Menerangi Hati dengan Amal Saleh

Era Madina: Senin, 03 Maret 2014

Buku Saku Penyejuk Kalbu Panduan Spiritual Agar Hatimu Lebih Terang Lebih Tenang (Junaidi Khab)

Buku Saku Penyejuk Kalbu Panduan Spiritual Agar Hatimu Lebih Terang Lebih Tenang (Junaidi Khab)

Judul               : Buku Saku Penyejuk Kalbu Panduan Spiritual Agar Hatimu Lebih Terang Lebih Tenang

Penulis             : Syekh Tosun Bayrak al-Jerrahi

Penerjemah      : Dr. Zaimul Am

Penerbit           : zaman

Cetakan           : I, 2013

Tebal               : 208 Halaman

ISBN               : 978-602-1791-99-8

Peresensi         : Junaidi Khab*

“Tuhan selalu hadir, meskipun tidak terlihat. Tidak terlihat karena tidak ada mata yang sanggup melihat-Nya. Apabila kau menatap matahari, kau akan terbutakan, tetapi kau dapat memandang purnama untuk menyenangkan hati. Apa yang kau lihat pada bulan hanyalah pantulan cahaya matahari. Seperti itu pulalah cahaya Tuhan dipantulkan kepada Nabi Kekasih-Nya. Apabila kau ingin melihat cahaya Tuham dalam kehidupan ini, lihatlah keindahan Nabi-Nya, serta perbuatan dan kata-katanya yang keluar dari bibirnya yang diberkahi” (Syekh Tosun Bayrak al-Jerrahi, 2013:125).

Eksistensi perilka fisik atau (anggota) badan seseorang itu merupakan suatu representasi dari hati yang orang itu sendiri. Jika hati seseorang kotor, gelap, atau penuh dengan dosa, maka yang tampak pada kondisi fisik dan perilaku orang tersebut tak lain hal-hal hina dan kegalauan hidup. Namun, jika hati seseorang itu bersih, bening, terang, dan tanpa dosa, maka kondisi fisiknya akan tampak cerah, seakan tak memiliki kerisauan dan kemelut hidup dalam kehidupan sehari-harinya. Maka dari itu, kebersihan, kesucian, dan kebercahayaan hati itu sangat diutamakan.

Panduan buku ini sangat tepat sebagai penuntun untuk menerangi dan membersihkan hati yang gelap dan kotor. Membersihkan dan menghidupkan kembali hati merupakan kewajiban terpenting pada perjalanan spiritual ini, sebab hati adalah raja alam wujud. Seluruh wujud kita tunduk secara mutlak kepada perintah raja tersebut. Rasulullah Saw. bersabda, “Ketahuilah, ada segumpal darah di dalam tubuhmu, jika ia sehat, niscaya seluruh raga akan sehat, jika ia rusak, maka seluruh raga akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah hati” (hlm. 149).

Hati sebagai pengendali dari anggota tubuh manusia ini perlu kiranya dimodifikasi dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Hal demikian dilakukan demi menjaga stabilitas anggota tubuh dan perilaku yang akan dihasilkannya agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Jika hati sebagai pengendali laju anggota tubuh tak mampu mengimbangi antara yang baik dan yang buruk, maka jiwa ini akan terjatuh kepada kerugian dan marabahaya, yaitu dosa dan siksa, baik siksa sosial, dunia, maupun akhirat kelak. Maka, sekiranya sangat penting mengontrol keadaan hati sebagai pengendali dari segala anggota tubuh kita ini agar selalu bersih dan tetap tangguh meski terus menerus digunakan.

Urgensitas Akhlak

Langkah pertama dan terpenting untuk menghidupkan kembali dan menyembuhkan hati yang sakit adalah adab (akhlak/perangai/perilaku), perilaku yang terpuji. Perilaku dan perangai merupakan sifat yang melalui jati diri seseorang menjadi nyata. Mendidika dan mengubah perilaku dan perangai seseorang adalah mungkin. Semua ketentuan, hukum, ajaran agama, wirid, dan ibadah merupakan sarana untuk mencapai tujuan itu. Seperti halnya pada segala sesuatu yang lain, keberhasilan adalah sesuai denan kemampuan, bakat, dan watak yang dikaruniakan kepada seseorang.

Membersihkan al-nafs – hawa nafsu – dari enam puluh delapan kehinaan yang disebutkan berikut ini merupakan awal adab yang baik, yang menjadi bagian utama Islam dan tasawuf, yaitu; rasa bangga terhadap tingkatan spiritual, mengharapkan pujian, sombong, iri hati, kikir, dendam, tidak beriman, bertentangan dengan agama dan sunnah, tidak tahu berterima kasih atau menyia-nyiakan karunia, tidak lapang dada dan mengeluhkan keadaan, dan seterusnya (hlm. 170).

Secara tidak langsung sebenarnya bukan hanya perilaku yang memiliki peran untuk membersihkan dan menyucikan hati. Akan tetapi, hati juga memiliki peran yang sama untuk mengatur perilaku agar tetap baik dan mulia di muka bumi ini. Sejatinya antara hati dan perilaku memiliki keterikatan yang harus bisa saling dikondisikan agar dua hal ini bisa berjalan imbang dan berirama. Namun, yang memiliki pengaruh kuat hanya hati sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah Saw. bahwa jika hati sehat, maka seluruh jiwa akan sehat, namun bila hati rusak, maka seluruh jiwa akan ikut rusak. Mesin pengendali tubuh dan jiwa adalah hati. Maka dari itu, hati harus dibersihkan dan discuikan dengan berbagai hal positif.

Buku ini akan memberikan beberapa bimbingan bagi kita semua tentang tatacara membersihkan hati dari segala kotoran dosa dan perilaku maksiat agar pancarannya mampu memberikan nilai positif dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Di dalamnya ditawarkan jalan keselamatan sebagaimana yang ditempuh oleh para kekasih Allah Swt., yaitu para nabi dan rasul-Nya di masa silam.

* Peresensi adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Bisa diakses dan dibaca lebih lanjut di: http://eramadina.com/menerangi-hati-dengan-amal-saleh/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: