Kritik atas Pancasila yang Dianggap sebagai Pilar

Rima News: Senin, 24 Februari 2014

Mahakarya Rakyat Indonesia Renungan Kritis Pancasila Sebagai Pilar Bangsa (junaidi Khab)

Mahakarya Rakyat Indonesia Renungan Kritis Pancasila Sebagai Pilar Bangsa (junaidi Khab)

Judul               : Mahakarya Rakyat Indonesia Renungan Kritis Pancasila Sebagai Pilar Bangsa

Penulis             : Hayono Isman

Penerbit           : LKiS

Cetakan           : I, 2013

Tebal               : xii + 142 halaman; 14,5 x 21 cm

ISBN               : 978-979-5388-8

Peresensi         : Junaidi Khab*

Semenjak awal kita sudah tahu dan meyakini bahwa Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa Indonesia memiliki kekuatan tertentu sebagai bentuk simbol kenegaraan dan cerminan bangsa Indonesia. Dengan adanya dasar Pancasila itulah negara Indonesia bisa berdiri dan berdikari. Melalui ketentuan-ketentuan yang tertanam di dalam Pancasila, hakikatnya hal tersebut mencerminkan keadaan dan eksistensi bangsa Indonesia yang majemuk dengan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Yakni bangsa Indonesia meyakini serta memeluk satu agama dan beribadah menurut kepercayaan mereka masing-masing tanpa intervensi dari pihak manapun.

Kumpulan esai dalam buku ini merupakan sebuah bentuk kemelut Hayono Isman dalam memandang kekurang-tepatan jika memosisikan Pancasila sebagai pilar, seperti yang digagas oleh Taufiq Kiemas dan disosialisasikan secara massif oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Karena jika Pancasila disebut sebagai pilar, semestinya ada fondasi lain di luar Pancasila yang menopang segala sesuatu yang ada di atasnya.

Empat pilar kebangsaan yang digagas oleh Taufiq Kiemas mengasumsikan adanya suatu fondasi lain yang tentunya bukan Pancasila, dan hal itulah yang membingungkan, apa sebenarnya fondasi keempat pilar tersebut bisa berdiri tegak dan kokoh jika Pancasila dianggap sebagai pilar? Tentunya jika Pancasila dijadikan sebagai salah satu pilar negara Indonesia, hanya Taufiq Kiemas yang bisa menjelaskan lebih mantap dan jernih mengenai eksistensi dasar bangsa dan negara Indonesia.

Program MPR tersebut memang sesuai dengan tugas yang diamanatkan oleh Undang-Undang nomor 27 tahun 2009, untuk melaksanakan agenda pemantapan kehidupan berbangsa dan bernegara melalui sosialisasi empat pilar seperti yang digagas oleh Taufiq Kiemas. Yaitu: Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Jika kita lihat dari proses kesejarahan Pancasila, tidak tepat jika Pancasila dijadikan sebagai salah satu pilar kebangsaan, tetapi lebih tepatnya kita jadikan sebagai ideologi serta dasar bangsa dan negara kita. Dan ini berarti bahwa Pancasila adalah fondasi negara, penopang empat pilar kebangsaan. Hal tersebut dengan alasan bahwa rumusan-rumusan calon dasar negara yang diajukan oleh founding fathers kita bukanlah sekadar rangkaian kalimat dengan kata-kata indah, malainkan sebuah bentuk dari hasil kerja keras dalam menggali nilai-nilai fundamental yang berada dalam kehidupan masyarakat Indonesia (Hal. 22).

Bahkan Ade Firmansyah (2011:124) menyatakan bahwa perbedaan ini (perdebatan antara kaum nasionalis sekuler dan kaum penganut ideologi Islam) terus berlangsung. Namun, setelah Soekarno menjabarkan tentang konsep nasionalismenya, berakhirlah perdebatan tersebut. Soekarno menawarkan konsep yang bertujuan untuk tidak menimbulkan perpecahan. Maka kompromi pun diambil, tercapailah kesepakatan bersama sebagaimana terumuskan dalam Piagam Jakarta. Di dalamnya disepakati bahwa Pancasila merupakan dasar negara. Selain itu dicantumkan pula rumusan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Pendapat tersebut dengan tegas menyatakan bahwa Piagam Jakarta menghasilkan Pancasila sebagai dasar negara. Jika Pancasila sebagai ideologi serta dasar bangsa dan negara Indonesia, tentu ada pilar-pilar lain yang mampu menopang negara Indonesia. Lebih lanjut Hayono Isman (2013:34-65) menyebutkan bahwa tepatnya empat pilar yang berdiri di atas Pancasila dan menjadi penyanggah negara Indonesia yaitu; Proklamasi 17 Agustus 1945, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Selain Hayono Isman menegaskan pendapatnya dalam buku ini, dengan alasan dan ulasan yang cukup jelas serta kritis pada program yang telah diselenggarakan oleh MPR, secara tidak langsung dia kurang sepakat bahkan tidak setuju pada gagasan Taufiq Kiemas jika Pancasila dijadikan dan dianggap sebagai salah satu pilar negara Indonesia. Ulasan dalam ini masih bisa dianggap meragukan akibat cara penulisan yang merendah dan kurang meyakinkan. Karya ini hanya sebatas pendapat saja tanpa memaksakan pembaca meski ditopang oleh beberapa referensi yang valid dan akurat dengan kesejarahan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia. Namun secara halus dan lembut pendapat Hayono Isman menyadarkan kita bahwa Pancasila bukan bagian dari empat pilar, namun Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia yang seakan dikebiri oleh Taufiq Kiemas pada saat sosialisasi empat pilar.

Pandangan kritis ini merupakan sebuah konsep dan wacana baru bagi MPR agar tidak sembarangan dalam menjalankan tugas dan kiprahnya sebagai wakil rakyat. Pembelajaran untuk lebih berwawasan dan lebih cerdas di kalangan MPR dan wakil rakyat yang lain sangat perlu diorientasikan dan dijadikan sebagai paradigma baru. Di sinilah introspeksi diri sangat diperlukan, karena introspeksi diri merupakan cermin kesuksesan dalam menjalankan amanah dan wewenang juga demi menjaga semangat nasionalisme dan keutuhan bangsa Indonesia yang majemuk ini introspeksi diri perlu menjadi cerminan hidup.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Bisa diakses lebih lanjut di: http://www.rimanews.com/read/20140224/144328/kritik-atas-anggapan-pancasila-sebagai-pilar-bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: