Mencicipi Cerpen Satu Bahasa Dua Rasa

 Koran Jakarta: Kamis, 27 Februari 2014

Mencicipi Cerpen Satu Bahasa Dua Rasa (Junaidi Khab/Koran Jakarta)

Mencicipi Cerpen Satu Bahasa Dua Rasa (Junaidi Khab/Koran Jakarta)

Judul Buku :    Antologi Cerpen Indonesia-Malaysia
Penerbit     :    Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan Institut Terjemahan & Buku Malaysia
Tahun        :    November, 2013
ISBN          :    9-789794-618608
Tebal          :    xxviii + 302 halaman
Harga        :    Rp70.000,00

“Secara ras dan bahasa, Indonesia dan Malaysia adalah serumpun, punya akar yang sama: Melayu. Bahkan rumpun Melayu juga berada di berbagai negara kawasan Asia Tenggara: Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, dan Filipina.

Para sastrawan negara-negara itu membentuk tali persaudaraan dan melestarikan identitas Melayu yang dinamakan Sastra Serumpun. Agendanya, menerbitkan karya bersama (cerita pendek maupun puisi) dan menyelenggarakan pertemuan setiap tahun. Karya-karya yang diterbitkan menggunakan Bahasa Melayu khas negara masing-masing (hal xiv).”

Kata Pembuka dari Yayasan Obor Indonesia itu, secara tak langsung, menginformasikan cerpen ini berbahasa dan berasa Melayu. Corak Melayu yang digunakan penulis Malaysia relatif lebih kuat dibanding penulis Indonesia. Bahasa Indonesia berlatar Melayu tapi telah banyak berkembang hingga cenderung tidak sekental aslinya.

Jadi, meski cerpen-cerpen disusun berselang-seling, pembaca mudah menebak asal negara penulis tanpa menyimak biografinya. “Tersebab itu, penduduk kota sentiasa ghairah meraikan kehadiran penduduk baharu. Sebaik sahaja ada penduduk kota yang disapa khabar bakal kehadiran orang baharu, ibu mengandung dan keluarganya akan diraikan dalam majlis keraian secara besar-besaran. … (Epal daripada Sepotong Fikiran, hal 24).

“Aroma dupa yang lamat, lampu yang temaram. Kamar dengan jendela dan pintu tertutup, tapi seakan ada angin dingin yang melewatiku. Desisan dan erangan membuat telingaku terjaga. Lalu suara langkah mendekat, langkah yang terburu-buru (Bukankah Tungtung Tidak Akan Pernah Mati?, hal 42).

Antologi Cerpen Indonesia-Malaysia yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia bersama Institut Terjemahan dan Buku Malaysia ini memuat 20 cerpen penulis pilihan, 10 karya penulis Indonesia dan 10 Malaysia.

Tidak semua penulis berprofesi penuh sebagai sastrawan-wati. Beberapa di antaranya dosen, guru, dan wartawan. Tema yang disajikan pun sangat bervariasi. Kisah-kisah menarik dengan beragam setting tempat dan waktu. Ada juga berlatar tradisi, legenda, sejarah, dan kecintaan pada tanah air.

“Apa salah aku menyukai Soe Gio? Pertanyaan itu sering menghantui. Apanya yang salah ketika aku menerima cintanya, cinta anak pedagang kain batik di pasar Purwodadi itu. Gio pernah mengatakan tidak bisa memilih dilahirkan di dunia ini sebagai keturunan Jawa, Tionghoa, atau bangsa apa pun,” demikian potongan karya Soesi Sastro berjudul Lampion Merah dan Oncor (hal 5-20).

Tulisan itu mengisahkan cinta dua budaya: Jawa dan Tionghoa. Rekaan penulis Indonesia ini menuturkan kekuatan tradisi dua budaya menjadi batu sandungan cinta sejati dua anak manusia. Kisah cinta beraroma misteri itu memakai beberapa setting tempat, dari desa atau kota di Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Jerman.

Periaku untuk Ibu Pertiwi karya Mohd Ali Salim dari penulis Malaysia adalah cerpen berlatar sejarah penjajahan Inggris di Malaysia. Sang tokoh digambarkan rela mati demi tanah air tercinta. “… Air mata itu bukan bermakna kesal. Sedih itu akibat dipicit oleh rindu dan sayang kepada keluarga yang akan ditinggalkan. Dia bersedia menghadapi hari esok, 2 Mac 1950, hari kematiannya. Matinya seorang peria sebelum hilang mudanya untuk ibu pertiwi yang belum merdeka (hal 84).

Tidak hanya memiliki benang merah yang menyatukan, cerpen-cerpen dalam antologi ini juga mengangkat kearifan budaya lokal Indonesia dan Malaysia. Para penulis tak hanya menyampaikan pengalaman menarik, namun juga mengenalkan seluk-beluk budaya dan karakter manusia dari beragam suku bangsa. Pembaca dari kedua negara dapat belajar dari tetangga.

Diresensi oleh: Margareta Dwi Prihatining, lulusan Unika Soegijapranata, Semarang.

 Bisa diakses di: http://koran-jakarta.com/?6767-mencicipi%20cerpen%20satu%20bahasa%20dua%20rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: