Membina Kerukunan di Tempat Rantau

Rima News: Jumat, 21 Februari 2014

Cewek-Cewek Kos Satu Rumah Seribu Cerita (Junaidi Khab)

Cewek-Cewek Kos Satu Rumah Seribu Cerita (Junaidi Khab)

Judul               : Cewek-Cewek Kos satu rumah seribu cerita

Editor              : Yozar Firdaus Amrullah

Penerbit           : PING!!! (DIVA Press)

Cetakan           : I, November 2013

Tebal               : 192 Halaman

ISBN               : 978-602-7968-20-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

Salah satu tujuan hidup manusia yang sangat urgen yaitu mencari suatu kerukunan dan kebahagiaan menghadapi dunia yang fana ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia melakukan berbagai macam cara. Mereka beranggapan bahwa uang bisa menjadikan hidup ini bahagia dan rukun. Sehingga tak jarang di antara kita berlomba-lomba untuk bekerja. Hanya untuk mendapatkan uang. Padahal uang tidak menjamin suatu kerukunan maupun kebahagiaan seseorang. Buktinya banyak orang kaya yang bunuh diri dan selalu mengeluh serta dipusingkan oleh kekayaannya.

Ada yang mencari kebahagiaan dengan cara melanjutkan pernikahan, berleh-leha tanpa banyak kerja alisa jadi pengangguran, mencuri, membunuh seseorang, menenggak cunkrik, dan yang mulia yaitu menempuh pendidikan. Yang mana tujuan terebut tak lain demi mencari kerukunan dan kebahagiaan hidup. Namun terkadang cara yang kita tempuh salah. Padahal kita bisa membedakan cara yang baik dan buruk. Seperti melalui jalur pendidikan di perantauan sebagai bekal kelak untuk menemukan hakikat kerukunan dan kebahagiaan hidup.

Buku novel remaja ini merupakan sebuah wahana inspirasi tentang cara kita menemukan suatu kerukunan, kebahagiaan, dan kenyamanan hidup. Di dalam novel ini dikisahkan tentang enam belas (16) karakter yang berbeda-beda satu rumah kos. Mulai dari yang masih sekolah, pemiliki kos, hingga yang duduk di bangku kuliah menjadi tokoh utama masing-masing. Tidak ada tokoh yang ditonjolkan dalam novel remaja ini sebagai inspirasi menemukan ketenteraman dan kebahagiaan hidup.

Dikisahkan, hanya Sedah dan Tika yang memiliki rasa sayang dan peduli terhadap teman kos yang lainnya. Misalkan ketika Sedah sebagai penghuni kos baru tersebut dikerjain Anna dan Julie yang sangat usil jika ada pendatang baru. Pada suatu malam Anna dan Julie menakut-nakuti Sedah. Namun pada akhirnya mereka ketahuan saat beraksi sebagai hantu-hantuan. Yang terjadi setelah peristiwa tersebut malah memaafkan mereka berdua. Sungguh mulia hati Sedah. Sedang Tika menasehati Anna dan Julie agar tidak mengulangi perbuatannya lagi (hlm. 37).

Akhirnya Anna dan Julie menyalami Sedah. Karena Sedah anaknya baik, dia dengan sukarela menerima permintaan maaf keduanya. Memang seperti inilah seharusnya anak-anak kos dalam perantauannya. Meskipun karakter tiap orang berbeda, semuanya mesti saling sayang dan saling perhatian. Selanjutnya mereka semua bertepuk tangan dan tertawa. Namun, bukan persoalan memberikan maaf bagi yang salah. Tapi bagaimana yang salah itu menyadari dan meminta maaf atas perbuatan yang menjadikan temannya jengkel.

Sungguh membuka hati yang gelap untuk saling memberikan kasih dan sayang sesama teman agar kerukunan dalam perantauan bisa dijaga. Kerukunan dalam pernatauan hakikatnya menjadi representasi hidup di masa mendatang. Selain itu harus ada pembatasan hak milik antar anak kos yang satu dengan yang lainnya. Misalkan tidak sembarang membawa milik seseorang dengan alasan meminjam tapi tidak bilang terlebih dahulu kepada pemiliknya. Ini akan menimbulkan keadaan yang akan memicu konflik dan degradasi dalam suatu komunitas. Misalkan kasus yang menimpa Anna memakai sandal baru Icha tanpa ijinnya sampai rusak. Sehingga ia harus bertanggung jawab penuh dan mendapat cibiran dari teman-teman kosnya yang lain (hlm. 68).

Cukup menarik dan inspiratif pesan yang disampaikan dalam novel remaja ini. Karakter mulia Icha yang penyabar, Sedah yang penuh kasih sayang, dan Tika sebagai senior kosan terebut yang penuh perhatian, nasehat, dan jiwa dewasa harus menjadi cerminan bagi kita semua. Atau Anna dan Julie yang usil dan bikin teman-teman kosnya jengkel namun mudah meminta maaf dan berdamai meski pada akhirnya juga tetap menjengkelkan. Begitulah cermin kehidupan yang digambarkan dalam novel remaja ini.

Sayangnya, novel remaja ini tidak mampu memberikan sosok tokoh yang menjadi aktor utama. Memang seharusnya ada aktor atau bintang utamanya sebagai penghuni kosan dari berbagai daerah yang berbeda. Sebagaimana disebutkan memang seperti itu. Tidak ada tokoh utamanya dalam penceritaan novel remaja ini. Selain itu pula, buku ini kurang jeli dalam pneyuntingannya, atau bisa disebut tidak disunting dengan saksama karena ada kata yang masih ambigu karena kekurangan satu kata yang semestinya  bersanding namun tidak dituliskan.

Meskipun demikian, pembaca tidak usah ragu tentang kualitas, isi, dan pesan yang terkandung di dalam novel remaja ini. Sungguh inspiratif sekali kisah-kisahnya untuk mebangun kerukunan dan keharmonisan hidup dalam perantauan. Bahkan bukan hanya inspisari di perantauan, tapi dalam kehidupan rumah tangga, dan kehidupan lainnya karkater penyang, penyabar, dan pemaaf perlu ditekankan.

Buku tentang kisah perantauan dalam satu kos ini tidak menyajikan bagian-bagiannya melalui daftar pustaka yang memudahkan pembaca untuk menemukan halaman bab-bab yang diinginkan. Tapi hanya langsung terdiri dari pengenalan tokoh berikut karakternya, dan langsung masuk ke bagian judul inti cerita. Dalam buku terdiri dari dari enam (6) judul tanpa daftar isi. Sehingga pembaca sedikit kesulitan untuk menemukan halamannya.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Bisa diakses lebih lanjut di: http://www.rimanews.com/read/20140220/143693/membina-kerukunan-di-tempat-rantau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: