Dongeng dan Peran Orang Tua Bagi Anaknya

Rima News: Senin, 03 Maret 2014

Tentang Cerita Anak (Junaidi Khab)

Tentang Cerita Anak (Junaidi Khab)

Judul               : Tentang Cerita Anak

Penulis             : Sugihastuti

Penerbit           : Pustaka Pelajar

Cetakan           : III, Agustus 2013

Tebal               : 128 halaman

ISBN               : 979-8581-55-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Pergeseran yang berangsur-angsur dari kebudayaan yang bersifat oral ke arah kebudayaan yang makin dikuasai oleh tulisan sedang terjadi. Pergeseran ini merupakan suatu proses panjang yang berliku-liku. Orang tua misalnya, sebagai tukang cerita amatir atau profesional, yang paling dekat dengan anak-anaknya, kini kehilangan keududukannya yang sentral dalam memlihara tradisi kelisanan. Orang tua sekarang tidak harus mendongeng demi menghibur anak-anaknya, buku sudah menjadi wakil yang cukup mendominasi di era modern saat ini.

Tradisi lisan bergeser ke tradisi tulis. Ada sesuatu yang hilang dalam pergeseran tradisi ini. Selain hilannya figur pencerita di depan mata dan telinga, hilang juga stilized tertentu yang tidak didapati dalam tradisi tulisan. Misalkan gaya-gaya oral pencerita yang formulaik, skematis, dan menemonic patterned tidak dapat ditemukan dalam buku cerita. Ini sangat dikhatirkan terus terjadi sehingga mengurangi keakraban orang tua dengan anak-anaknya di waktu senggang.

Bukan hanya hilangnya banyak ciri dan gaya kelisanan, namun juga yang lebih terasa adalah munculnya erosi atau tiadanya fungsi sosial seperti yang dikandung dalam tradisi keliasanan. Anak-anak yang getol membaca buju cerita itu tidak lagi berkomunikasi lisan dengan orang lain, baik dengan sesama audience maupun denan tukang cerita yang ada di hadapannya (hlm. 6-7).

Buku ini hadir di tengah-tengah kita untuk mengupas lebih jauh lagi tentang karya sastra tulis yang sudah memasyarakat di kalangan anak. Banyak majalah anak-anak dan remaja menyebar dan dibaca oleh kalangannya. Anak-anak yang sudah asing dengan dongeng lisan kini dapat menikmati cerita dalam bentuk teks tertulis, baik yang dimuat di majalah maupun yang dibukukan. Kebijakan penerbit untuk menerbitkan cerita anak dari negara asing ditempuh oleh penerbit dalam negeri.

Buku masih dinilai memberikan kemesraan antara anak dan orang tua sebagaimana tradisi cerita lisan. Anak-anak (usia 3-9 tahun) yang perlu dilatih berimajinasi melalui bacaan selayaknya ditemani. Dijalin kemesraan antara orang tua dan nak. Dulu kemesraan itu diwujudkan dengan dongeng lisan. Apa kini dongeng-dongen itu sudah dibukukan, maka dongeng itu perlu dibacakan. Dengan demikian, pembacanya pun masih diperlukan agar terjadi kontak kemesraan (hlm. 30).

Dongeng

Dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi. Namun, anak-anak bisa terhibur dan bisa mengambil hikmah dari dongeng yang ia dengar. Dongeng sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak-anak usia dini. Namun sayangnya, dongeng sekarang sudah berganti, dari lisan menjadi tulisan. Padahal, dongeng dengan budaya lisan itu lebih bermanfaat daripada dongeng tulisan. Dongeng yang dilisankan oleh ibu-ibu bisa mengakrabkan dan menjalin hubungan baik dengan anak-anaknya.

Dengan penuh kasih sayang si ibu membacakan cerita bagi anaknya. Selain ciri persuasif bacaan itu sendiri, ada berbagai bentuk sivilisasi muncul dalam proses pembacaan cerita anak oleh ibunya. Dalam perjalanan cinta kasih ibu kepada anak melalui proses pembacaan cerita, jalinan emosi yang kuat dan amat kompleks secara fisik mengembang ke segi sosial dan kultural (hlm. 35)

Sedangkan dongeng versi tulisan jika tidak dengan pengawasan orang tua, bisa menjadikan anak-anak bersifat individual dan membentuk mental acuh tak acuh untuk mendengarkan orang lain. Maka dari itu, dongeng versi tulisan harus dengan bimbingan orang tua (ibu). Sesekali ibunya yang menceritakan isi dongeng dalam tulisan tersebut, sesekali pula biarkan anak-anak membacanya sendiri. Cara tersebut cukup edukatif dan bisa menanamkan kebiasaan mendengarkan nasehat orang lain.

Silakan baca buku ini Tentang Cerita Anak bagaimana orang tua dan anak menjalin hubungan yang baik melalui dongeng. Buku ini hadir sebagai upaya untuk menyadarkan para orang tua untuk meningkatkan rasa kasih sayangnya melalu cerita-cerita inspiratif meskipun hanya sebatas mendongeng. Kesadaran membacakan cerita atau mendongeng dari sebuah buku harus menjadi acuan utama bagi orang tua, guru, dan para pendidik. Itu tak lain sebagai upaya menjalin keakraban antara anak dan orang tua. Tanpa diimbangi cara dan metode demikian, mental anak akan lebih liar dan sulit dikendalikan seiring pertumbuhannya.

Dengan maraknya buku-buku terbitan baru yang berisi cerita-cerita anak dan dongeng sejatinya akan membentuk pribadi individualistis bagi anak komunikasi sudah semakin jarang jika sudah berteman dengan buku. Maka dari itu, panduan dari orang tua seperti sedikit membacakan sanga diperlukan guna mencetak generasi yang berjiwa sosialis dan meu mndengarkan orang lain.

* Peresensi adalah Penikmat Buku, Tinggal di Surabaya.

Bisa diakses dan dibaca di: http://www.rimanews.com/read/20140303/145669/dongeng-dan-peran-orang-tua-bagi-anaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: