak pernah putus asa. Utamanya mengenai mencari ilmu sebagai upaya persiapan diri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan persaingan. Bukan kata-kata sihir yang mengajak manusia kepada kemaksiatan seperti halnya para remaja sekarang. Mereka berhasil membuat syair-syair indah, namun syair itu hanya sebatas peluapa emosi dari rasa cinta terhadap lawan jenisnya. Sedikit kita temukan makna motivasi di dalam bait syair remaja saat ini kecuali tentang cinta dan kenikmatan nafsunya belaka.

Hal ini yang membedakan dengan syair-syair karya Imam Syafi’i yang lebih mengutamakan kebersahajaan, kesabaran, kemuliaan dan keselamatan hidup dunia-akhirat. Salah satu bait syairnya tentang keutamaan ilmu yaitu; Tidak ada yang pandai terlahir/ Yang berilmu tak akan sama dengan orang pandir. Seorang tokoh kaum yang tak berilmu/ Mengecil ketika orang banyak bertemu. Orang yang kecil namun banyak ilmunya/ Ketika pertemuan jadi pembersarnya. Jangan rela hina hidup di dunia/ Hanya mewaris tinggalan orang lama (hlm. 288).

Betapa ilmu sangat berharga bagi kehidupan umat manusia. Dengan ilmu manusia bisa menjadi insan yang lebih mulia dari pada manusia yang lainnya, derajatnya akan ditinggikan oleh Allah Swt. sebagaimana firmannya di dalam al-Quran surah al-Mujadalah ayat 11 bahwa orang-orang yang beriman dan berilmu derajatnya akan diangkat (ditinggikan). Maka tak heran jika Imam Syafi’i dalam syairnya tersebut mengutamakan agar kita belajar dan memiliki ilmu.

Cuma sayangnya, buku syair semacam ini untuk saat ini sudah kurang diminati oleh kalangan masyarakat dan santri modern karena lirik-liriknya yang kurang sesuai dengan zaman sekarang. Memang ada kalangan orang yang masih menyukai semacam bait atau lirik syair ini, namun hanya bisa dihitung dengan jari tangan. Namun, jika kita membicarakan pesan moral, isi bait atau syair dalam buku ini akan menjamin kehidupan kita akan lebih baik.

Begitulah kiranya perbedaan antara karya syair lama dengan karya syair modern. Syair lama lebih banyak ditulis sesuai keadaan hidup manusia pada saat itu dan menginspirasi pembacanya untuk melakukan perbuatan yang mulia. Namun, mayoritas jika syair yang berbau modern selalu menggambarkan perasaan pribadinya saja tanpa melihat sisi sosial yang sedang terjadi. Meskipun ada juga maish harus dihitung dengan jari tangan saja. Di dinilah kekurangan syair modern dengn syair lawas seperti karya syair Imam Syaifi’i yang berhasil diterjemajkan ini.

Buku ini merupakan salah karya Dr. Imil Badi’ Ya’qub yang mengulas tentang keagungan syair-syair Imam Syafi’i. Ada banyak mutiara kehidupan yang bisa ditemukan dalam tiap bait syair di dalam buku ini. Mulai dari tentang kerelaan dengan segala apa yang diberikan oleh Allah Swt., mengutamakan ilmu dan akhlak (perilaku) mulia di antara sesama manusia, menjauhi meminta-minta karena hal tersebut termasuk pekerjaan hina, meninggalkan segala macam keburukan, dan sabar dalam setiap menghadapi segala sesuatu. Bait-bati di dalamnya akan mampu menggugah, menginspirasi, memtivasi, dan menyihir para pembaca untuk menatap masa depan kehidupan ini agar lebih baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses dan dibaca di: http://www.santrinews.com/Buku/1083/Menyimak-Sihir-Syair-Imam-Syafi-i

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: