Belajar Bisnis dari Nabi Muhammad SAW

Era Madina: Jumat, 28 Februari 2014

Bisnis ala Nabi Teladan Rasulullah Saw. dalam Berbisnis (Junaidi Khab)

Bisnis ala Nabi Teladan Rasulullah Saw. dalam Berbisnis (Junaidi Khab)

Judul               : Bisnis ala Nabi Teladan Rasulullah Saw. dalam Berbisnis

Penulis              : Mustafa Kamal Rokan, S.H.I., M.H.I.

Penerbit           : bunyan

Cetakan           : I, November 2013

Tebal               : xxxiv + 258 hlm.; 20,5 cm.

ISBN               : 978-602-7888-67-8

Peresensi         : Junaidi Khab*

Cita-cita menjadi seorang pengusaha atau pebisnis merupakan suatu keinganan mulia yang harus benar-benar ditekuni untuk mewujudkannya. Dengan berwirausaha, kita bisa memperoleh penghasilan untuk melangsungkan kehidupan ini secara independen tanpa harus bergantung pada pendapatan untuk memperoleh bayaran. Selain itu, menjadi pengusaha merupakan sarana sukses menjadi orang yang kaya raya.

Berbeda dengan menjadi seorang pegawai yang pendapatannya tidak independen. Jika ada seorang pegawai bisa menjadi kaya, perlu ditanyakan lagi hasil kekayaannya itu darimana? Namun, jika seorang pengusaha menjadi orang yang kaya itu wajar dan lumrah karena usahanya itu tuhan memberikan penghasilan yang lebih banyak daripada bayaran bulanan. Namun, jadi pengusaha atau pebisnis juga harus memerhatikan etika-etika dalam berbisnis agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Ada aturan dan moral yang harus diamalkan dalam dunia bisnis agar hasil yang kita dapatkan tidak menjadi petaka bagi kehidupan kita sendiri.

Misalkan dengan meniru cara dan metode bisnis nabi Muhammad Saw. Beliau menerapkan tiga dalam teori ekonomi atau bisnis. Pertama, Ekonomi harus dibangun atas dasar as trust (kepercayaan, kejujuran) yang menjadi value dirven busness (nilai berjalannya bisnis). Dasar inilah yang menjadikan Muhammad berhasil dan dikagumi oleh semua pedagang dan konsumen. Kedua, dalam ekonomi mikro, yakni dalam sistem pasar, Muhammad mengeluarkan teori pasar dengan memberi rambu untuk menjaga pasar agar tidak terdistorsi. Ketiga, sistem konsumsi, produksi, dan distribusi. Muhammad Saw mengajarkan sistem konsumsi yang egaletarian. Bahkan, anjuran konsumsi tidak hanya dibatasi pada kebutuhan pokok saja, tetapi juga mencakup kesenangan dan bahkan barang mewah, tentu dengan batasan-batasan yang halal, baik, dan tidak berlebih-lebihan (hlm. 23-25).

Nabi Muhammad Saw. dalam urusan berbisnis, berwirausaha, atau berdagang merupakan ahli yang pantas untuk kita beri acungan jempol. Beliau adalah bisunessman yang hebat. Bayangkan, sejak berusia dua belas (12) tahun ikut pamannya (Abu Thalib) untuk berdagang ke negeri Syam. Sejak dari itu ia selalu sukses dalam menjalankan dagangannya milik saudagar kaya (Siti Khatijah). Tak ada hal yang ia lakukan dalam berdagang, kecuali kepribadian mulainya yang diandalkan. Dalam berbisnis misalkan beliau adil, jujur, tak pernah curang dengan melakukan berbagai manipulasi terhadapa barang dagangannya. Sehingga tak heran jika para konsumen dan produsen mengagumi cara dan metode berdagangnya saat itu.

Selain itu, nabi Muhammad Saw. merupakan orang yang pandai dalam melakukan kerja sama dengan pemilik modal. Dalam hal ini pemilik modalnya adalah Siti Khadijah. Sehingga, Siti Khadijah dengan mudah memberikan kepercayaan kepada nabi Muhammad Saw. untuk menjalankan barang dagangannya. Begitulah kemudian dalam Islam, Allah juga memberi seperangkat alat kontrak yang dapat dilakukan oleh manusia dalam menciptakan sistem keuangan sebagaimana marak dalam ekonomi modern saat ini. Namun, dalam sistem kerja sama ini tetap memerhatikan kejujuran dan keadilan (hlm. 191)

Hal semacam itu yang disampaikan oleh penulis buku ini guna menjadi seorang pebisnis yang andal, sukses, dan menguntungkan. Meski di dalam buku ini tidak dijelaskan secara rinci tentang ekonomi modern yang terjadi pada saat ini. Namun, secara tidak langsung, penulis sebenarnya ada keinginan untuk mengatakan bahwa nabi Muhammad tidak hanya beribadah seperti solat, berdzikir, dan berdoa terus menerus. Beliau sebagai utusan Allah Swt. juga melakukan usaha dengan berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena beliau tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Inilah mungkin inisiatif beliau untuk berdagang demi menyambung hidupnya.

Buku ini mampu menjelaskan secara gamblang ihwal kiprah dan cara nabi Muhammad Saw. dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan krisi ekonomi saat itu, termasuk di antaranya persoalan pasar dan monopoli. Menariknya, penulis buku ini juga mampu menarik kisah dalam konteks kekinian, di antaranya persoalan kartel dan penimbunan barang (hoarding). Karena itu, buku ini sangat penting dimiliki oleh para pembaca yang ingin mengetahui ekonomi Islam secara lebih mendalam baik ekonomi modern atau lampau berdasarkan teori dan metode bisnis ala nabi Muhammad Saw.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Bisa diakses lebih lanjut di: http://eramadina.com/belajar-bisnis-dari-nabi-muhammad-saw/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: